Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto
Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto

Menristek: Hindari Hasil Riset yang Berorientasi Administratif Semata

Pendidikan inovasi Riset dan Penelitian
Intan Yunelia • 14 November 2019 13:08
Jakarta: Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa lembaga penelitian di Indonesia masih belum bersinergi dalam menghasilkan inovasi. Sehingga karya yang dihasilkan hanya bersifat administratif tanpa melihat hasil riset tersebut bermanfaat di masyarakat atau tidak.
 
Sehingga akhirnya meskipun penelitiannya ada, kata Bambang, biasanya output penelitiannya sebatas karena harus bertanggung jawab jika diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Menurut Bambang akan berbeda hasilnya, antaraoutput hasil penelitian yang berorientasi administratif dengan penelitian yang menghasilkan karya inovatif.
 
"Nah ini yang ingin kita hindarkan adalah output yang sifatnya administratif. Hanya untuk supaya aman kalau diaudit. Kita ingin output penelitian dari uang yang terbatas tadi benar-benar bermanfaat,” kata Bambang di Gedung BPPT, Jalan M.H Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu 13 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mendorong penelitian yang dihasilkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lembaga Antariksa Nasional (Lapan), Badang Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Lembaga penelitian lainnya yang memang dibutuhkan oleh masyarakat, terutama dari kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. Termasuk bermanfaat bagi Usaha Kecil Menengah (UKM), sebab UKM salah satunya tidak bisa bertahan lama jika produksi yang dipasarkan mahal.
 
“UKM hanya bisa survive kalau faktor produksi yang mereka pakai mesin, misalkan yang mereka pakai itu harganya terjangkau. Berarti kita mendorong juga para inovator kita menghasilkan teknologi tepat guna,” ujar Bambang.
 
Ia mencontohkan, seperti traktor tangan yang dibutuhkan oleh petani. Tentunya teknologi yang jauh lebih baik dari pada membajak sawah secara tradisional. Selain itu, traktor tidak lagi menggunakan solar melainkan gas.
 
“Karena gas itu 40 persen lebih efisien dibanding Bahan Bakar Minyak (BBM). Jadi spending petani kecil untuk bahan bakar bisa dihemat. Petani juga berkontribusi pada lingkungan yang bersih karena gas tidak menciptakan emisi sedangkan BBM sudah ada yang mahal emisi pula ya,” tutur Bambang.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif