Mendikbud, Nadiem Makarim. Foto: Instagram
Mendikbud, Nadiem Makarim. Foto: Instagram

Nadiem, Skor PISA Jadi Tolok Ukur Keberhasilannya Sebagai Mendikbud

Pendidikan Kebijakan pendidikan Nadiem Makarim
Ilham Pratama Putra • 27 November 2020 15:09
Jakarta: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim mengatakan kepemimpinannya dapat dikatakan sukses apabila skor PISA (Programme for International Student Assessment) meningkat. Naiknya skor Pisa menjadi salah satu tolok ukur dalam upaya transformasi sistem pendidikan Indonesia.
 
"Saya sebenarnya ingin melihat angka PISA naik, itu tolok ukurnya," ungkap Nadiem dalam siaran langsung di akun Instagramnya bersama aktris Maudy Ayunda, Jumat, 27 November 2020.
 
Tapi dia menyebut keberhasilan itu hanya dapat dilihat setelah masa jabatannya berakhir. Tidak mungkin, kata Nadiem, peningkatan skor PISA terjadi dalam lima tahun ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Enggak mungkin ya dalam waktu yang pendek empat sampai lima tahun. Saya ingin lihat PISA kita mungkin enam sampai tujuh tahun dari sekarang (meningkat), walaupun saya udah enggak di sini ya (sebagai Mendikbud)," ungkapnya.
 
Skor PISA Indonesia saat ini berada di angka rata-rata 371. Sedangkan rerata negara-negara OECD (Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) berada di skor 487.
 
Begitu juga indikator keberhasilan lainnya dari program Nadiem. Salah satunya adalah sekolah penggerak yang merupakan salah satu bagian dari Merdeka Belajar bisa mulai berinovasi dalam pembelajarannya.
 
"Guru penggerak pun juga diharapkan sama, dengan objektifnya adalah berapa dari mereka yang sudah menjadi kepala sekolah setelah mengikuti program tersebut. Itu akan menjadi matriks yang luar biasa pentingnya buat Saya," tambahnya.
 
Baca juga:  Kemendikbud Gandeng Sejumlah Industri Perhotelan di Lampung
 
Lalu adanya keberanian sekolah dalam menggunakan kurikulum yang adaptif serta fleksibel. Sekolah tidak hanya berpatokan pada apa yang diajarkan para guru, namun berdasarkan kemampuan peserta didiknya melalui asesmen.
 
"Jadi sekolah melihat menganalisa anaknya dikasih kuis sama diagnosis. Jadi sekolah melihat kurikulum itu sebagai yang harus cocok dan pas buat kelompok-kelompok muridnya, bukan apa yang ditentukan sama Kemendikbud, untuk kita memberikan fleksibilitas itu," terang Nadiem.
 
Kemampuan kepemimpinannya dirasa berhasil jika terjadi kecepatan dan keberhasilan mengerjakan suatu proyek dalam kelas. Menurutnya, ini akan menjadi hal penting untuk peningkatan kualitas SDM di masa mendatang.
 
"Salah satu hal lain yang terpenting adalah berapa persentase waktu anak-anak kita mengerjakan project based learning," tutup Nadiem.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif