CEO Media Group Mirdal Akib.
CEO Media Group Mirdal Akib.

Peringatan Sumpah Pemuda

Saatnya Pemuda Berperan, Bukan Baperan

Pendidikan Sumpah Pemuda bonus demografi Pendidikan Tinggi
Arga sumantri • 24 Oktober 2020 14:35
Jakarta: CEO Media Group Mirdal Akib menekankan cita-cita Indonesia emas pada 2045 amat bergantung pada generasi muda. Pemuda Indonesia harus memiliki tekad dan semangat berkontribus memajukan Tanah Air.
 
"Saatnya pemuda berperan, bukan baperan," kata Mirdal membuka presentasinya dalam webinar Festival Sumpah Pemuda yang digelar Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) Chongqing, Sabtu, 24 Oktober 2020.
 
Mirdal mengatakan, hari ini, Indonesia telah mengalami bonus demograsi. Penduduk usia produktif, 0-35 tahun menjadi mayoritas. Situasi ini, kata dia, harus betul-betul dimanfaatkan para pemuda untuk mewujudkan cita-cita Indonesia emas pada usianya yang ke-100 tahun, 2045 mendatang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Menariknya, komposisi (usia produktif) di negara maju terbalik. Artinya, Indonesia punya peran luar biasa untuk bisa menjadi negara maju," ungkapnya.
 
Baca:Hadapi Dunia Kerja, Mahasiswa Harus Bangun Karakter dan Kompetensi
 
Ia mengatakan, persyaratan untuk berhasil sudah dimiliki pemuda saat ini. Mulai dari pendidikan, infrastruktur, serta iklim bernegara yang jauh lebih baik. Dengan begitu, kata dia, sejatinya tak ada alasan bagi para pemuda untuk bersikap pesimistis menatap masa depan yang lebih baik.
 
"Pertanyaannya, apakah kita bisa membuat Indonesia emas, sama seperti pemuda pada 1928 yang membawa Indonesia merdeka? Dibutuhkan pemuda dengan mental luar biasa, tak lagi bicara minoritas dan mayoritas," ujarnya.
 
Menurut Mirdal, pemuda saat ini harus memiliki visi yang jernih. Pemuda hari ini tidak boleh sekadar 'mau jadi apa', melainkan harus berpikir jauh lebih besar.
 
"Berpikir mau berkontribusi apa, menciptakan apa sampai 20 tahun ke depan," tegasnya.
 
Ia mengajak para pemuda untuk meniru generasi yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 1928. Gerakan, spirit, hingga gagasan pemuda kala itu jauh lebih maju dan patut dijadikan acuan.
 
"Ketika itu tidak ada narasi mayoritas atau minoritas, narasi SARA. Yang ada gagasan Indonesia yang maju, gagasan Indonesia merdeka," ungkapnya.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif