NEWSTICKER
UI melalui Pusat Kajian Gizi Regional (PKGR) UI atau SEAMEO – RECFON meluncurkan policy brief Penerapan KTR di Sekolah. Foto: Medcom.id/ilham Pratama
UI melalui Pusat Kajian Gizi Regional (PKGR) UI atau SEAMEO – RECFON meluncurkan policy brief Penerapan KTR di Sekolah. Foto: Medcom.id/ilham Pratama

Kawasan Tanpa Rokok di Lingkungan Sekolah

Sekolah Bebas Rokok Akan Diselaraskan dengan 'Merdeka Belajar'

Pendidikan Merdeka Belajar
Ilham Pratama Putra • 19 Februari 2020 20:36
Jakarta: Implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di sekolah-sekolah akan diselaraskan dengan kebijakan Merdeka Belajar yang belum lama ini diluncurkan Mendikbud, Nadiem Makarim. Hal tersebut dilakukan, mengingat penerapan KTR di lingkungan sekolah kerap kali tidak efektif.
 
Kepala Bagian Kerja Sama Luar Negeri, Kemendikbud, Adi Nuryanto mengapresiasi hasil penelitianSEAMEO-RECFON (Southeast Asian Ministers of Education Regional Centre for Food and Nutrition) tentangPembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul Melalui Pengendalian Tembakau dan Penerapan KTR di Lingkungan Sekolah. Hasil penelitian ini nantinya akan diselaraskan dengan kebijakan 'Merdeka Belajar' yang diluncurkan Mendikbud, Nadiem Makarim beberapa waktu lalu.
 
"Ini juga akan diselaraskan dengan program Bapak Mendikbud, ini akan masuk ke dalam asesmen karakter Merdeka Belajar," kata Adi di Jakarta, Selasa, 18 Februari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bahkan di episode Merdeka Belajar berikutnya tindak lanjut dari efektivitas KTR di lingkungan sekolah akan dimasukkan secara mendetail di dalam asesmen pengganti UN tersebut. "Di episode berikutnya akan lebih detail bagaimana membangun sekolah yang sehat untuk mendukung Indonesia unggul. Karena kalau manusianya sehat maka akan siap menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Adi.
 
Deputi Koordinasi Bidang Peningkatan Kesehatan, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Agus Suprapto mengatakan, implementasi KTR di lingkungan pendidikan belum efektif. Untuk itu, guru, siswa, dan seluruh pegawai di sekolah didorong berkomitmen untuk setop merokok.
 
"Kalau perlu siswa, guru hingga pegawai ini digandeng untuk menjadi agen antirokok. "Bisa enggak anak-anak di sekolah jadi agen antirokok. Berani tidak siswa diajak berjanji untuk seumur hidup tidak merokok, lalu diberi sertifikat," serunya.
 
Untuk diketahui, Pusat Kajian Gizi Regional (PKGR) UI atau SEAMEO – RECFON (Southeast Asian Ministers of Education Regional Centre for Food and Nutrition) meluncurkan dua usulan kebijakan berupa “Percepatan Penanganan Stunting dengan Pemanfaaatan Pajak dan Cukai Rokok” dan “Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul Melalui Pengendalian Tembakau dan Penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Lingkungan Sekolah.
 
"Penerapan KTR akan kurang bermakna jika pihak terkait di dalamnya tidak dipaksa untuk berhenti merokok," tegas Agus.
 
Sementara itu, Peneliti SEAMEO/ REFCON Grace Wangge memaparkan hasil penelitiannya, berdasarkan data dari Pusat Kajian Jaminan Sosial UI (PKJS UI), anak dari keluarga perokok terbukti 5,4 kali lebih rentan mengalami stunting dibanding anak dari keluarga tanpa rokok.
 
Untuk itu, ia mengapresiasi kebijakan pemerintah terkait kenaikan cukai rokok sebesar rata-rata 23% pada 1 Januari 2020. Namun, ia berharap alokasi cukai rokok di bidang kesehatan perlu dikawal, khususnya pengalokasian pajak rokok dan DBHCHT untuk kesehatan, yang hingga kini belum diimplementasikan secara maksimal dalam program pencegahan dan promosi penanganan stunting.
 
Grace menambahkan, pihaknya merekomendasikan sejumlah kebijakan. Pertama mengintegrasikan materi mengenai bahaya tembakau dan rokok bagi kesehatan dan gizi ke dalam kurikulum pendidikan anak sekolah sedini mungkin, selambat-lambatnya mulai pada level sekolah menengah tingkat pertama.
 
Kedua, upaya pengendalian tembakau dan penerapan KTR di sekolah dijadikan salah satu indikator kinerja dinas terkait, guru dan kepala sekolah dan dilakukan evaluasi secara periodik. Ketiga, upaya perbaikan gizi anak sekolah, terutama di daerah yang mempunyai angka prevalensi keluarga dengan perokok yang tinggi.
 
Keempat membuat kebijakan mengenai pendidikan orang tua (parenting) tentang akibat rokok bagi kesehatan dan kesejahteraan anak. Salah satunya melalui pertemuan orang tua murid dengan guru di sekolah untuk memberikan orientasi kepada orang tua mengenai dampak merokok terhadap kesehatan anak.
 
“Data di lapangan menunjukkan bahwa 32,1% anak sekolah (rentang usia 10-18 tahun) di Indonesia pernah mengonsumsi produk tembakau. Pihak Sekolah juga perlu menyadari bahwa terdapat hubungan erat antara prestasi belajar anak dengan pola konsumsi keluarga perokok," ujarnya.
 
Muchtaruddin Mansyur, Direktur PKGR UI/SEAMEO – RECFON menambahkan, adanya kebiasaan orang tua merokok di rumah juga mendorong anak untuk ikut merokok. Hemat dia, perilaku merokok dalam keluarga terbukti memengaruhi kesehatan dan status gizi anak, tidak hanya pada anak usia sekolah juga balita.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif