Dalam upacara sakral tersebut, ada satu atribut yang wajib dan tidak boleh ditinggalkan: baju toga wisuda lengkap dengan topi perseginya.
Secara universal, pakaian longgar berwarna hitam ini diakui sebagai simbol prestasi akademik tertinggi. Namun, di balik penggunaannya yang terkesan seremonial, baju toga menyimpan filosofi mendalam, sejarah ribuan tahun, serta metafora intelektual yang jarang disadari oleh para pemakainya.
Toga bukan sekadar pakaian formal, melainkan sebuah selubung kehormatan yang menandai transisi besar dari seorang penuntut ilmu menjadi seorang sarjana yang siap mengabdi pada masyarakat.
Asal-Usul Toga, Dari Pakaian Fungsional Romawi Kuno hingga Atribut Akademik
Secara etimologi, kata toga berasal dari bahasa Latin, yaitu "tego", yang berarti penutup. Meski kini lekat dengan dunia perkuliahan, sejarawan mengungkap bahwa toga pertama kali muncul di era Romawi Kuno, jauh sebelum universitas pertama di dunia didirikan. Pada abad ke-1 Masehi, toga merupakan pakaian sehari-hari yang bersifat formal dan fungsional bagi warga negara Romawi. Pada masa awal perkembangannya, toga berbentuk potongan kain wol panjang berkisar antara 3,7 hingga 6 meter yang disampirkan di atas tunik, dililitkan ke seluruh tubuh dengan lipatan yang rapi, lalu diikat. Walaupun dari sudut pandang modern pakaian ini terlihat tidak praktis untuk bergerak, bagi masyarakat Romawi Kuno, toga adalah satu-satunya pakaian yang dianggap pantas dan terhormat untuk dikenakan saat beraktivitas di luar rumah.Dalam kebudayaan Romawi, warna dan corak toga juga menjadi indikator status sosial dan fungsi pemakainya:
- Toga Virilis: Berwarna putih polos, dikenakan oleh pria dewasa sebagai simbol kedewasaan dan hak sipil.
- Toga Praetexta: Memiliki garis ungu mencolok di pinggirannya, khusus dikenakan oleh para pejabat tinggi, hakim, dan anak-anak bangsawan.
- Toga Pulla: Berwarna gelap atau hitam, yang sengaja digunakan saat masa berkabung.
- Toga Candida: Berwarna putih bersih bersinar, dikenakan oleh para calon pejabat publik sebagai simbol kesucian, transparansi, dan integritas.
Ada alasan praktis di balik adopsi ini. Gedung-gedung universitas pada abad pertengahan dibangun menggunakan batu tebal dan tidak memiliki sistem pemanas ruangan. Jubah wol yang panjang dan tebal berfungsi sebagai pelindung tubuh para mahasiswa dan dosen dari suhu dingin yang ekstrem saat membaca dan menulis.
Baru pada tahun 1321, Universitas Oxford dan Universitas Cambridge di Inggris meresmikan penggunaan jubah ini sebagai pakaian wajib wisuda, sekaligus melarang mahasiswa mengenakan pakaian yang berlebihan atau mencolok. Sejak saat itulah, jubah panjang yang berevolusi dari konsep toga Romawi ini resmi menjadi simbol martabat akademik di seluruh dunia.
Bedah Filosofi Komponen Toga: Warna Hitam dan Topi Persegi
Setiap elemen yang melekat pada baju toga modern memiliki makna simbolis tersendiri. Ketika seorang wisudawan mengenakan pakaian ini, setiap jengkal kain yang dipakainya menuntut tanggung jawab moral yang besar.Warna Hitam yang Melambangkan Kemenangan Atas Kegelapan
Banyak orang mempertanyakan mengapa toga wisuda hampir selalu diidentikkan dengan warna hitam yang pekat. Secara psikologis dan filosofis, warna hitam melambangkan keagungan, ketegasan, dan kesan misterius.Dalam konteks akademik, warna hitam diartikan sebagai simbol kegelapan dan ketidaktahuan (ignorance). Masa-masa sebelum mengenyam pendidikan tinggi diibaratkan sebagai fase di mana manusia masih diselimuti misteri ketidaktahuan. Melalui ilmu pengetahuan, riset, dan pembelajaran intensif selama masa kuliah, seorang mahasiswa dilatih untuk menghancurkan batasan tersebut.
Oleh karena itu, warna hitam pada toga melambangkan kegelapan yang berhasil ditundukkan. Seorang sarjana yang mengenakan toga hitam diharapkan mampu menjadi lentera yang menyibak kegelapan di tengah masyarakat dengan bekal ilmu yang dimilikinya.
Topi Persegi sebagai Simbol Sudut Pandang dan Meja Belajar
Topi wisuda berbentuk persegi datar yang khas ini dikenal dengan istilah mortarboard. Bentuknya yang tidak biasa ini memiliki dua landasan filosofi utama:- Representasi Meja Belajar: Bagian atas topi yang datar dan kaku melambangkan permukaan meja tempat seorang siswa meletakkan buku, menulis, membaca, dan merenungkan teori-teori ilmiah. Ini adalah penghormatan terhadap tempat di mana ide-ide besar dan pemikiran kritis dilahirkan.
- Aparatus Berpikir dan Sudut Pandang: Sudut-sudut tajam pada topi persegi ini menuntut mahasiswa yang telah memakainya untuk berpikir secara rasional dan terstruktur. Bentuk persegi mengajarkan bahwa seorang sarjana wajib memandang suatu permasalahan hidup dari berbagai sudut pandang (multi-perspective). Lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak lagi memiliki pemikiran yang sempit, labil, atau mudah terprovokasi, melainkan senantiasa objektif dan bijaksana dalam mengambil keputusan.
Prosesi Pemindahan Tali Toga
Salah satu momen paling sakral dan dinanti-nantikan dalam setiap upacara wisuda adalah ketika rektor memindahkan tali rumbai (tassel) pada topi toga wisudawan. Di balik riuh tepuk tangan hadirin, prosesi pemindahan tali dari sisi satu ke sisi lainnya menyimpan pesan filosofis yang sangat mendalam terkait potensi manusia.Transformasi Dominasi Otak Kiri ke Otak Kanan
Secara tradisional, sebelum prosesi pelantikan, tali rumbai pada topi wisuda menggantung di sebelah kiri. Selama bertahun-tahun duduk di bangku perkuliahan, mahasiswa didominasi oleh penggunaan otak kiri. Otak kiri bertugas untuk mengolah hal-hal yang berkaitan dengan materi akademik, analisis logis, penguasaan bahasa, hafalan rumus, dan pengumpulan teori dasar.Ketika prosesi wisuda berlangsung, rektor akan memindahkan tali tersebut dari sebelah kiri ke sebelah kanan. Pemindahan ini menyimpan harapan besar agar setelah lulus, sang sarjana tidak lagi sekadar menimbun teori (otak kiri), melainkan mulai mengaktifkan kapasitas otak kanan mereka. Otak kanan bertanggung jawab atas daya imajinasi, kreativitas, intuisi, dan inovasi.
Pesan moral dari simbol ini adalah seorang lulusan perguruan tinggi dituntut untuk mampu mempraktikkan ilmu mereka secara kreatif di dunia nyata. Dengan daya imajinasi dan inovasi otak kanan, seorang sarjana diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja yang bergantung pada orang lain, melainkan mampu menciptakan peluang baru, melahirkan inovasi, bahkan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat luas.
Simbol Pembatas Buku Kehidupan
Selain metafora kerja otak, tali toga juga diibaratkan sebagai pita pembatas buku (bookmark). Selama masa kuliah, pita tersebut berada di bab pembelajaran akademik. Ketika wisuda, dipindahkannya tali tersebut menandakan bahwa bab lama telah selesai dibaca dan ditutup.Wisudawan kini resmi membuka lembaran buku kehidupan yang baru di dunia profesional. Pemindahan ini juga menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak boleh berhenti di ruang sidang kampus; seorang sarjana sejati harus terus menambah wawasan dan menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner).
Setiap kali seorang wisudawan melangkah maju ke podium dengan baju toganya, ia tidak hanya sedang merayakan berakhirnya masa-masa begadang demi skripsi, melainkan sedang merayakan keberhasilannya menjadi bagian dari warisan sejarah intelektual manusia yang agung dan sarat akan makna.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News