Mendikbud Sebut tak Semua Generasi Y Itu Milenial

Husen Miftahudin 21 Maret 2018 13:09 WIB
pendidikan
Mendikbud Sebut tak Semua Generasi Y Itu Milenial
Mendikbud Muhadjir Effendy berdialog dengan sejumlah siswa saat meresmikan pusat kegiatan belajar mengajar di KBRI Kuala Lumpur, Kamis 1 Maret 2018, Ant - Agus Setiawan
Jakarta:Menteri Pendidikan dan Kebudayan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mempertanyakan alasan anak-anak Indonesia yang terlahir (Generasi Y) pada awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an disebut sebagai generasi milenial dan digital. Padahal tidak semua Generasi Y Indonesia melek terhadap teknologi dan digital.

"Mungkin anak-anak yang ada di kota iya (disebut sebagai generasi milenial), tapi tidak bagi anak-anak yang ada di Asmat (Papua), Pegunungan Bintang (Papua), dan Kepulauan Aru (Maluku). Dan jumlah mereka itu jauh lebih banyak dibanding generasi milenial (anak-anak kota) itu," ujar Muhadjir di SMA Pangudi Luhur 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 20 Maret 2018.


Berbicara pendidikan, Muhadjir meminta agar tidak membandingkan pencapaian pendidikan Indonesia dengan negara lain. Sebab kondisi demografis dan geografis Indonesia jauh berbeda dengan negara-negara yang ada di dunia.

"Karena itu kalau kita bicara Indonesia jangan bandingkan dengan negara kecil yang mudah menangani (pendidikannya), karena jumlah siswa mereka tidak sampai satu juta. Ini yang kadang-kadang kita bias menilai dengan membandingkan negara tetangga yang jumlah siswanya enggak sampai 500 ribu," papar dia.

Saat ini jumlah pelajar Indonesia ada sebanyak 51 juta, sementara guru ada sebanyak 3,7 juta dan jumlah sekolah sebesar 415 ribu. "Jadi kalau mau membandingkan dengan negara tetangga yang penduduknya hanya 5 juta, itu memang sangat tidak setara," ketus Muhadjir.

Di sisi lain, Indonesia memiliki jumlah penduduk sebanyak 250 juta jiwa. Punya sekitar 17.000 pulau, permasalahan pendidikan di Indonesia tidak bisa terselesaikan hanya dengan kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Kita punya 17.000 pulau yang 70 persennya dihuni oleh penduduk, mereka butuh pendidikan dan tak boleh diabaikan. Jadi kalau membandingkan (capaian pendidikan), bandingkan saja dengan Jakarta karena penduduknya sudah lebih dari 12 juta," ungkapnya.

Maka itu Muhadjir meminta seluruh pihak bersama-sama membangun pendidikan di Indonesia, baik pihak pemerintah maupun swasta. "Maka itu dengan banyaknya uluran tangan kepada pendidikan, maka semakin mudah untuk memajukan pendidikan di Indonesia ini," tukas Muhadjir.

Persoalan pendidikan juga diminta tidak dibebankan pada Kemendikbud semata. Sebab sektor pendidikan saling berkaitan dengan sektor-sektor lainnya.

"Itulah problem pendidikan di Indonesia yang tidak mungkin hanya ditangani oleh Menteri Pendidikan. Harus bicara dengan PUPR tentang sarana dan prasarana, Menteri Pertanian, Menteri Kesehatan karena berkaitan dengan asupan gizi. Kita tidak mungkin mencerdaskan anak sementara gizinya tidak cukup dan kekurangan gizi," tutup Muhadjir.



(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id