Rohani (paling kiri) dan Para guru di Pelosok Gili Gede, Lombok (Foto: Medcom/Basuki)
Rohani (paling kiri) dan Para guru di Pelosok Gili Gede, Lombok (Foto: Medcom/Basuki)

Perjuangan Rohani jadi Guru di Pelosok Lombok, Naik Kapal dan Tempuh 1,5 Jam ke Sekolah

Basuki Rachmat • 16 Oktober 2026 08:00
Ringkasnya gini..
  • Rohani, guru SMP di pelosok Gili Gede Lombok, harus menempuh perjalanan darat dari Mataram dan menyeberangi laut setiap hari demi mengajar.
  • Cuaca buruk dan mahalnya ongkos kapal jadi kendala utama. Beberapa guru bahkan mengajukan mutasi akibat beratnya medan menyeberangi lautan.
  • Kehadiran CSR Perahu Sekolah Sinar Waecicu dari Samudera Indonesia sangat membantu meringankan ongkos transportasi guru dan siswa di sana.
Lombok: Perjuangan mengajar di wilayah pelosok bukan hanya soal keterbatasan fasilitas pendidikan, tetapi juga sulitnya akses menuju sekolah. Hal inilah yang setiap hari dihadapi Rohani, guru SMP Satu Atap 2 Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang harus menempuh perjalanan darat dan menyeberangi lautan demi menjalankan tugasnya sebagai tenaga pendidik.

Medcom.id berkesempatan mengikuti langsung perjalanan Perahu Sekolah Sinar Waecicu, salah satu program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) Samudera Indonesia Peduli. Program yang diinisiasi perusahaan perkapalan dan logistik Samudera Indonesia ini bertujuan membantu akses transportasi bagi siswa dan guru di wilayah kepulauan maupun pesisir yang sulit dijangkau.

Dalam liputan di kawasan Pulau Gili Gede, Lombok Barat, pada Selasa pagi, 13 Oktober 2026, Medcom.id bersama sejumlah awak media turut berlayar untuk melihat perjuangan para guru dan siswa dalam menempuh perjalanan menuju sekolah.

Perahu Sekolah Sinar Waecicu melayani penjemputan di sejumlah titik, yakni Kampung Pegametan, Kampung Gedang Siang, Kampung Tanjungan, serta Dermaga Tembowong yang berada di wilayah Kecamatan Sekotong.

Saat ditemui Medcom.id, Rohani menceritakan bahwa perjalanannya menuju sekolah dimulai sejak pagi. Ia berangkat dari Mataram sekitar pukul 06.10 WITA menggunakan sepeda motor. Perjalanan darat tersebut memakan waktu lebih dari satu jam dan bisa mencapai satu setengah jam ketika cuaca tidak mendukung.

“Saya berangkat jam 6.10 WITA, naik motor dari Mataram,” ujar Rohani.

Jarak tempuh yang cukup jauh menjadi tantangan tersendiri bagi Rohani. Belum lagi kondisi cuaca yang kerap berubah dan dapat memperpanjang waktu perjalanan.

“Lumayan capek ya karena jarak tempuh kita itu lebih dari satu jam. Kalau ada kendala cuaca itu sampai kita bisa satu jam setengah dari Mataram,” katanya.
 

Suka Duka Mengajar di Pulau Gili Gede

Bagi Rohani, mengajar di wilayah pelosok memberikan pengalaman berharga sekaligus kesempatan untuk berbagi ilmu dengan siswa yang membutuhkan pendampingan pendidikan. Namun, pengabdian tersebut juga diiringi berbagai tantangan, mulai dari perjalanan panjang, cuaca yang tidak menentu, hingga biaya transportasi yang harus dikeluarkan setiap hari.

“Sukanya sih untuk mencari pengalaman dan berbagi ilmu kita. Dukanya lebih ke cuaca yang sering berubah-ubah dan kendala-kendala perjalanan yang jauh, belum lagi berat di bensin dan segala macamnya (ongkos kapal untuk menyeberang & biaya makan),” ungkapnya.

Kondisi laut yang tidak menentu menjadi salah satu kendala yang kerap dihadapi Rohani bersama rekan-rekan sesama guru. Hujan, angin kencang, hingga ombak besar terkadang membuat perjalanan semakin sulit.

Meski begitu, Rohani menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan berarti para guru enggan menjalankan tugas. Ia justru berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap keterbatasan tenaga pendidik di wilayah tempatnya mengajar.

“Kalau cuaca biasanya hujan, angin, dan ombak yang besar gitu yang membuat kita kadang teman-teman guru juga banyak mengeluh. Bukannya kita berat untuk menjalankan tugas, nggak, cuma kami minta untuk perhatian terutama pemerintah kita di sini karena sangat kekurangan guru,” tuturnya.

Di tengah berbagai tantangan itu, kehadiran Perahu Sekolah Sinar Waecicu menjadi bantuan berarti bagi Rohani dan rekan-rekannya. Transportasi tersebut membantu meringankan biaya perjalanan yang sebelumnya harus mereka tanggung secara mandiri.

“Kita tidak bisa berenang. Nah, syukurnya itu kami mendapatkan bantuan, dari Kapal Samudera Peduli yang sungguh sangat membantu kami untuk mengurangi biaya setiap hari. Kalau awalnya kita membayar angkutan per bulan itu sampai Rp400 lebih. Nah, sekarang kita bisa memangkas sampai Rp500 ribu lebih untuk biaya ongkos,” ujarnya.

Meski tidak sampai berhenti mengajar, Rohani mengungkapkan bahwa tantangan perjalanan turut memengaruhi keputusan sebagian guru untuk mengajukan mutasi ke tempat lain. Ia mencontohkan seorang rekan guru laki-laki yang mengajukan mutasi meski belum genap setahun bertugas di wilayah tersebut.

“Kalau sampai berhenti, nggak. Tetapi banyak yang mengajukan mutasi. Terutama waktu kami datang bertiga, itu baru kurang lebih satu tahun dia, kurang satu tahun, sudah mengajukan. Padahal itu satu-satunya guru cowok yang menyeberang,” kata Rohani.
   

Alasan Rohani dan Para Guru Bertahan Mengajar

Di balik beratnya perjalanan menuju sekolah, Rohani memiliki alasan kuat untuk tetap bertahan. Ia melihat para siswa di Pulau Gili Gede masih membutuhkan tenaga pendidik. Baginya, keterbatasan akses tidak seharusnya menghalangi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

“Pertama, karena kita lihat keadaan anak-anak yang memang sangat kekurangan guru di sana. Terus kedua, kita bandingkan dengan teman-teman yang di wilayah lain mungkin lebih parah dari kita. Contohnya yang ke atas pegunungan, kan itu jalannya mereka juga lebih ekstrem. Nah, kalau kendala kita kan hanya untuk menyeberang, ombak yang besar, cuaca yang sering berubah-ubah itu saja,” ungkapnya.

Rohani dan rekan-rekannya yang harus menyeberangi laut untuk mengajar diketahui berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Ia mengungkapkan, penghasilan yang diterima setiap bulan masih harus diperhitungkan dengan berbagai kebutuhan, termasuk ongkos perjalanan menuju sekolah.

“Status saya dan teman-teman ini yang nyebrang semua P3K. Pendapatannya itu rata-rata Rp3,1 juta kalau saya pribadi. Kalau teman-teman sekitar 2 juta per bulan. Nah, kalau ditambah dengan tunjangan sertifikasi yang kita dapatkan, itu bisa sekitar Rp3,1 juta,” katanya.
 

Harapan untuk Masa Depan Siswa di Pulau Gili Gede

Di tengah keterbatasan akses dan berbagai tantangan yang dihadapi, Rohani berharap para siswa di Pulau Gili Gede tetap bersemangat menempuh pendidikan. Ia meyakini anak-anak yang tinggal di wilayah kepulauan dan pelosok memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita seperti siswa di perkotaan.

“Harapan saya ke depannya untuk anak-anak, jangan patah semangat. Tidak ada perbedaan antara kita di pulau, kita di pelosok, dengan yang di kota. Karena semangat kita sama saja. Marilah belajar yang lebih rajin untuk menggapai cita-cita kalian, karena ke depannya saingannya akan semakin ketat, terutama untuk meningkatkan pendidikan kalian nanti,” ujarnya.

Ia juga berharap para siswa dapat meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan. Rohani ingin perjuangan para guru dalam menjangkau sekolah menjadi motivasi bagi anak-anak untuk terus belajar dan mengembangkan diri.

“Semoga masa depan kalian lebih cerah dari kami yang di sini. Jadikan kami sebagai guru ini adalah motivasi kalian untuk lebih baik lagi dari kami,” tutup Rohani.
 

Perahu Sekolah Samudera Peduli Bantu Akses Pendidikan di Wilayah Pelosok

sinar waecicu(1)
Perahu Sekolah Sinar Waecicu (Foto: Medcom/Basuki)

Perjuangan Rohani dan para guru di Pulau Gili Gede menjadi salah satu gambaran pentingnya akses transportasi untuk mendukung pendidikan di wilayah kepulauan. Melalui program Perahu Sekolah, Samudera Indonesia berupaya membantu anak-anak dan tenaga pendidik yang menghadapi kendala perjalanan menuju sekolah, terutama di kawasan sungai, pesisir, dan pulau-pulau terpencil.

Program yang dimulai pada 2017 ini telah menjangkau sejumlah wilayah di Indonesia, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Samarinda, Kepulauan Riau, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB). Saat ini, Perahu Sekolah memiliki sejumlah armada yang beroperasi di berbagai daerah untuk membantu masyarakat mengakses pendidikan.

Armada tersebut antara lain Sinar Wakatobi yang beroperasi di kawasan Telong Elong–Gili Belek, Lombok Timur, NTB. Sinar Waisai di Muaragembong, Bekasi, Jawa Barat, sejak 2017. Sinar Way Kambas di kawasan Loa Kumbar, Samarinda, Kalimantan Timur, sejak 2022. Sinar Wonosobo di Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sejak 2022, serta Sinar Waingapu di Pulau Bertam, Batam, Kepulauan Riau, sejak 2023.

Dua armada lainnya adalah Sinar Watampone, yang beroperasi di Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sejak 2025, serta Sinar Waecicu, yang mulai beroperasi di Pulau Gili Gede, Lombok Barat, NTB, pada tahun yang sama.
 
sinar waecicu

Setiap peluncuran armada Perahu Sekolah melalui proses perencanaan dan persiapan, mulai dari survei lokasi hingga memastikan kesiapan operasional. Tahapan tersebut dilakukan agar armada yang dihadirkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat berfungsi secara optimal.

Rismeita selaku CSR Manager Samudera Peduli menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk kontribusi perusahaan melalui keahlian yang dimiliki di bidang pelayaran.

“Seperti yang sudah kita ketahui bahwa Samudera kan memang perusahaan perkapalan. Jadi kita ingin berbuat sesuatu yang masih sesuai dengan keahlian kita. Dan apa yang bisa Samudera support. Ya salah satunya keahlian kita di bidang shipping, kita support dalam bentuk perahu sekolah ini,” ujar Rismeita.

Selain menyediakan sarana transportasi, program ini juga melibatkan masyarakat setempat dalam operasional armada. Warga lokal direkrut sebagai kru dan mendapatkan pelatihan keselamatan dasar sebelum bertugas.

“Jadi kita berdayakan juga masyarakat lokal untuk menjadi kru, kita training-kan basic safety training dan lain sebagainya untuk menjadi kru perahu sekolah. Kemudian kita sempat ajak mereka Jakarta juga untuk di-training. Jadi mereka sebagai kepanjangan tangan Samudera ya, untuk sosialisasi ke masyarakat dan lain sebagainya. Jadi program ini bisa diterima baik oleh masyarakat,” pungkasnya.

Kehadiran Perahu Sekolah Sinar Waecicu di Pulau Gili Gede diharapkan dapat membantu meringankan beban perjalanan para guru sekaligus mempermudah siswa menjangkau sekolah. Di tengah tantangan geografis yang masih membatasi akses pendidikan, dukungan transportasi menjadi salah satu upaya untuk menjaga agar proses belajar-mengajar tetap berjalan dan anak-anak di wilayah pelosok memiliki kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan