Tim Henka Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) meraih juara pertama pada ajang Bridge Design Competition di Nanyang Technology University (NTU), Singapura. DOK UI
Tim Henka Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) meraih juara pertama pada ajang Bridge Design Competition di Nanyang Technology University (NTU), Singapura. DOK UI

Mantap, Mahasiswa FTUI Jadi Jawara di Ajang Rancang Jembatan NTU Bridge Design Competition

Pendidikan prestasi mahasiswa Universitas Indonesia Perguruan Tinggi Mahasiswa
Renatha Swasty • 21 April 2022 11:57
Jakarta: Tim Henka Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) meraih juara pertama pada ajang Bridge Design Competition di Nanyang Technology University (NTU), Singapura. Tim menyisihkan 94 tim lain asal Singapura, Indonesia, Malaysia, Vietnam, Mesir, India, dan tuan rumah dari NTU.
 
Tim Henka terdiri dari tiga mahasiswa Departemen Teknik Sipil angkatan 2019, yaitu Peter Hartono Halim, Ruben Agustinus Chesin, dan Antonio Novandy.
 
“Studi kasus yang dihadapi oleh Tim Henka FTUI adalah merancang jembatan di Choa Chu Kang North 6 dan Woodlands Road," kata Ketua Tim Henka Peter Hartono Halim dalam keterangan tertulis, Kamis, 21 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Peter mengungkapkan lokasi itu memiliki kesulitan tersendiri. Yakni kontur tanah daerah tersebut tidak seragam serta ada jalur pejalan kaki dan drainase yang tidak boleh dirusak.
 
Faktor kesulitan lainnya, kondisi eksisting bangunan di sekitar lokasi pembangunan. Sehingga perlu dipertimbangkan metode konstruksi yang tidak mengganggu bangunan-bangunan tersebut.
 
Tim membuat desain dan metode yang cocok guna menghadapi tantangan konstruksi pada lokasi tersebut. Jembatan yang dirancang memiliki panjang 224.775 m dengan satu kurva Spiral-Circle-Spiral (SCS) dengan radius 95 m.
 
Nantinya, jembatan terdiri atas sambungan jalan, satu jembatan balok, dan jembatan tunggal multibentang. Sebanyak dua lajur jalan jembatan akan memiliki lebar masing-masing lajur 3,5 m dan lebar kedua tepinya 1,8 m untuk jalur pejalan kaki.
 
“Rancangan jembatan kami mengutamakan green factor atau faktor lingkungan dari konstruksi. Tim kami memanfaatkan beberapa inovasi konstruksi jembatan yang cukup ramah lingkungan. Selain itu, kami unggul dari segi detail manajemen konstruksi. Setiap step, alat berat yang digunakan, hingga mobilisasi yang dilakukan, kami rencanakan dengan matang dan detail. Hal ini memberikan kami nilai lebih di mata dewan juri,” beber Ruben.
 
Mantap, Mahasiswa FTUI Jadi Jawara di Ajang Rancang Jembatan NTU Bridge Design Competition
Jembatan rancangan Tim Henka FTUI. DOK UI
 
Ruben menjelaskan ada dua Henkavation atau Henka innovation yang ditonjolkan dalam desain jembatan tersebut. Pertama, tim menggunakan bahan tambah tipe E.
 
Bahan ini merupakan materi pencampuran pereduksi dan percepatan air yang berguna untuk meningkatkan kekuatan beton karena pengurangan air dan juga mempersingkat waktu pengikatan beton karena proses percepatan hidrasi. Selain itu, tim juga memanfaatkan inovasi fly ash sebagai pengganti semen.
 
"Fly ash merupakan limbah padat yang dihasilkan dari pembakaran batu bara pada pembangkit tenaga listrik. Material fly ash lebih ramah lingkungan dan juga dapat meningkatkan kekuatan beton,” kata Antonio.
 
Fly ash dan admixture tipe E yang digunakan Tim Henka merupakan komponen/produk yang sudah sering digunakan. Cukup banyak penelitian mengenai bahan-bahan tersebut dan hubungannya dengan beton.
 
Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut, Tim Henka memutuskan menggunakan fly ash dan admixture tipe E sebagai salah satu nilai tambah bagi beton sebagai salah satu keunggulan desain jembatan mereka. Penggunaan bahan tambah itu diharapkan dapat meningkatkan mutu serta workability beton.
 
Dekan FTUI Heri Hermansyah mengatakan pencapaian ini membuktikan mahasiswa FTUI mampu dan dapat berkompetisi di tingkat internasional. Ketiga mahasiswa FTUI itu membawa kebanggaan bagi bangsa dan negara.
 
"Karena mampu berkompetisi di ajang internasional, sejajar dengan bangsa-bangsa lain,” tutur Heri.
 
Dia berharap inovasi dan desain jembatan mahasiswa ini dapat diimplementasikan pada berbagai proyek pembangunan yang saat ini gencar dilaksanakan pemerintah maupun industri swasta di berbagai penjuru negeri. Dia menuturkan teknologi dan pemecahan masalah karya anak bangsa perlu mendapatkan perhatian dan dukungan penuh dari semua pihak.
 
"Untuk dapat terus dikembangkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Heri.
 
NTU Bridge Design Competition merupakan lomba rancang jembatan berdasarkan suatu studi kasus yang ditentukan panitia. Komponen penilaian kompetisi ini mempertimbangkan desain jembatan, metode konstruksi yang efektif, meminimalisasi kerusakan lingkungan, manajemen konstruksi, dan pemahaman terhadap kondisi daerah kerja agar proses konstruksi dan jembatan tersebut tidak mengganggu kenyamanan sekitar.
 
Tim Henka mesti melewati tiga tahap kompetisi, yakni babak penyisihan, babak final, dan presentasi akhir. Kompetisi berlangsung selama 28 Februari-2 April 2022.
 
Baca:
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif