Kampus UI. Dok Humas UI.
Kampus UI. Dok Humas UI.

Dinilai Fitnah UI, Sivitas Akademika Desak Rektor Perkarakan Kader PKS

Pendidikan Pendidikan Tinggi Penerimaan Mahasiswa Baru
Arga sumantri • 21 September 2020 14:05
Depok: Sivitas Akademika Universitas Indonesia (UI) mengecam video pernyataan tentang pakta integritas UI yang diungkapkan legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Al Muzzammil Yusuf. Rektor dan jajaran pimpinan UI pun didesak memperkarakan tudingan tersebut.
 
Desakan ini termuat dalam surat resmi dari 12 perwakilan pengajar UI yang ditujukan kepada Rektor UI Ari Kuncoro. Dalam surat tertanggal 17 September 2020 tersebut, sivitas akademika UI menilai paparan Muzzammil dalam video bertajuk 'Kupas Tuntas: Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sexual Consent' merupakan fitnah.
 
"Civitas Akademika Universitas Indonesia dengan ini memohon dan mendesak Bapak Rektor dan semua Pimpinan Universitas Indonesia untuk memproses secara hukum perbuatan Al Muzzammil Yusuf," demikian bunyi salah satu isi surat tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Paparan Muzzammil dinilai bermuatan fitnah dan pembunuhan karakter terhadap UI. Muzzammil juga dianggap melanggar Pasal 27 ayat 3 juncto Pasal 45 ayat 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang ITE.

Minta Diberhentikan

Selain itu, sivitas akademika UI juga mendesak rektor dan jajaran pimpinan untuk meminta klarifikasi dan maaf secara resmi dari Al Muzzammil Yusuf. Kemudian, mengajukan surat kepada pimpinan DPR/MPR, pimpinanMahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dan pimpinan Fraksi PKS di DPR agar Muzzammil diberhentikan sebagai anggota DPR secara tidak hormat.
 
Sivitas akademika UI menganggap pernyataan Muzzammil dalam video 'Kupas Tuntas: Pakta Integritas Universitas Indonesia dan Pendidikan Sexual Consent' bermuatan fitnah. Sebab, Muzammil menyatakan kalau UI mengajarkan consensual sex atau seks dengan persetujuan antara mahasiswa dan mahasiswi.

Berikut bunyi pernyataan Muzzammil yang dipermasalahkan:
 
"…pendidikan consensual sex, seks dengan persetujuan antara mahasiswa/ mahasiswi, seks yang dianggap tanpa kekerasan yaitu consensual sex (dengan persetujuan), dengan kesadaran, dianggap itu seks yang sehat yang sah. Dengan konsep Consensual Sex Barat maka itu bukan kekerasan. Saya kira ini sangat tidak patut untuk dikembangkan diajarkan kepada mahasiswa kita di mana pun berada di Indonesia ini…”
 
"Tuduhan Al Muzzammil Yusuf jelas telah menyerang, mempermalukan dan mencemarkan nama baik Universitas Indonesia, sebab apa yang dituduhkan tidak benar. Universitas Indonesia tidak pernah mengajarkan pendidikan consensual sex antara mahasiswa/mahasiswi. Universitas Indonesia tidak pernah mengajarkan mengenai consensual sex barat," ungkapnya.
 
Pengajaran mengenai kekerasan seksual yang disampaikan UI harus ditegaskan kepada masyarakat Indonesia disebabkan beberapa hal. Pertama, kekerasan seksual dalam Hukum Internasional dikategorikan sebagai serious crimes (Pasal 7 ayat 1 huruf g Rome Statute of the International Criminal Court).
 
Baca:Rektor IPB Positif Covid-19, Pembatasan Masuk Kampus Diperpanjang
 
Kemudian, pengajaran mengenai kekerasan seksual yang dilakukan UI adalah dalam rangka menjalankan amanat Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayan (Kemendikbud) tercantum dalam tujuan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2020, butir ke-18. Yaitu, memperkenalkan konsep pelecehan dan kekerasan seksual sebagai bagian dari upaya pencegahan dan penanganan pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan kampus dan masyarakat.
 
"Pengajaran mengenai kekerasan seksual yang dilakukan Universitas Indonesia kepada para mahasiswa baru telah mengindahkan hukum dan budaya masyarakat Indonesia," papar surat tersebut.

Menurut para sivitas akademika UI, istilah kekerasan seksual digunakan dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (UU Pornografi) dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU Penghapusan KDRT).
 
Penjelasan Pasal 4 ayat 1 UU Pornografi menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kekerasan seksual antara lain persenggamaan yang didahului dengan tindakan kekerasan (penganiayaan) atau mencabuli dengan paksaan atau pemerkosaan. Paksaan berarti tanpa persetujuan.
 
Sementara, Pasal 8 juncto Pasal 5 huruf c UU Penghapusan KDRT mengatur bahwa kekerasan seksual merupakan salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangga, mencakup; pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut.
 
Ketentuan ini dianggap menegaskan kekerasan seksual sebagai pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar, yang artinya hubungan seksual tanpa persetujuan. Alhasil, kekerasan seksual yang Universitas Indonesia ajarkan pada hakikatnya menguraikan apa yang diatur dalam UU Pornografi dan UU Penghapusan KDRT.
 
"Tidak ada hal yang tidak patut yang diajarkan oleh Universitas Indonesia kepada para mahasiswa baru," ungkapnya.
 
Sebagai perwujudan Tridarma Perguruan Tinggi, UI dinilai sudah sepatutnya tidak membiarkan penyebar-luasan opini yang menyesatkan masyarakat ini terjadi. UI harus selalu bertindak dan bekerja mencerdaskan bangsa.

"Kami percaya bahwa Pak Rektor sebagai pimpinan UI seperahu dengan kami dalam pemikiran ini. Semoga kita bisa mempertahankan nama baik Universitas Indonesia," lanjutnya.
 
Surat ini dibuat oleh 12 perwakilan dari sejumlah fakultas. Berikut nama-nama inisiator:
 
1. Dr. Reni Suwarso (FISIP – UI)
 
2. Dr. Wilman Dahlan Mansoer (FPsikologi - UI)
 
3. Dr. Rouli Anita Velentina (FH - UI)
 
4. Dr. Yoni Agus Setyono (FH - UI)
 
5. Dr. Heriyanti O Untoro (FIB - UI)
 
6. Dr. Tuty Nur Mutia (FIB - UI)
 
7. Dr. Agus Brotosusilo (FH - UI)
 
8. Dr. Rr Dwinanti Rika Marthanty (FT - UI)
 
9. Nuri Suseno, MA (FISIP - UI)
 
10. Ir. Wahyuni Pudjiastuti (FISIP - UI)
 
11. Dra. Agnes Sri Poerbasari MA (MPKT - UI)
 
12. Kris Wijoyo Soepandji MPP (FH -UI)
 
(AGA)
Read All



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif