Guru Besar Bidang Ilmu Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Hendy Hendarto, dr., Sp.Og(K). Foto: dok Unair.
Guru Besar Bidang Ilmu Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Hendy Hendarto, dr., Sp.Og(K). Foto: dok Unair.

Guru Besar Unair Kaji Sel Punca Atasi Ketidaksuburan

Pendidikan penelitian
Intan Yunelia • 28 Desember 2019 03:20
Jakarta: Universitas Airlangga (Unair) kembali mengukuhkan guru besar ke-113 pada Kamis, 26 Desember 2019. Prof. Dr. Hendy Hendarto, dr., Sp.Og(K) menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran (FK).
 
Dalam pidatonya, Hendymemaparkan orasi ilmiah megenai bayi tabung sebagai teknologi terkini untuk mengatasi infeltirisasi (ketidaksuburan). Guru Besar FK tersebut menjelaskan, masyarakat Indonesia sering menyalahkan penyebab infertilisasi pada pihak perempuan. Padahal, laki-laki dan perempuan memiliki risiko yang sama besarnya yaitu 40 persen.
 
"Ada bias gender di masyarakat kita. Kalau ada pasangan suami istri yang susah memiliki anak, pasti yang banyak disalahkan adalah pihak perempuan," kata Hendy di siaran pers yang diterima Medcom.id, Jumat, 27 Desember 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara faktorinfeltirisasidi luar masalah non medis adalah kondisi lingkungan, pola hidup, obesitas, dan usia. Menurutnya, usia juga mempengaruhi siklus ovalasi pada perempuan sehingga menyebabkan penurunan kesuburan.
 
"Ini perlu diperhatikan, usia pada perempuan itu menjadi yang paling kritis saat menginjak usia 35 tahun. Sel telur pada perempuan itu sudah mengalami penurunan kualitas, dan kalau stres jangan makan banyak-banyak nanti obesitas yang menyebabkan penurunan kesuburan," ujar Hendy.
 
Terkait bayi tabung, ialah salah satu teknik fertilisasi in vitro yang merupakan salah satu teknik dalam teknologi reproduksi. Teknik ini dapatmembantu mengatasi permasalahan infertilisasi pada pasangan suami istri. Ia menjelaskan, perkembangan bayi tabung pertama kali dilakukan pada 1970-an di Inggris.
 
Di Indonesia sendiri baru dilakukan pada 1987 di RSAB Harapan Kita. Dan pada 1992 lahir bayi tabung pertama di RSUD Dr. Sutomo Surabaya bernama Ken Kinasih.
 
Perjalanan panjang perkembangan bayi tabung sudah lebih dari 40 tahun, namun teknologi ini menelan biaya cukup tinggi. Tingginya biaya pada bayi tabung disebabkan oleh biaya pemeriksaan awal, obat-obat stimulasi ovarium, dan peralatan laboratorium FIV.
 
Penggunaan teknologi yang canggih dan pemakaian obat yang mahal menyebabkan pelayanan bayi tabung tidak mudah diakses, walaupun kebutuhannya mengalami peningkatan signifikan.
 
"Sebagai informasi, kami telah melakukan penelitian penggunaan sel punca (stem cell) darah menstruasi untuk mengatasi kegagalan ovarium pada model tikus, dengan harapan nantinya ini bisa diterapkan pada manusia sehingga kegagalan ovarium yang menyebabkan tidak bisa mendapatkan keturunan secara permanen bisa diatasi," pungkasnya.
 

(HUS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif