Ilustrasi internet. Medcom
Ilustrasi internet. Medcom

AI Dinilai Tidak Bisa Gantikan Peran Manusia, Cuma Pelengkap

Renatha Swasty • 09 Maret 2023 18:13
Jakarta: Akhir-akhir ini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tengah menjadi perbincangan, utamanya setelah muncul ChatGPT. Banyak pihak menilai AI dapat menggantikan peran manusia ke depan.
 
CTO dan Co-Founder Cakap, Yohan Limerta, menyebut sebagai perusahaan EdTech pihaknya sangat adaptif terhadap berbagai macam teknologi, termasuk AI. Namun, dia menilai untuk tahap teknologi ini sampai menggeser fungsi manusia, masih banyak elemen lain dalam memproses data yang tidak bisa digantikan.
 
“Pada hakikatnya, setiap manusia memiliki sudut pandang, ideologi, pemahaman yang berbeda dalam menerima sebuah informasi. Manusia juga memiliki pembuatan keputusan yang berbeda-beda dalam menentukan mana yang benar dan salah. Saya melihat kecerdasan buatan ini akan menjadi salah satu pelengkap yang membantu dalam pembuatan keputusan ataupun pengembangan ide,” tutur Yohan dalam keterangan tertulis, Kamis, 9 Maret 2023.

Salah satu kecerdasan buatan yang sedang ramai dibicarakan adalah ChatGPT yang merupakan produk dari perusahaan Amerika Serikat OpenAI. Kecerdasan yang ditawarkan berupa chatbot yang dapat melakukan berbagai tugas mulai dari menulis berbagai naskah/copywriting (pidato, surat) hingga penerjemahan dan proofreading.
 
Copywriter pada EdTech Cakap, Julian Rinaldi, mengungkapkan fenomena penggunaan kecerdasan buatan bak dua sisi mata uang. AI bisa menjadi pesaing baru yang menawarkan kecepatan dan ketepatan, namun bisa menjadi alat yang sangat berguna dalam menunjang pekerjaan.
 
“Kalau dibilang merasa terancam sih untuk saat ini belum. Walau menawarkan kecepatan, namun AI seperti menghilangkan unsur emosi yang biasanya diisi seorang copywriter di setiap tulisan yang diproduksi. Pada akhirnya kecerdasan buatan seharusnya tidak perlu menjadi ancaman, namun bisa dimanfaatkan membantu seorang copywriter kedepannya,” ujar Julian.
 
Guru Bahasa Inggris Cakap Putri Maharani menilai wajar dari segi linguistik, khawatir atas semakin populernya penggunaan AI. Namun, tidak perlu menyikapinya berlebihan.
 
“Ketika revolusi Industri di 1760, manusia mulai diperkenalkan dengan mesin. Sebagai dampaknya, ekonomi meningkat. Itu tidak selalu buruk,” ujar  dia.
 
Selain itu, masih ada hal teknis seperti belum terdaftarnya ChatGPT/OpenAI sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik Kementerian Komunikasi dan Informatika. Sesuai Peraturan Menteri Kominfo Nomor 10 Tahun 2021 atas Perubahan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat yang mengatur semua Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE), bahwa wajib bagi PSE (termasuk OpenAI/ChatGPT) mendaftarkan produknya untuk dapat terus bisa diakses atau mengembangkan layanannya di Indonesia.
 
Apabila terus beroperasi tanpa terdaftar yang terberat adalah operasi AI yang selama ini berjalan akan diblokir di Indonesia. Dengan semua concern yang disorot pengguna maupun pekerja yang erat tugasnya dengan yang dikerjakan oleh AI, dapat disimpulkan masih banyak yang perlu dikembangkan dari segi teknis dan penyempurnaan fungsi sistem pada sisi AI.
 
Namun, sudah menjadi fakta semakin maju perkembangan zaman, tentunya menuntut sebuah perubahan. Sebagai manusia, sudah sepatutnya kita harus terus mengasah diri, terus belajar, dan tidak boleh berhenti melakukan upskilling. Sehingga, peran dan kontribusi yang kita berikan tidak bisa digantikan, bahkan oleh AI sekalipun.
 
Baca juga: ChatGPT Disebut Bakal Gantikan Peran Google, Ini Penjelasan Dosen Unair

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news medcom.id
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan