Peragaan Busana siswa SMK, Medcom.id/Rhobi Shani.
Peragaan Busana siswa SMK, Medcom.id/Rhobi Shani.

Busana Rancangan Siswa Kudus Melenggang di Paris

Pendidikan Pendidikan Vokasi
Rhobi Shani • 26 Juni 2019 11:34
Kudus: Busana rancangan dua siswa dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dipamerkan di Paris, Prancis. Keduanya merupakan siswa kelas XII SMK NU (Nahdlatul Ulama) Banat Kudus. Mereka adalah Fitria Noor Aisyah, 19 tahun, dan Farah Aurellia Majid, 17 tahun.
 
Farah menceritakan, pengalaman pertama terbang ke Paris merupakan hal yang sangat mengesankan. Apalagi bertandang ke pusat model busana dunia guna mengenalkan hasil karyanya.
 
“Apalagi yang memeragakan model profesional di Paris,” ujar Farah di Kudus, Rabu, 25 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Helatan yang diselenggarakan oleh Indonesian Fashion Chamber (IFC) itu juga diikuti oleh 20 desainer senior asal Tanah Air. Farah dan Fitria jadi perwakilan siswi SMK di Indonesia.
 
Keduanya sepakat membawa desain busana dari kain tenun Troso Jepara. Ada sekitar 30 busana yang dibawa ke Paris. Tema yang mereka angkat dalam rancangan tersebut yaitu Troso Nimbrung.
 
“Troso Nimbrung itu kami pilih dengan paduan warna-warna laut, karena Jepara daerahnya berbatasan dengan pantai,” kata Farah.
 
Baca:Pemerintah Cari Cara Agar Vokasi Lebih Nendang
 
Lebih dari itu, model busana yang mereka desain yaitu Wear Modes. Busana yang bisa dikenakan oleh siapa saja tanpa menilik latar belakang agama.
 
“Kami pilih Wear Modes supaya bisa dikenakan baik perempuan beragam Islam maupun nonmuslim. Sebab, dalam model yang memeragakan busana kami dari Paris semua,” ucap Farah.
 
Dari hasil desain Troso Nimbrung, Fitria menambahkan, mendapat animo meriah dari masyarakat Paris yang menonton peragaan busana tersebut. Apalagi saat mereka tahu ternyata yang mendesain merupakan gadis belia yang masih duduk di bangku sekolah.
 
Lho ternyata yang mendesain masih sangat muda,” kata Fitria menirukan tanggapan sejumlah orang di Paris.
 
Bakat yang mereka miliki sebagai desainer rupanya berbanding lurus dengan hobinya, yaitu menggambar. Meski begitu, keduanya memiliki perbedaan saat mendesain busana. Farah lebih senang dengan busana bernuansa haute couture. Sementara Fitria lebih gandrung mendesain busana bernuansa ready to wear.
 
Ready to wear desainnya simpel tapi memang enjoy saat saya mendesain itu,” ujar Fitria.
 
Kini keduanya baru saja lulus dari bangku SMK. Mereka juga sudah mendapat tawaran untuk ke ibu kota guna memperdalam keahliannya sebagai desainer.
 
Tanpa pikir panjang, keduanya sepakat. Sebab, mimpi untuk menjadi desainer andal Tanah Air semakin dekat.
 
“Kami akan memperdalam keahlian mendesain sampai benar-benar kami mahir. Tawaran itu datang dari pembimbing kami di IFC,” tutur Fitria.
 
Apa yang dicapai Farah dan Fitria saat ini tidak terlepas dari peran sekolah. Di bangku sekolah, mereka diajarkan untuk menjadi desainer andal. Mulai dari mengonsep, mendesain, memola, sampai produksi busana didalaminya di SMK yang hanya memiliki satu jurusan itu, yakni tata busana.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif