Lagi, bocah adang truk demi konten Medsos. Foto: Dok/Metro TV
Lagi, bocah adang truk demi konten Medsos. Foto: Dok/Metro TV

Challenge Malaikat Maut, Peneliti UGM Ingatkan Media Sosial Bagaikan Pedang Bermata Dua

Renatha Swasty • 30 Juni 2022 11:07
Jakarta: Banyak remaja tengah keranjingan “Challenge Malaikat Maut” dengan menghadang truk yang tengah viral di media sosial Tiktok. Kasus ini terus berulang dan memakan korban jiwa di berbagai tempat, seperti Banten, Bandung, dan Bekasi. 
 
Pusat Kajian Masyarakat Digital atau Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada (UGM), Faiz Rahman, menyebut platform media sosial perlu lebih aktif mendeteksi berbagai konten yang mendorong orang untuk melakukan aksi membahayakan keselamatan. Selain itu, perlu perhatian serius dari berbagai pihak, baik pemerintah, orang tua, dan masyarakat umum. 
 
“Saat ini, banyak orang mencoba peruntungan untuk menjadi viral di media sosial dengan membuat konten. Tidak jarang, tren viral yang diikuti masyarakat merupakan sesuatu yang dapat membahayakan diri, khususnya apabila aksi tersebut diikuti oleh anak,” kata Faiz dikutip dari laman ugm.ac.id, Kamis, 30 Juni 2022. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Faiz menyebut di tengah masifnya era digitalisasi, media sosial berperan bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, media sosial berperan sebagai sarana komunikasi. Di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi titik berangkat terjadinya malapetaka. 
 
Dia mengatakan media sosial juga memegang peranan penting dalam menyaring konten yang dapat membahayakan keselamatan. “Platform media sosial perlu lebih aktif dalam mendeteksi berbagai konten yang mendorong orang untuk melakukan aksi yang membahayakan keselamatan,” tutur dia. 
 
Penegakan regulasi di platform media sosial dan moderasi konten berbahaya menjadi salah satu langkah pertama dan utama yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebarluasan konten yang mendorong seseorang membahayakan keselamatan dirinya sendiri. Di samping itu edukasi literasi digital juga harus ditingkatkan. 
 
“Pemerintah memiliki peranan signifikan dalam menyiapkan dan memfasilitasi kegiatan edukasi yang mumpuni bagi masyarakat. Berbagai kegiatan literasi digital yang telah dilakukan oleh lembaga pemerintah, bekerja sama dengan berbagai platform media sosial, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, hingga komunitas perlu untuk semakin di masifkan guna meningkatkan literasi digital masyarakat,” papar dia. 
 
Selain itu, akomodasi literasi digital dalam kurikulum pendidikan formal juga semakin menunjukkan urgensi. Mengingat, dampak negatif dari penggunaan media sosial semakin banyak menyasar anak-anak dan remaja. 
 
Selain platform media sosial dan pemerintah, orang tua memiliki posisi sentral untuk mengedukasi anak dalam bermedia sosial. Dia menyebut orang tua juga harus memiliki tingkat literasi digital mumpuni. 
 
Sehingga, dapat menjadi contoh dan memberikan edukasi maksimal bagi anaknya untuk dapat menyaring dan merespons berbagai informasi yang diterima. Orang tua juga perlu melakukan pengawasan dan memberikan pengertian kepada anak untuk tidak melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri untuk kepentingan konten media sosial. 
 
Sementara itu, bagi pembuat konten, Faiz mengingatkan insiden yang terjadi belakangan ini seharusnya juga dapat menjadi pelajaran. Pembuat konten juga mesti memperhatikan aspek keselamatan ketika membuat konten di media sosial. 
 
“Penyebaran konten yang membahayakan diri menjadi pekerjaan rumah bersama. Peningkatan literasi digital dan moderasi konten menjadi dua kunci utama yang perlu diperhatikan oleh berbagai pihak untuk meminimalisir dampak negatif dari penggunaan dan penyalahgunaan media sosial,” tutur dia. 
 
Baca juga: Demi Konten Medsos, 3 Remaja Adang Truk dan Nyaris Tertabrak

 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif