Ilustrasi mata. Freepik
Ilustrasi mata. Freepik

Mengenal Mata Silinder dan Cara Mengatasinya

Renatha Swasty • 25 Juni 2022 08:24
Jakarta: Mata silinder atau dikenal dengan istilah medis astigmatisme adalah gangguan refraksi mata yang menyebabkan penglihatan menjadi kabur. Silinder terjadi ketika kornea memiliki lengkungan permukaan yang berbeda satu sama lain.
 
“Astigmatisme adalah kelainan refraksi yang menyebabkan kabur, tetapi distorsi. Distorsi itu garis yang harusnya lurus jadi bengkok atau patah-patah. Untuk mengembalikan bentuknya ke dalam yang benar, bisa memakai lensa, nah lensanya ini namanya lensa silinder,” kata dr. Sagung Gede Indrawati dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam Bincang-bincang Santai Raisa Radio dengan topik “Mata silinder: mengapa bisa terjadi?” dikutip dari laman ugm.ac.id, Sabtu, 25 Juni 2022.
 
Sagung menjelaskan silinder dibagi dua macam, yaitu silinder internal dan silinder eksternal. Silinder internal disebabkan oleh jaringan-jaringan di dalam bola mata seperti lensa dan syaraf, baik posisi lensa yang miring, maupun bentuk lensa yang tidak elips atau tidak sempurna.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal ini merupakan bawaan dari lahir. Sedangkan, silinder eksternal disebabkan oleh kornea. Kornea seseorang seluruh lingkarannya simetris, tidak akan silinder, bisa jadi hanya minus atau normal. Namun, jika seluruh lingkaran itu tidak simetris, ada bagian yang flat atau lebih cembung, seseorang tersebut menderita asigmatisme atau perlu kacamata silinder.
 
“Kenapa bisa jadi seperti itu? Karena bisa jadi anak waktu dilahirkan itu sempurna, namun dalam masa pertumbuhan, bola mata juga berubah bentuk, pertumbuhan itu tidak simetris, sehingga yang pada lahir awalnya simetris, tetapi pada saat pertumbuhan, bola mata jadi berubah bentuk. Pertumbuhan itu tidak simetris karena bertumbuh secara tidak bersamaan di daerah kornea, maka dia menjadi tidak simestris dan menjadi silinder,” papar Sagung.
 
Sagung menyebut ada pula silinder yang disebabkan faktor pencetus ketika dewasa. Faktor pencetus tersebut misalnya terdapat luka di kornea yang membuatnya harus dijahit dan terdapat infeksi di kornea dan membuat penyembuhan kornea tidak mulus lagi.
 
Dia menyarankan orang dengan mata silinder memeriksakan ke dokter mata agar penanganan lebih akurat. Pemeriksaan melalui optik menggunakan alat autorefractometer bukan patokan untuk menentukan hasil kacamata yang dibutuhkan, apakah mata minus, silinder, atau kombinasi.
 
Sagung menyebut sebagian besar alat itu juga tidak terkalibrasi. Kalaupun terkalibrasi alat tersebut tidak bisa membaca fungsi mata manusia.
 
“Memang beberapa pasien melakukan pemeriksaan di optik. Itu bukan salah, tetapi hasil kacamata yang diperlukan, apakah dia minus, apakah dia silinder, atau kombinasi, itu tidak melulu ditentukan oleh alat yang dibaca. Apalagi pada anak-anak, lebih banyak error-nya. Mesin komputer tidak selalu menggambarkan, jadi harus dilakukan ke pasien langsung, tidak boleh mengandalkan angka yang tercantum pada mesin tersebut,” tutur Sagung.
 
Baca: Mengenal Kondisi dan Penyebab Buta Warna
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif