Rektor IPB, Arif Satria di  Kantor Pusat Food Agriculture Organization (FAO) Roma, Italia, Foto/Dokumentasi IPB.
Rektor IPB, Arif Satria di Kantor Pusat Food Agriculture Organization (FAO) Roma, Italia, Foto/Dokumentasi IPB.

Rektor IPB Sumbang Solusi Pertanian Digital di FAO Roma

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 14 Juni 2019 13:47
Jakarta: Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria menyampaikan pokok-pokok pikiran dalam pertemuan tentang “Digital Agriculture: Challenges to be Addressed”. Acara tersebut digelar pada 12-13 Juni 2019 di Kantor Pusat Food Agriculture Organization (FAO)Roma, Italia.
 
Rektor IPB mengusulkan, empat strategi pertanian digital yang dapat diterapkan untuk negara berkembang. Pertama, pengembangan masyarakat di pedesaan agar lebih siap dalam memanfaatkan inovasi digital.
 
IPB pernah mengembangkan peningkatan literasi digital petani di delapan provinsi dan 17 kabupaten bekerja sama dengan Kemenkominfo. Juga program Precision Village yang membantu masyarakat desa melakukan perencanaan desa presisi berbasis data dan teknologi digital dengan menerapkan pemetaan partisipatif berbasisdrone.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kedua, peta jalan riset Agro-Maritim 4.0. Peta jalan ini agar riset-riset lebih terarah, juga dengan hasil yang terukur dan bermanfaat secara konkrit di masyarakat.
 
Ketiga, kerangka implementasi konsep Agro-Maritim 4.0, agar pelaku usaha dari berbagai lapisan sosial mampu menerapkan model pertanian digital ini. "Ini penting karena pelaku agro-maritim di dunia ketiga beragam, ada yang sudah siap dengan teknologi dan ada yang belum," kata Arifdalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat, 15 Juni 2019.
 
Di sinilah kolaborasi antarpemangku kepentingan diperlukan, dan perlu dukungan lembaga internasional seperti FAO dan IFAD.
 
Baca:IPB Gandeng Dua BUMN Kembangkan Pertanian 4.0
 
Keempat, kata Arif, kerangka regulasi harus segera disiapkan, selagi implementasi pertanian digital ini belum cukup marak. Menurutnya, selama ini regulasi selalu terlambat dibandingkan dengan perkembangan teknologi.
 
"Dalam regulasi ini perlu ditekankan afirmasi untuk petani skala kecil sehingga mereka bisa menjadi bagian penting dalam transformasi pertanian modern ini," papar Arif.
 
Arifdiundang secara khusus oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Sedunia atau Food Agriculture Organization (FAO) Roma. Rektor IPB, yang merupakan satu-satunya pembicara dari unsur perguruan tinggi, memaparkan konsep IPB tentang Agromaritim 4.0 dan memperkenalkan 25 inovasi digital karya dosen dan mahasiswa IPB, baik untuk adaptasi maupun mitigasi perubahan iklim, serta untuk ketahanan pangan.
 
"Beberapa inovasi yang dikenalkan adalah tentang Fire Risk System (FRS) yang merupakan sistem digital yang mampu memprediksi kebakaran hutan untuk enam bulan ke depan di 10 Provinsi," tutur Arif.
 
Baca:Produk Inovasi Pertanian IPB Dilirik Eropa dan Amerika
 
Sistem ini sudah disampaikan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Begitu juga National Forest Monitoring untuk peringatan dini deforestasi.
 
Selain itu diperkenalkan juga Underwater Televisual System (UTS) untuk memonitor ekosistem bawah laut secara digital, dan TrekFish yang merupakan alat perekam jejak jalur penangkapan ikan yang penting untuk mendukung Seafood Import Monitoring (SIM) dan menjamin keterteluusuran.
 
Sementara itu untuk menunjang ketahanan pangan, inovasi IPB yang dipaparkan antara lain Smart Seed, merupakan aplikasi yang menggunakan satelit, pemodelan iklim, big data, dan internet of things berbasis android untuk 100 ribu petani sayuran di Indonesia. "Ada juga sistem pintar pengendalian hama dan penyakit tanaman, sistem pintar pengembangan agrologistik berbasis blockchain, serta PreciPalm yang merupakan sistem rekomendasi pemupukan presisi berbasis satelit agar pemupukan lebih efisien dan efektif," terang Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) terpilih 2020-2021.
 
Acara yang dibuka langsung oleh Director General FAO, Jose Graziano da Silva, dihadiri sekitar 250 peserta dari negara anggota baik para menteri, duta besar, para pejabat kementrian, serta pimpinan FAO dan lembaga multilateral. Hadir dalam forum ini Esti Andayani Duta Besar RI di Roma didampingi Atase Pertanian Ida Ayu Ratih.
 
Dalam kesempatan tersebut Arif menyampaikan, bahwa pertanian digital sudah menjadi sebuah keniscayaan. Namun demikian juga perlu disadari bahwa kondisi dunia ketiga dicirikan dengan mayoritas petani skala kecil.
 
"Oleh karena itu, pengembangan pertanian digital menghadapi tantangan tersendiri," kata Arif.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif