Alat pengolahan sampah menjadi energi alternatif penghasil listrik. Foto: ITS/Humas
Alat pengolahan sampah menjadi energi alternatif penghasil listrik. Foto: ITS/Humas

ITS Kembangkan Pengelolaan Sampah Jadi Listrik

Pendidikan Riset dan Penelitian
Muhammad Syahrul Ramadhan • 14 Januari 2020 14:09
Jakarta: Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Ridho Hantoro ST MT mengembangkan metode pengolahan sampah menjadi energi alternatif penghasil listrik. Metode ini dikembangkan melalui penelitian berbasis Hydrothermal Carbonization.
 
Ridho mengungkapkan, metode ini ia kembangkan guna menjawab permasalahan penumpukan sampah di Indonesia yang terus meningkat. Terlebih lagi di kota-kota besar.
 
Penelitian ini berjudul Studi Pembangkitan Energi melalui Pengolahan Sampah Kota (MSW) dengan proses Hydrothermal Carbonization (HTC) dan Gasifikasi. Penelitian itu terinspirasi dari konversi nilai energi dan banyaknya sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Salah satunya di TPA Putri Cempo di bawah Pemerintah Kota Surakarta. Ridho sendiri dalam penelitiannya fokus menggunakan metode HTC dan Gasifikasi. Ia menjelaskan, hasil proses Hydrothermal Carbonization akan digunakan sebagai bahan baku gasifikasi dan gas engine untuk memproduksi listrik.
 
“Metode ini keunggulannya mampu meningkatkan nilai kalori material sampah dalam bentuk padatan, sekaligus mengurangi massa sampah secara signifikan pada prosesnya,” jelas Ridho dikutip dari laman ITS, Jakarta, Selasa,14 Januari 2020.
 
Dosen Departemen Teknik Fisika ITS ini menjelaskan, pada prosesnya limbah dipisahkan dari logam dan material toksik yang ada, lalu dimasukkan ke dalam reaktor HTC. Kemudian dalam kondisi saturasi tetap harus dikontrol berada di 23 bar menyesuaikan kondisi dan komposisi karakteristik sampah.
 
“Bisa sampah plastik atau sampah organik seperti sayur-sayuran, limbah rumah tangga, plastik, kertas, dan lainnya,” jelas Ridho.
 
Prosesnya, lanjut pria 44 tahun ini, berlangsung empat sampai sepuluh jam dan terbentuk bubur karbon (char). Setelah itu char tadi dihilangkan kadar airnya, lalu dikeringkan dan menjadi briket.
 
Briket yang sudah dikeringkan dimasukkan ke dalam gasifier, dan didapatkan metana murni yang di-treatment. Selanjutnya, dimasukkan ke dalam gas engine atau motor bakar yang akan menghasilkan listrik seperti halnya genset.
 
“Apabila dalam pemanfaatan limbah menjadi biogas akan dihasilkan gas organik, tetapi hasil yang dikeluarkan dari gasifier akan berupa gas sintetik (syngas),” jelasnya.
 
Jebolan S3 Teknik Kelautan ITS ini menyebutkan, bakal melanjutkan penelitiannya dalam bentuk prototipe. Ia berharap hasilnya bisa memberi kontribusi dalam menyelesaikan permasalahan sampah kota.
 
“Selanjutnya saya akan meneruskan penelitian ini dengan membuat prototipenya, lalu mencoba mengaplikasikannya,” tandasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif