Para pencari kerja di sebuah Job Fair, MI/Fathahilah.
Para pencari kerja di sebuah Job Fair, MI/Fathahilah.

Profil Angkatan Kerja Perlu Diubah Demi Bonus Demografi

Pendidikan Pendidikan Vokasi
Intan Yunelia • 13 Mei 2019 16:00
Jakarta:Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) meningkatkan kapasitas perguruan tinggi, baik universitas maupun politeknik untuk persiapan menghadapi bonus demografi di 2045. Langkah ini juga untuk mengubah profil angkatan kerja di Tanah Air yang selama 10 tahun belakangan didominasi lulusan SD/SMP.
 
Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kemenko PMK, Agus Sartono mengatakan setiap tahunnya jumlah lulusan SMA dan SMK lebih dari 3,5 juta orang. Yang melanjutkan ke perguruan tinggi hanya sekitar 1,8 juta orang, sisanya 1,6 juta masuk ke pasar tenaga kerja.
 
Kondisi demikian berlangsung sejak 10 tahun terakhir. Alhasil, profil angkatan kerja di Tanah Air tidak juga mengalami perbaikan, yakni sebanyak 65 persen angkatan kerja merupakan lulusan SD/SMP, dan 24 persen lulusan SMA/SMK, serta hanya 10 persen lulusan perguruan tinggi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kondisi ini harus diperbaiki, agar bonus demografi dapat optimal. Caranya dengan meningkatkan kapasitas perguruan tinggi, baik universitas maupun politeknik," kata Agus saat Konferensi Pers Percepatan Peningkatan Kualitas SDM dan Guru di Kantor Kemenko PMK, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin 13 Mei 2019.
 
Baca:Pemerintah Siapkan Dua Skenario Peningkatan Kapasitas Politeknik
 
Ia melanjutkan, saat ini pemerintah terus mengupayakan membangun politeknik baru atau meningkatkan kualitas dan kapasitas politeknik yang sudah ada. Saat ini kapasitas politeknik dan sekolah vokasi sekitar 975.000 atau kurang dari 325 mahasiswa per tahunnya.
 
"Pembangunan politeknik baru sebaiknya dilakukan di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan ini, masalah penyediaan lahan bisa teratasi, jaminan tempat magang siswa, mobilitas dan ketersediaan tenaga ahli dan jaminan keterserapan lulusan menjadi lebih baik," tuturnya.
 
Berkaca dari negara maju seperti Jerman, pendidikan vokasi dalam hal ini politeknik menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kualitas SDM sekaligus menjamin pertumbuhan ekonomi. Proporsi antara politeknik dengan perguruan tinggi di negara maju pun seimbang.
 
Sementara itu, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan persentase lulusan SMK yang menganggur menempati urutan teratas. Setiap tahunnya SMK menghasilkan lulusan sekitar 1,4 juta orang. Oleh karena itu pemerintah berupaya untuk meningkatkan kompetensi lulusan SMK agar produktivitas dan daya saing industri makin berkualitas.
 
"Saat ini program SMK Industri telat melibatkan sebanyak 2.612 SMK dan 855 industri. Program ini perlu diperluas mengingat jumlah siswa yang begitu besar dan ditargetkan menjangkau hingga 5.000 SMK," pungkasnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif