Rektor IPB Arif Satria. Zoom
Rektor IPB Arif Satria. Zoom

Rektor IPB Beberkan Strategi Perguruan Tinggi Hadapi Pandemi

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 01 Juni 2020 21:01
Bogor: Rektor Institus Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria membeberkan strategi perguruan tinggi menghadapi pandemi virus korona (covid-19) dalam forum dialog internasional virtual yang digagas Kasetsart University, Thailand. Salah satunya, yakni pengambilan keputusan yang cepat untuk sektor pendidikan.
 
"Baik implikasi sistem pembelajaran, termasuk mahasiswa yag memiliki keragaman akses, serta keragaman adaptasi dosen dalam kuliah daring, maupun implikasi riset dan inovasi" kata Arif melalui siaran pers, Senin, 1 Juni 2020.
 
Arif menerangkan, pandemi berdampak pada kondisi sosial ekonomi orang tua mahasiswa sehingga perlu insentif khusus. Selain itu, diperlukan pula kecepatan adaptasi dosen terhadap sistem daring, sehingga perlu persiapan peningkatan kapasitas dosen agar membuat perkuliahan jarak jauh menarik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Begitu pula perlu langkah cepat untuk menyiapkan infrastruktur yang sesuai dengan protokol kesehatan," ujarnya.
 
Arif menekankan, strategi mengatasi covid-19 harus berbasis pemetaan masalah yang tepat. Strategi ini harus terkait strategi jangka panjang.
 
Baca:Rektor UGM: Pancasila Harus Diaktualisasikan saat Kenormalan Baru
 
Dalam jangka pendek, kata dia, IPB membagi menjadi lima fase aksi dalam masa tanggap darurat. Yaitu fase membangun kesadaran dan kewaspadaan kolektif (29 Februari-11 Maret), antisipasi dan penapisan masalah (11 Maret-sekarang), penanganan dan pengendalian masalah (17 Maret-sekarang), pengembangan solusi (22 Maret-sekarang), dan pemulihan (sesuai dengan kondisi).
 
Arif menambahkan, ada beberapa pembelajaran penting yang diperoleh selama menangani pandemi. Misalnya, pentingnya penguatan infrastruktur digital terkini, serta platform pembelajaran daring.
 
"Mendorong perubahan pola pikir positif pada kehidupan sehari-hari bagi sivitas akademika, perubahan sikap dan cara berpikir menuju normal baru ini diperlukan," jelasnya.
 
Arif menyatakan pandemi membangun kesadaran pentingnya manajemen risiko menghadapi krisi. Selain itu, menjaga hubungan internasional yang sudah terbangun mencakup aspek mobilitas internasional dan implementasi kemitraan perguruan tinggi.
 
"Arah baru pendidikan yang mencakup aspek penguatan skill untuk belajar mandiri, serta penguatan modal sosial di lingkungan perguruan tinggi. Dan pentingnya arah baru agenda riset dan pengabdian masyarakat," ungkapnya.
 
Arif mengatakan, berbagai pembelajaran tersebut selanjutnya dapat digunakan perguruan tinggi untuk merancang rencana pembukaan kampus pasca pandemi. Menurut dia, data dan fakta harus digunakan, termasuk pertimbangan bio risiko sebagai panduan untuk implementasinya.
 

(AGA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif