Dirjen PAUD Dasar, Nonformal, Informal Gogot Suharwoto. Foto: Youtube Kemendikdasmen
Dirjen PAUD Dasar, Nonformal, Informal Gogot Suharwoto. Foto: Youtube Kemendikdasmen

Tak Punya Listrik dan Internet, Sekolah Tetap Dapat Program Digitalisasi

Ilham Pratama Putra • 29 September 2026 16:39
Ringkasnya gini..
  • Sekolah yang belum memiliki listrik dan internet tetap disasar dalam program digitalisasi pembelajaran.
  • Kemendikdasmen menggunakan data Dapodik untuk mengetahui sekolah yang membutuhkan dukungan infrastruktur.
  • Digitalisasi juga dilengkapi konten dan pelatihan guru terkait STEM, coding, AI, dan pembelajaran mendalam.
Jakarta: Digitalisasi pembelajaran masih menghadapi persoalan infrastruktur di sejumlah sekolah. Terutama terkait akses listrik dan internet. 

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan sekolah yang belum memiliki dua kebutuhan dasar listrik dan internet tetap menjadi bagian dari sasaran digitalisasi pembelajaran. Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto mengatakan hal itu tetap dilakukan dengan terus mendukung infrastrukur listrik dan internet sekolah. 

"Yang belum punya listrik, kita usahakan kita bantu dengan memberikan bantuan listrik. Yang belum punya internet juga kita berikan bantuan layanan internet," kata Gogot dalam peluncuran program Semarak Pembelajaran STEM untuk Semua (SEMESTA), Selasa 29 September 2026. Menurut Gogot, dukungan tersebut penting karena digitalisasi pembelajaran tidak akan optimal apabila sekolah hanya menerima perangkat tanpa memiliki infrastruktur dasar untuk mengoperasikannya. Artinya dukungan digitalisasi akan paralel dengan dukungan infrastruktur listrik dan internet.

Salah satu perangkat yang diberikan pemerintah adalah dalam program digitalisasi pendidikan adalah papan interaktif digital (PID) atau interactive flat panel (IFP). Gogot menyebut perangkat tersebut telah diberikan kepada sekolah SMA, baik negeri maupun swasta, termasuk sekolah di wilayah perkotaan dan pedesaan.

Namun, IFP kata dia bukan satu-satunya komponen dalam program digitalisasi pembelajaran. Saat ini, Pemerintah juga mengembangkan digitalisasi melalui tiga paket yang mencakup perangkat, konten pembelajaran, serta bimbingan teknis.

"Berbagai program tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan guru sekaligus membuat pembelajaran lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi," tegasnya.
 
WhatsApp Image 2026-05-14 at 18_25_03
Siswa belajar menggunakan IFP di kelas. Foto: Kemendikdasmen


Di samping itu, untuk mengetahui sekolah yang masih membutuhkan dukungan, Gogot meminta satuan pendidikan memastikan data pokok pendidikan (Dapodik) terisi secara lengkap. Data tersebut menjadi salah satu dasar untuk mengetahui sekolah mana yang membutuhkan dukungan listrik maupun internet.

"Pastikan Dapodik Bapak, Ibu semua terisi sehingga kita mengetahui sekolah mana yang memang perlu dukungan listrik maupun itu untuk infrastrukturnya," ujarnya.

Setelah infrastruktur dan perangkat tersedia, pemerintah juga menyiapkan konten pembelajaran interaktif. Direktorat SMA telah menyediakan berbagai media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan sekolah.

Guru juga mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran. Pelatihan tersebut mencakup pembelajaran mendalam, coding, kecerdasan artifisial atauintelligence (AI), serta berbagai program prioritas lainnya.

Gogot mengatakan berbagai program tersebut perlu diintegrasikan. Digitalisasi, STEM, dan pembelajaran mendalam tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri karena memiliki tujuan yang saling berkaitan.

"STEM dan pembelajaran dalam ini tidak berdiri sendiri-sendiri. Mereka saling mendukung, saling melengkapi dalam rangka menyiapkan anak-anak kita," tutup dia. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan