Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudia. Foto: Medcom.id/Intan Yunelia
Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudia. Foto: Medcom.id/Intan Yunelia

'PJJ Permanen', Akses Sekolah Terhadap Teknologi Harus Ditingkatkan

Pendidikan Virus Korona Metode Pembelajaran
Citra Larasati • 06 Juli 2020 22:08
Jakarta:Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian mengatakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus menerapkan beberapa strategi untuk meningkatkan akses dunia pendidikan terhadap teknologi. Hal ini penting dilakukan jika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) kombinasi antara daring dan luring akan dilanjutkan pascapandemi.
 
Wacana penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara permanen menimbulkan keresahan masyarakat. Hal ini menyusul pernyataan Mendikbud Nadiem Makarim dalam Rapat kerja dengan Komisi X DPR pekan lalu.
 
"Pembelajaran jarak jauh, ini akan menjadi permanen. Bukan pembelajaran jarak jauh pure saja, tapi hybrid model,” ujar Nadiem saat Raker.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Banyak pihak menilai, pelaksanaan pembelajaran jarak jauh secara permanen belum cocok untuk diterapkan di Indonesia. Mengingat segala keterbatasan yang dimiliki, mulai dari teknologi, akses internet, bahkan listrik.
 
Hetifah menyatakan, makna PJJ Permanen yang disampaikan Nadiem tersebut hal bukan berarti setelah pandemi PJJ akan dilaksanakan sepenuhnya.
 
“Yang Saya tangkap dari pernyataan tersebut maksudnya adalah setelah semua adaptasi yang telah kita lakukan selama pandemi, tidak mungkin kita kembali lagi sepenuhnya melakukan KBM dengan cara-cara lama. Justru Kita harus maksimalkan teknologi yang sudah Kita pelajari untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar, dengan mengombinasikan PJJ dan tatap muka,” ujar Hetifah dalam keterangannya, Senin, 6 Juli 2020.
 
Baca juga:Kemendikbud Meluruskan Makna 'PJJ Permanen'
 
Hetifah mengatakan, ke depannya Kemendikbud harus menerapkan beberapa strategi untuk meningkatkan akses dunia pendidikan terhadap teknologi. Salah satunya, memastikan setiap satuan pendidikan memiliki infrastruktur TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang memadai.
 
"Bekerja sama dengan provider dan membuat paket subsidi internet, juga bekerja sama dengan Kominfo (Kemenkominfo) dan PLN untuk menyediakan akses internet dan listrik yang merata. Itu semua tercantum dalam draft Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035,” paparnya.
 
Hetifah yang juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar bidang Kesra (Kesejahteraan Rakyat) ini menyatakan, pemanfaatan teknologi bisa dioptimalkan untuk menjembatani kesenjangan pendidikan.
 
“Kesenjangan kualitas dan geografis bisa sedikit banyak teratasi dengan bantuan teknologi," kata Hetifah.
 
Misalnya anak-anak di pelosok, sekarang bisa mendapatkan pembelajaran dari guru-guru terbaik skala nasional melalui bantuan aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk pemerataan. "Namun demikian, Kita terus ingatkan Kemendikbud bahwa kesediaan akses untuk semua merupakan prasyarat, jika tidak justru ini bisa menambah kesenjangan,” ungkapnya.
 
Meski begitu, Hetifah mengingatkan, bahwa tidak semua hal bisa digantikan dengan PJJ.
“Misalnya pembangunan karakter, itu memerlukan keteladanan yang anak lihat sehari-hari, jadi tidak mungkin diajarkan hanya secara jarak jauh. Juga kemampuan bersosialisasi, harus tatap muka. Saya rasa Kemendikbud juga mengerti ini dan tidak mungkin semerta-merta dihilangkan,” pungkasnya.
 

(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif