Kasus Pelecehan Seksual di Depok

Stigma Sekolah Sarang Kekerasan Harus DIhindari

Intan Yunelia 13 Juni 2018 14:46 WIB
pencabulan
Stigma Sekolah Sarang Kekerasan Harus DIhindari
Kampanye anti kekerasan seksual di stasiun Tanah Abang, jakarta, ANT/Galih Pradipta.
Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta masyarakat dan media fokus pada oknum guru pelaku kekerasan seksual terhadap 13 siswa SD di Depok, bukan pada nama institusi pendidikan di mana pelaku berasal. Penyebutan nama sekolah akan berdampak panjang, dan berpotensi memberi stigma negatif terhadap siswa-siswa lulusan sekolah tersebut.

Komisioner KPAI bidang pendidikan, Retno Listyarti berharap tidak ada stigma negatif yang muncul terhadap institusi, terutama siswa lulusan di sekolah tempat kasus pelecehan seksual oleh salah satu oknum guru di Depok terjadi.  Menurut Retno, pelecehan seksual adalah perilaku individu, tak ada kaitan sama sekali dengan institusi pendidikan.


"Dan yang penting lagi masyarakat tidak boleh memberi stigma dengan kasus ini, nama sekolahnya ada yang disebut sihdi media, itu yang kasihan," kata Retno kepada Medcom.id, Rabu, 13 Juni 2018.

Baca: Orangtua dan Saksi Pelecehan Seksual di Depok Ikut Direhabilitasi

Stigma, atau cap sekolah sebagai tempat pelaku pelecehan seksual berpotensi berdampak panjang. Orang dapat berasumsi semua lulusan dari sekolah tersebut merupakan korban pelecehan seksual.

"Jangan-Jangan korban masuk kategori gay dan sebagainya, padahal anak-anak itu belum punya orientasi seksual kan,dan itu salah satu stigma yang kami khawatirkan muncul," jelas Retno.

Ia pun mengimbau kepada media, publikasi kasus pelecehan seksual di sekolah agar lebih menyoroti pelakunya saja. Bukan nama institusi pendidikan di mana pelaku berasal.

"Saya sudah ingatkan untuk jangan disebutkan nama sekolah, meski sudah terlanjur disebutkan di beberapa media," terang Retno.

Sebelumnya, Seorang oknum guru sekolah dasar di Depok dilaporkan ke kepolisian oleh sejumlah wali murid karena diduga melakukan pelecehan seksual terhadap belasan murid laki-laki. Modusnya, murid laki-laki diminta untuk mengikuti perintah oknum guru.

Jika tidak mengikuti, murid diancam dengan diberikan nilai yang jelek. Kejadian tersebut terjadi di kelas, siswa diminta membuka celananya.

"Modus yang juga dilakukan adalah mengajak anak-anak berenang dan jalan-jalan," sebut Susanto, Ketua KPAI.

Sehubungan dengan penanganan kasus ini oleh Polresta Depok, maka KPAI menurunkan tim.  Salah satunya untuk melakukan pengawasan langsung ke kepolisian sebagai upaya mendalami kasus, sekaligus meminta perkembangan penanganan kasus tersebut oleh Polresta Depok.

Tim terdiri dari Susanto (Ketua KPAI) dan Retno Listyarti (Komisioner bidang Pendidikan). “KPAI juga akan bertemu pelaku untuk mendalami profil guru sebelum dan selama menjadi pendidik,”ujar Susanto.



(CEU)