Mahasiwa Poman Astra mengikuti praktikum di Politeknik Manufaktur Astra, ANT/Hafidz Mubarak.
Mahasiwa Poman Astra mengikuti praktikum di Politeknik Manufaktur Astra, ANT/Hafidz Mubarak.

Lulusan Politeknik Belum Banyak Dilibatkan dalam Pembangunan

Pendidikan Pendidikan Vokasi
Kautsar Widya Prabowo • 04 Januari 2019 17:51
Semarang: Lulusan Politeknik dirancang untuk menjadi tenaga ahli yang baik bagi Dunia Usaha Dan Dunia Industri (DUDI). Hal tersebut didukung dengan adanya Teaching Factory atau pembelajaran berdasarkan standar bekerja yang sesungguhnya.

Namun sayangnya, Direktur Politeknik ATMI Surakarta, Agus Sriyono melihat pemerintah Indonesia masih jarang melibatkan lulusan politeknik dalam pembangunan nasional. Padahal pembelajaran Teaching Factory akan lebih baik jika diarahkan mengikuti permintaan pasar.

"Keputusan pemerintah, kita butuh 1.000  tukang bubut, itu diinformasikan kepada politeknik, sampai sekarang belum ada, kurikulum harus diintegrasikan," ujar Agus dalam Rakernas Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Jumat, 4  Januari 2018. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Selain itu, keterlibatan DUDI dalam menyediakan instruktur pengajar serta ketersedian mesin ikut berperan.  Sehingga ketersediaan pengajar akan mencetak lulusan Politeknik yang berkompetensi sesuai kebutuhan industri.  Baca: Universitas Jember Buka Program Studi Teknik Pertambangan

Pasalnya keberhasilan politeknik dinilai dari seberapa banyak lulusan yang diserap oleh perusahan - perusahan.  "DUDI harus ikut merumuskan profil lulusan, sebab DUDI adalah calon pengguna lulusan Politeknik," tambahnya.

Lebih lanjut, lulusan politeknik yang berkualitas dapat mendukung Instruksi Presiden (Inpres) Nomer 9 Tahun 2016, dalam meningkatkan mutu sekolah kejuruan. Lebih-lebih menjadi solusi atas ledakan demografi dan penerapan revolusi industri 4.0. 

Maka alangkah baiknya permasalahan yang ada, dapat diselesaikan dengan adanya koordinasi antara Kementerian, dan lembaga terkait. "Sejumlah Kementerian terkait harus duduk dan merencanakan bersama," imbuhnya. 

Pemerintah Indonesia juga dapat mencontoh negara-negara di benua Asia maupun Eropa, seperti Swiss, Jerman, Jepang dan Tiongkok, negara yang berhasil mengembangkan kualitas mutu vokasi.

"Kualitas dan kuantitas pendidikan vokasi ikut menentukan masa depan negara," pungkasnya



(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi