Ketika Mendikbud Imami Salat Magrib Guru PGRI
Mendikbud Muhadjir Effendy menjadi Imam Salat Magrib bersama puluhan guru anggota PGRI. Foto: Medcom.id/Citra Larasati
Jakarta:  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy didaulat menjadi Imam dari puluhan guru anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) saat salat Magrib di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) PGRI. 

Suasana petang itu tidak hanya menyejukkan, namun juga menggambarkan hubungan yang sebenarnya harmonis antara Mendikbud sebagai perwakilan pemerintah dan PGRI yang meski dalam berbagai kesempatan sering kali saling melempar kritik membangun bagi pendidikan.


Muhadjir yang sebelumnya dijadwalkan hanya sebentar saja hadir dan memberi sambutan di acara Rakornas PGRI justru menjadi lupa waktu, dan larut dalam dialog membangun antara Kemendikbud dan organisasi guru terbesar yang memiliki sekitar tiga juta anggota itu.

"Sore ini saya harus segera ke Majalengka, untuk persiapan mendamping Pak Presiden besok," kata Muhadjir sebelum memberi sambutan, di Gedung Guru, Jakarta, Rabu, 23 Mei 2018.

Namun setelah tiba sekitar pukul 16.45 WIB, Muhadjir justru baru meninggalkan Gedung Guru tiga jam kemudian, yakni pukul 20.00 WIB.  Setibanya di Gedung Guru, Muhadjir langsung meninjau PGRI Smart Learning Center (PSLC) yang ada di lantai 3 gedung yang berlokasi di jalan Tanah Abang III no.24 itu.

Setelah itu, Muhadjir turun menuju ruang auditorium utama di lantai I, untuk memberikan sambutan yang dijadwalkan tidak lama itu.  Sambutan tersebut sempat terpotong waktu Magrib, kemudian berbuka dan menunaikan salat Magrib, bersama puluhan guru yang hadir.

"Bapak Ibu, kita akan menunaikan salat Magrib bersama. Pak Menteri akan menjadi Imam, mari kita segerakan untuk mengambil wudu," seru Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi.

Para guru yang tengah berbuka pun antusias untuk ikut salat Magrib bersama. Semuanyaburu-burumeletakkan mangkuk takjil, dan bergegas mengambil wudu.

Selepas salat, Muhadjir kembali melanjutkan pertemuan dengan membuka sesi dialog yang disambut antusias oleh para guru.  Berbagai tema mengemuka saat dialog, mulai dari bagaimana peran guru yang harus adaptif merespon perubahan, pengangkatan guru honorer, pembayaran tunjangan, sampai pada harapan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini, agar para guru mengambil bagian dari peran sebagai pemersatu bangsa dan mengindari ujaran kebencian.

"Jadi jika ada guru yang tersandung masalah karena ujaran kebencian, maka saya berharap tiga juta guru lainnya belajar dari kejadian itu," tutup Muhadjir.

Muhadjir menghadiri Rakornas PGRI didampingi Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Didik Suhardi, dan Plt. Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud, Hamid Muhammad.




 



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id