Diskusi Dialog Kebangsaan bertema Merajut Kebangsaan di Gedung Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta, Senin, 27 Mei 2019, Medcom.id/Citra Larasati.
Diskusi Dialog Kebangsaan bertema Merajut Kebangsaan di Gedung Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta, Senin, 27 Mei 2019, Medcom.id/Citra Larasati.

Menteri Nasir Ajak Semua Elemen Kembali Bersatu Pascapemilu

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 27 Mei 2019 22:21
Jakarta: Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir menggelar diskusi Dialog Kebangsaan bertajuk "Merajut Kebangsaan" sekaligus buka puasa bersama kelompok Cipayung Plus beserta para alumninya di Gedung Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta, Senin, 27 Mei 2019. Dalam kesempatan tersebut, Nasir menyampaikan ajakan kepada semua pihak yang selama ini berbeda pilihan politik untuk kembali bersatu.
 
Nasir mengatakan, tujuan digelarnya Dialog Kebangsaan adalah untuk merajut kembali kebangsaan dan persatuan di Tanah Air pascapemilu 17 April 2019 lalu. "Jangan sampai terjadi perbedaan politik, perbedaan pilihan presiden menyebabkan kita terkoyak-koyak dalam masalah kebangsaan. Tetap harus kita jaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini," kata Nasir di sela-sela Dialog Kebangsaan.
 
Nasir juga menyerukan, agar Pancasila sebagai ideologi bangsa harus menjadi pegangan seluruh elemen masyarakat, "Ideologi bangsa kita adalah Pancasila, UUD 1945 sebagai dasar negara, dan semboyan Bineka Tunggal Ika. Maka kalau ini kita rajut kembali jangan sampai terjadi lagi benturan antarpihak," terangnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam kesempatan itu, Nasir juga menyampaikan rasa terima kasih kepada kelompok Cipayung Plus yang menepati komitmennya untuk tidak ikut aksi turun ke jalan dalam menyampaikan aspirasi pada 21 dan 22 Mei lalu. "Mereka saya anggap anak intelektual, anak muda yang memiliki intelektual tinggi, telah menjaga emosi dengan baik. Jangan terprovokasi permainan politik yang sudah berjalan itu," seru Nasir.
 
Baca:Guru Besar di Luar Negeri Ogah Disebut Profesor Saat Pensiun
 
Meski begitu, kata Nasir, para aktivis mahasiswa tetap dapat mengkritisi dengan cara lain, seperti berdiskusi dan berdialog di sejumlah kesempatan. "Kami sangat apresiasi. Kita selesaikan melalui meja bundar atau diskusi, itu yang kita harapkan," terang Nasir.
 
Dalam kesempatan tersebut, turut hadir sejumlah alumni Kelompok Cipayung seperti Akbar Tanjung, mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam(HMI), Theo L. Sambuaga mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ketua DPR, Bambang Soesatyo yang juga alumni HMI,Paulus Januar, alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Naila Fitria, Sekjen HMI, I Gede Hendra Juliana, Ketua Bidang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI).
 
Seluruh peserta diskusi menyampaikan hal serupa, agar seluruh elemen masyarakat kembali bersatu merajut kebangsaan dalam bingkai NKRI pascapemilu. "Harapan kami sama sebetulnya, hanya satu, di manapun kita bertanding harus siap bersanding," kata Bamsoet.
 
Hal senada disampaikan Theo. Menurutnya, dalam proses pemilu sangat dimungkinkan terjadi gesekan, terutama yang bersifat verbal. Bahkan di tanggal 21 Mei lalu gesekan fisik juga sempat mewarnai aksi unjuk rasa masyarakat yang menolak hasil penghitungan suara Pemilu 2019.
 
Namun penolakan itu akhirnya diselesaikan melalu jalur hukum yakni melalui Mahkamah Konstitusi (MK). "Yang berperkara silakan berproses di MK, di mana nanti hasilnya harus kita terima dengan lapang dada dan legowo. Momentum ini yang kita sebut sebagai merajut kebangsaan. Saya kira ini patut dihargai. Menristekdikti bertemu dengan tokoh-tokoh mahasiswa di Cipayung Plus, dan para alumni aktivis dan temanya Merajut Kebangsaan," tutup Theo.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif