Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Epidemiolog: Orang Tua Taat Prokes Bantu Cegah Anak Terpapar Covid-19

Pendidikan Virus Korona Riset dan Penelitian covid-19 UGM
Arga sumantri • 25 Juni 2021 19:39
Yogyakarta: Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Citra Indriani mengatakan, sejak awal pandemi, anak-anak memiliki risiko terinfeksi virus korona (covid-19). Ia mengatakan, kasus covid-19 yang pertama ditemukan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pun terjadi pada anak-anak.
 
Sayangnya, kata dia, pada awal pandemi, pengetahuan tentang infeksi virus ini belum sepenuhnya lengkap. Ternyata, gejala infeksi virus yang terjadi pada anak adalah sedang ke berat. 
 
"Pengetahuan kita belum sepenuhnya lengkap untuk virus ini, sehingga masih berkembang, apalagi virus pun mengalami mutasi dan menyebabkan perubahan karakternya," kata Citra mengutip siaran pers UGM, Jumat, 25 Juni 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengakui vaksin yang ada sekarang ini belum direkomendasikan untuk anak. Sebab, semua vaksin ketika akan digunakan harus melalui uji efikasi terlebih dahulu untuk melihat apakah vaksin tersebut memberikan manfaat atau tidak meskipun pada saat gawat darurat. 
 
"Pada saat ini memang kita masih dan harus menunggu hasil uji klinis pada kelompok anak sebelum bisa kita berikan ke anak-anak," ujarnya.
 
Baca: Rekomendasi Kegiatan Libur Sekolah Saat Pandemi
 
Selama ini, menurut dia, anak-anak belum menjadi prioritas secara global untuk mendapat vaksinasi. Namun, melihat situasi dan bukti ilmiah yang dihimpun, kata dia, bisa jadi akan ada rekomendasi baru dan akan mengubah kebijakan.
 
Ia mengatakan, sejauh ini memang ada vaksin yang direkomendasikan organisasi kesehatan dunia (WHO) Strategic Advisory Group of Expert (SAGE) yakni Pfizer/Biontech, untuk mereka yang berusia lebih dari 12 tahun. Namun, anak-anak belum menjadi prioritas.
 
Dengan situasi yang ada, kata Citra, senjata memerangi covid-19, khususnya pada anak-anak ada di penerapan protokol kesehatan (prokes). Makan bersama dengan orang selain di luar rumah pun sangat berisiko, karena sama-sama membuka masker. 
 
"Pastinya ngobrol dan hal ini kalau kita lihat masih banyak yang melakukan. Anak-anak bisa dilindungi bila kita dewasa, para orang tuanya, pengasuhnya, juga menjalankan prokes dengan ketat," jelasnya.
 
Baca: Pakar UI Ungkap Keganasan Covid-19 Varian Delta
 
Ia mengatakan, melonjaknya kasus covid-19 saat ini diharapkan bisa membuat protokol kesehatan lebih dipatuhi. Ia pun khawatir apabila pembelajaran tatap muka dimulai di sekolah akan memperparah angka kejadian kasus covid-19 pada anak. 
 
"Saya kira di daerah dengan transmisi tinggi sudah tepat untuk menunda kegiatan sekolah tatap muka," ujarnya.
 
Citra menegaskan penerapan prokes pada anak-anak dan prokes ketat dari orang tua jadi senjata terakhir melindungi anak-anak dari paparan infeksi virus korona. Sebab, belum adanya vaksin yang efektif bagi anak untuk mencegah penularan virus covid-19,.
 
"Proses 3T (test, tracing, treatment) tidak untuk melindungi anak-anak, tapi prokes anak dan prokes orang tualah yang melindungi," ujarnya.
 
Sebelumnya, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman Bhakti Pulungan menyebutkan kasus covid-19 pada anak di Indonesia naik 11-12 persen. Bahkan, selama masa pandemi, jumlah kematian anak balita meningkat hingga 50 persen, atau ada 1.000 kematian pada anak setiap minggunya.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif