Karakter Siswa Perlu Diperkuat sebelum Kenal Teknologi
Ilustrasi jaringan teknologi, Medcom.id - M Rizal
Jakarta: Sebanyak 51 juta anak berstatus sebagai pelajar di Indonesia. Namun, hanya 25 persen dari mereka yang melek teknologi. Tapi, mereka harus mendapat pemerataan mengenai penguatan pendidikan karakter (PPK).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan hanya sebagian kecil dari jumlah pelajar yang siap memanfaatkan teknologi untuk belajar. Lantaran itu, ia tak mau buru-buru mengubah sistem pendidikan menjadi berbasis pada penguasaan teknologi.


Justru, menurut Muhadjir, penguatan karakter siswa lebih penting ketimbang penguasaan teknologi. Sehingga, para siswa sudah memiliki perisai untuk melindungi diri mereka dari dampak negatif kecanggihan teknologi.

"Jadi, sebelum anak-anak diberi penguasaan keterampilan-keterampilan tertentu, termasuk keterampilan abad 21 (teknologi), maka karakternya harus diperkokoh dulu," ujar Muhadjir di SMA Pangudi Luhur 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 20 Maret 2018.

Program PPK menguatkan siswa-siswi Indonesia akan karakter dasar, literasi dasar, dan keterampilan dasar. Muhadjir membeberkan, karakter dasar terdiri atas lima indikator yakni keagamaan, nasionalisme, kemandirian, kejujuran, dan gotong royong

"Kemudian kalau penguasaan literasi itu harus menguasai literasi baca, tulis, digital, perbankan, literasi financial, dan literasi budaya. Literasi budaya juga sangat penting, Indonesia yang kaya dengan budaya jangan sampai pelajarnya tersekat dan tidak tahu menahu tentang budaya Indonesia," ungkap Muhadjir.

Sementara soal keterampilan dasar, siswa harus menguasai keterampilan abad 21 yaitu critical thinking and problem solving (daya berpikir kritis dan memecahkan masalah), creativity and innovation (kreatifitas dan inovasi), communication skill (kemampuan berkomunikasi), collaboration (kerja sama), serta confidence (membangun kepercayaan diri).

"Anak-anak kita ini sebagian besar sangat rendah percaya dirinya. Padahal mampu dan hebat, tetapi karena tidak memiliki self confidence. Saat ditanya apa yang dimiliki, mereka tidak bisa mengekspresikan," pungkas Muhadjir.



(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id