Terapkan Metode Pembelajaran Kolaboratif

Lima Jurus Jitu Taklukkan Persaingan ala UMN

Farhan Dwitama 02 Mei 2018 17:45 WIB
Pendidikan Tinggi
Lima Jurus Jitu Taklukkan Persaingan ala UMN
Wakil Rektor I UMN bidang Akademik Hira Meidia, Rektor UMN Ninok Leksono, Wakil Rektor II UMN bidang Administrasi Umum dan Keuangan, Andrey Andoko, di News Room kampus UMN, Tangerang.
Tangerang: Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mengembangkan lima jurus jitu sebagai bekal bagi lulusannya agar mampu menaklukkan persaingan di era revolusi industri 4.0.  Sebab di era disrupsi teknologi ini, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya dituntut memiliki kompetensi teknis melainkan juga kompetensi dasar yang kuat sebagai pondasi.

Wakil Rektor II, bidang Administrasi Umum dan Keuangan UMN, Andrey Andoko mengatakan, ada lima kompetensi yang UMN kembangkan dalam wujud pembelajaran kolaboratif.  "Metode pembelajaran kolaboratif dari lima kompetensi ini kami aplikasikan dalam proses pembelajaran di UMN,” kata Andrey, di News Room UMN, Tangerang, Rabu, 2 Mei 2018.


Andrey menyebutkan, kelima kompetensi tersebut adalah kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), adaptasi (adaptability), kolaborasi (colaboration), kepemimpinan (leadership), kreativitas dan inovasi (creativity and innovation).

Kelima kompetensi ini menjadi bekal penting bagi setiap mahasiswa UMN,  agar ketika lulus tidak kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan dunia industri.

Dalam kesempatan tersebut Andrey menjelaskan, kelima kompetensi itu masuk ke dalam pembelajaran di kelas kolaboratif.  "Jadi sebelum mahasiswa menghasilkan suatu karya, maka mereka terlebihi dahulu dilatih kompetensi kreativitas dan inovasinya," kata Andrey.

Karya tersebut, kata Andrey, dihasilkan dari sebuah proses yang berawal dari munculnya persoalan.  Kemudian dari persoalan itu berlanjut kepada tahap mengasah kompetensi problem solving (memecahkan masalah).   "Masalah tadi diselesaikan dengan terstruktur melalui kompetensi memecahkan masalah," terangnya.

Ditambahkan Andrey, metode pembelajaran kolaboratif yang diterapkan UMN ini akan menuntut mahasiswa berinteraksi, sehingga tidak merasa mengantuk selama perkuliahan.
"Saya senang kalau mengajar di kelas kolaboratif, karena mahasiswa tidak akan mengantuk, sangat interaktif, dan tidak membosankan. Sementara kalau di kelas biasa, dosen hanya memberi penjelasan materi ke mahasiswa,” katanya.

Selain memiliki metode pembelajaran kolaboratif, lanjut Andrey, secara fisik bangunan kampus UMN juga dirancang agar setiap sudutnya dapat digunakan sebagai tempat belajar.
Hal ini untuk menciptakan suasana nyaman saat belajar baik di dalam maupun di luar kelas. Termasuk saat berada di lobby kampus, kantin, perpustakaan, taman, dan lingkungan kampus lainnya.

“Kampus UMN ini dirancang sebagai kampus yang nyaman untuk belajar. Kita bisa lihat selain di ruang kelas, mahasiswa juga belajar dan berdiskusi di lobby kampus, kantin, perpustakaan taman, dan masih banyak lagi. Lingkungan kampus UMN ini sejuk, bersih dan nyaman, membuat setiap sudutnya bisa untuk tempat belajar," ungkap Andrey.

Sementara itu, Ketua Program Studi Strategic Communications UMN, Inco Hary Perdana menerangkan UMN menerapkan konsep, bahwa kampus juga harus mampu menjelma menjadi arena simulasi dunia kerja.  Tidak hanya tempat mencari ilmu dan pengembangan bakat mahasiswanya.

"Saya punya istilah, good communications, great connections, sehingga harapannya kampus UMN bukan hanya tempat belajar. Dalam dunia industri, sebenarnya bekerjakan tidak sendiri tetapi (kelas brainstorming, cari ide, cari konsep meeting ketemu banyak orang. Nah, di sini mereka dilatih," terang Inco


 



(CEU)