Yohanis (kiri) dan Samuel (kanan) di UKDW Yogyakarta. Medcom.id/Patricia Vicka.
Yohanis (kiri) dan Samuel (kanan) di UKDW Yogyakarta. Medcom.id/Patricia Vicka.

Nyaman Kuliah di Jogja dan Aktif di Kegiatan Masyarakat

Pendidikan Pendidikan Tinggi Kerusuhan Manokwari
Patricia Vicka • 21 Agustus 2019 20:52
Yogyakarta: Mahasiswa Papua yang kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) merasa nyaman kuliah di Yogyakarta. Selama menginjakkan kaki di kota gudeg itu, mahasiswa dari bumi cendrawasih ini tidak pernah mengalami diskriminasi dari pihak kampus maupun warga Yogyakarta.
 
Samuel Mayor, menjejakkan kaki pertama kali di Yogyakarta pada 2016 lalu. Ia berasal dari Kota Merauke, Papua, kini menempuh pendidikan di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Jurusan Arsitektur Fakultas Arsitektur dan Desain.
 
Saat pertama kali kuliah di Yogyakarta, Samuel tak menemui kendala berarti. Kesulitan tak berarti hanya dialami saat harus berkomunikasi dengan mahasiswa lainnya, lantaran perbedaan bahasa dan logat penyampaian.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun menurutnya, hal tersebut bisa diatasi dengan mudah. Karena mahasiswa dan tenaga pengajar UKDW ramah dan terbuka pada siapapun
 
"Dialek kita saat ngobrol terlalu cepat. Orang-orang jadi tidak mengerti. Tapi kami disambut ramah dan terbuka sama mahasiswa dan dosen di sini. Mereka enggak pilih-pilih orang saat bergaul," kata Samuel pada Medcom.id di Kampus UKDW Yogyakarta, Rabu 21 Agustus 2019.
 
Baca:Mahasiswa Papua di Uniga Rajin Cetak Prestasi
 
Saat awal masa orientasi, pihak kampus langsung mengarahkan mahasiswa Papua ke organisasi Forum Mahasiswa Papua (Formapa) agar mahasiswa baru cepat beradaptasi. Di bidang akademik, Samuel juga tak menemui kesulitan.
 
Menurutnya, cara dosen mengajar di kampusnya mudah dipahami. Para Dosen juga sabar dan mau mengajari mahasiswa Papua hingga mengerti.
 
Hal serupa juga dialami oleh Yohanis, mahasiswa UKDW Fakultas Arsitektur dan Desain Jurusan Arsitektur angkatan 2015. Ia tidak tidak pernah merasa didiskriminasikan selama kuliah di UKDW.
 
Jumlah mahasiswa Papua di UKDW cukup banyak, di atas 100 orang. Begitu juga dengan mahasiswa dari Indonesia Timur. Hal inilah yang menurut Yohanis membuat dirinya lebih mudah berbaur dengan mahasiswa lainnya.
 
Begitu juga dalam hidup sehari-hari di masyarakat Yogyakarta. Di awal kuliah, Yohanis tidak kesulitan untuk mencari indekos. Warga sekitar kerap menyapa saat bertemu dengannya di jalan. Bahkan mahasiswa Papua sering diajak ikut kegiatan masyarakat.
 
"Saya nyaman dan senang tinggal di sini karena kami diterima dengan baik oleh mahasiswa. dosen dan masyarakat di sini," kata pria yang Indekos di daerah Sagan ini.
 
Rasa nyaman juga dirasakan Arianus, Mahasiswa Papua yang kuliah di UGM Yogyakarta.
Arinaus adalah salah satu dari 16 mahasiswa Papua yang mendapatkan beasiswa afirmasi dari pemerintah untuk kuliah di UGM.
 
Awal tinggal di Yogyakarta, mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2016 ini sempat mengalami gegar budaya. Ia merasa minder dengan penampilan dan gaya hidup mahasiswa UGM lainnya.
 
"Awalnya saya minder untuk bergaul dengan siswa lain. Tapi teman-teman di UGM ramah dan enggak pilih-pilih teman. Itu yang buat saya tidak canggung lagi," kata Arianus.
 
Arianus juga merasa materi kuliah amat sulit. Sebab ilmu yang ia dapat dari bangku sekolah cukup tertinggal dibandingkan dengan teman-temannya.
 
Baca:Kebinekaan di Unimal Melebur dalam Sepakbola Kampus
 
Beruntung ia banyak dibantu oleh mahasiswa UGM untuk belajar bersama dan membuat tugas. Dosen-dosen di UGM juga tidak segan untuk menjawab pertanyaan dan memberi penjelasan sampai mahasiswa benar-benar paham.
 
Ketiga mahasiswa Papua ini adalah bukti nyata persatuan antarsuku dan golongan sangat tinggi di kota pelajar ini. Ketiganya juga sepakat, bahwa jika seseorang berlaku baik, maka oranglain pun akan memperlakukan dengan baik.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif