Salah satu fenomena perundungan nyata yang ditampilkan dalam drakor ini adalah istilah “Wi-Fi Shuttle”. Bagi penonton internasional, istilah ini mungkin terdengar asing atau sekadar fiksi belaka. Namun, di Korea Selatan, Wi-Fi Shuttle merupakan bentuk pemerasan siber (cyber-extortion) nyata yang sangat diwaspadai dan telah menghantui lingkungan sekolah sejak lama.
Awal Mula Istilah Wi-Fi Shuttle yang Viral di Dunia Nyata
Istilah ini pertama kali mencuat dan mengguncang publik Korea Selatan setelah sebuah unggahan anonim di komunitas online viral pada 4 Januari 2012 silam. Dalam unggahan memilukan tersebut, seorang siswa menceritakan penderitaannya yang dipaksa menjadi alat penyedia internet berjalan oleh teman-temannya.Korban diancam dan diintimidasi secara fisik agar mendaftar paket data internet tanpa batas atau unlimited data yang kala itu masih berbasis jaringan 3G dengan biaya bulanan yang sangat mahal bagi ukuran pelajar, yaitu lebih dari 55.000 Won atau sekitar Rp650 ribu lebih.
Tugas utama korban adalah wajib menyalakan fitur berbagi jaringan di ponselnya ke mana pun ia pergi di lingkungan sekolah. Tujuannya agar para pelaku perundungan bisa menikmati fasilitas Wi-Fi gratis untuk bermain gim, berselancar di media sosial, atau menonton video tanpa modal kuota mereka sendiri.
Kekerasan Fisik di Balik Putusnya Sinyal Internet
Menjadi Wi-Fi Shuttle bukan sekadar masalah kerugian finansial akibat tagihan internet yang membengkak. Korban mengalami tekanan mental dan ancaman kekerasan fisik yang konstan setiap detiknya.Jika koneksi internet tiba-tiba melambat, baterai ponsel korban habis, atau jika korban berjalan terlalu jauh dari jangkauan gawai para pelaku, maka korban akan langsung mendapatkan hukuman berupa pukulan, intimidasi, hingga penganiayaan fisik. Dalam unggahan lawas yang viral tersebut, korban bahkan menuliskan harapan yang tragis, ia berharap sekolah segera memasang fasilitas Wi-Fi gratis agar para pelaku melepaskannya dan penderitaannya bisa berakhir. Saat curhatan itu viral, fakta mengejutkan lainnya terungkap melalui kolom komentar. Banyak siswa Korea yang menanggapi dengan normalisasi yang mengerikan, seperti menuliskan,
"Setidaknya memang ada satu orang yang bertugas jadi Wi-Fi Shuttle di kelasku" atau "Saat ini aku sendiri pun sedang bertugas jadi Wi-Fi Shuttle di sekolah." Hal ini membuktikan bahwa praktik tersebut telah mengakar secara sistemik di beberapa sekolah.
Kehadiran Wi-Fi Shuttle dalam plot Teach You A Lesson menjadi pengingat yang kuat bagi penonton dan otoritas pendidikan bahwa pola perundungan remaja kini bertransformasi menjadi lebih samar namun jauh lebih menyiksa. Melalui penggambaran ini, serial tersebut berhasil memicu kembali diskusi publik global mengenai urgensi penanganan kesehatan mental dan perlindungan anak dari bahaya cyberbullying yang makin variatif.
(Fany Wirda Putri)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda