Kepala Sekolah SLB Negeri A Padjadjaran, Wawan.  Foto: Medcom.id/Ilham Pratama
Kepala Sekolah SLB Negeri A Padjadjaran, Wawan. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama

Dedikasi Kepala Sekolah Tebarkan Terang untuk PJJ Siswa Tunanetra

Pendidikan Virus Korona sekolah Hari Guru Nasional anak berkebutuhan khusus Pembelajaran Daring
Ilham Pratama Putra • 25 November 2020 08:08
Jakarta: Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri A Padjadjaran, Bandung mengembangkan aplikasi TeamTalk untuk menyokong Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) siswa mereka yang tunanetra. Aplikasi ini sangat membantu para penyandang disabilitas penglihatan tersebut dalam menerima pembelajaran di tengah pandemi.
 
"Jadi selama di rumah kita menggunakan anak dan guru kita menggunakan aplikasi TeamTalk sebagai media telekonferensi PJJ. Ini satu langkah konkret dan komprehensif agar anak kita mendapatkan hak pendidikan di masa covid-19," ujar Kepala Sekolah SLB Negeri A Padjadjaran, Wawan kepada Medcom.id, saat ditemui di Hotel Millenium Jakarta, Senin, 23 November 2020.
 
Aplikasi ini sejatinya sudah familiar di kalangan penyandang tunanetra. Namun pihak sekolah mesti berinovasi, sebab aplikasi TeamTalk nyatanya tidak memiliki peladen atau server di Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Itu yang kita upayakan karena server-nya ada di luar negeri, di Jerman. Nah kita usahakan kita juga punya sehingga kita bisa membuat ruang privat, membuat seperti ruang kelas virtual bagi SLBN A Padjajaran," sambung Wawan.
 
Dia mengaku, pengembangan aplikasi TeamTalk menemui banyak kendala. Pihaknya sempat mencoba Zoom, Webex dan Google Meet pada masa awal pandemi.
 
Baca juga:  Dinilai Inspiratif, Kepala Sekolah Sukma Bangsa Pidie Raih Penghargaan
 
Namun aplikasi tersebut kurang ramah kepada tunanetra. TeamTalk dinilai lebih mudah diakses bagi penyandang tunanetra.
 
"Karena bagi tunanetra, tidak membutuhkan visual tapi kualitas suara yang baik, yang jernih sehingga mereka bisa merasa nyaman ketika aktivitas belajar," ujarnya.
 
Untuk realisasi pembelajaran, pihaknya membentuk tim pengembang kurikulum Belajar Dari Rumah (BDR).  Sebanyak 36 guru yang di sekolah tersebut berjibaku membangun metode pembelajaran baru.
 
Mulai dari perumusan adaptasi mata pelajaran hingga jadwal pelajaran. Terkait bagaimana siswa menggunakan gawai, hal itu bukanlah menjadi masalah.
 
Wawan menjelaskan, jika kemampuan teknologi siswanya sudah mempuni. Gawai yang digunakan pun telah diatur sedemikian rupa hingga mempermudah siswa berkebutuhan khusus menggunakan gawai.
 
"Jadi kami hanya butuh tiga bulan untuk penyesuaian. TeamTalk menjadi media yang sangat kita andalkan," sambung dia.
 
Dia berharap inovasi dari sekolahnya dapat diterapkan pula pada sekolah berkebutuhan khusus lainnya. Pihaknya pun sudah mulai menyosialisasikan penggunaan TeamTalk termasuk membangun server untuk kebutuhan private sekolah.
 
"Mudah-mudahan ini bisa memberikan alternatif solusi di tengah pandemi bagi anak-anak tunanetra dalam memberikan layanan pendidikannya," tutup dia.
 
Atas inovasi yang ia hasilkan, Wawan berhasil menerima apresiasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dia dinobatkan sebagai kepala sekolah berdedikasi dan berinovasi pada peringatan Hari Guru Nasional 2020.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif