Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto
Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto

Usia Calon Wamendikbud Disarankan Tak Jauh dengan Nadiem

Pendidikan Kabinet Jokowi-Maruf
Intan Yunelia • 05 November 2019 16:31
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan mendiskusikan kebutuhan wakil menteri di Kemendikbud dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim. Meski belum ada kepastian, namun wacana tersebut mendapat perhatian dari sejumlah akademisi dan pegiat pendidikan.
 
Pengamat Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Said Hamid Hasan menyarankan, jika Presiden jadi memberi wamen untuk Nadiem, maka baiknya usia calon wamen tak jauh beda dengan Nadiem.
 
“Perbedaan umurnya walaupun lebih tua tapi tidak terlalu jauh. Umpamanya Nadiem 35 ya 40 boleh saja enggak apa-apa. Tidak harus sama dan lebih muda tidak. Bisa lebih tua tapi jangan terlalu jauh. Karena gap itu harus perlu juga,” kata Said saat dihubungi Medcom.id, Selasa 5 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, mengatasi kompleksitas permasalahan pendidikan, Nadiem perlu dibantu oleh tim penasihat. Tim ini yang memberikan masukan kepada Nadiem sebelum mengeluarkan kebijakan di sektor pendidikan.
 
“Persoalan utama yang ada dalam pendidikan itu kan masih punya anak yang tidak bersekolah. Dan itu jumlahnya cukup menakutkan mendekati angka 10 juta. Dan masih ada juga sekolah yang tidak mempunyai guru dan banyak SD gurunya cuma satu dan memerlukan pemikiran lain ke depan di samping bagaimana menggunakan teknologi untuk daerah terpencil,” ujar Said.
 
Meski berlatar belakang pengusaha berbasis teknologi, Nadiem tidak serta merta langsung bisa menerapkan aspek teknologi di sektor pendidikan. Ia harus menyelesaikan permasalahan dasarnya seperti keterbatasan akses listrik, internet di daerah terpencil dan tertinggal.
 
“Harus ada kerja sama antara Kemendikbud dengan kementerian lain untuk menyiapkan listrik dan lainnya di daerah terpencil karena teknologi bisa kita gunakan tapi daerah terpencil tanpa listrik mereka makin tertinggal. Ini tidak boleh terjadi lagi,” tutur Said.
 
Karena itu, posisi tim penasehat di lingkungan Kemendikbud juga diperlukan. Terutama mereka yang benar-benar paham untuk melihat permasalahan pendidikan di Indonesia.
 
“Mungkin wisdom seperti itu juga harus kita pikirkan artinya prioritas-prioritas tertentu daerah terpencil ini sehingga mereka sejajar dengan daerah lain,” pungkasnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif