Presiden Joko Widodo menerima kedatangan perwakilan siswa dan siswi OSIS SMA berprestasi se-Indonesia di Istana Bogor, MI/Ramdani.
Presiden Joko Widodo menerima kedatangan perwakilan siswa dan siswi OSIS SMA berprestasi se-Indonesia di Istana Bogor, MI/Ramdani.

Jalur Ketua OSIS, Cara IPB Menjaring Bibit Unggul Pemimpin

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 11 Juni 2019 07:07
Jakarta: Institut Pertanian Bogor (IPB) mencari calon mahasiswa unggul yang tidak hanya bertumpu pada keunggulan akademik, tetapi juga keunggulan karakter dan softskill. Untuk itulah, sejak 2018 lalu IPB membuka jalur alternatif untuk kuliah di kampusnya, yaitu jalur Ketua OSIS.
 
Sepanjang awal hingga pertengahan tahun ini, merupakan waktu bagi siswa kelas XII SMA sederajat menentukan pilihan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi (PT). Seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) membuka kuota calon mahasiswa barunya untuk diperebutkan di berbagai jalur seleksi, mulai dari jalur seleksi yang bersifat nasional, mandiri, maupun jalur alternatif yang mempertimbangkan prestasi nonakademik.
 
Tidak terkecuali IPB, kampus yang menjadi perintis jalur tanpa tes, di mana model ini kemudian diadopsi pemerintah ke dalam sistem Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Sesuai dengan aturan dalam Peraturan Menristekdikti, IPB juga membuka jalur tes tulis nasional melalui Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemudian ada lagi jalur mandiri yang sifatnya khas perguruan tinggi masing-masing. "Di IPB ada jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) yang tanpa tes dan juga Ujian Talenta Mandiri (UTM) yang basisnya tes, serta jalur prestasi," terang Rektor IPB, Arif Satria, di Jakarta, Senin, 10 Jui 2019.
 
Diakui Arif, mayoritas jalur masuk perguruan tinggi dibuka berdasarkan kompetensi akademik yang dilihat dari nilai rapor atau nilai tes. "Artinya hanya bertumpu pada ranah kognisi," terangnya.
 
Baca:Skema Baru SBMPTN Tekan Tingkat Kegagalan Menembus PTN
 
Padahal, kata Arif, kesuksesan orang tak semata karena IQ (Intelligence Quiotient) yang tinggi atau lulus dengan nilai terbaik. Bahkan Thomas Stanley, penulis sekaligus pakar teori bisnis merilis hasil risetnya, bahwa IQ hanya berada di urutan 21 sebagai faktor penentu kesuksesan seseorang.
 
Sementara sekolah di sekolah favorit juga berada di urutan 23, kemudian lulus dengan nilai terbaik di urutan 30. Justru yang menempati 10 besar faktor sukses seseorang adalah karakter dan softskill. "Ini yang membuat IPB mencoba membuka jalur seleksi alternatif yang tidak hanya bertumpu pada kecerdasan akademik, namun juga karakter dan softskill,yakni jalur seleksi Ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah)," ungkap mantan dekan termuda IPB ini.
 
Pertimbangannya, kata Arif, Ketua OSIS adalah pemimpin siswa yang memiliki pengalaman memimpin, mengambil keputusan, mengorganisasi, menggerakkan orang, melobi, negosiasi, menyelesaikan konflik, dan berbuat sesuatu untuk orang lain secara ikhlas. "Mereka sudah terbiasa memikirkan sesuatu di luar kepentingan dirinya sendiri," terang Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) terpilih periode 2020-2021.
 
Tidak hanya itu, Ketua OSIS SMA pada umumnya adalah juga aktivis OSIS semasa di jenjang SMP/sederajat. "Artinya ketua OSIS SMA adalah hasil proses pembinaan siswa SMP selama tiga tahun," kata Arif.
 
Baca:IPB Bidik Masuk 500 PT Dunia di 2019
 
Dengan demikian, ketua OSIS SMA adalah orang yang selama minimal 5-6 tahun terbiasa memimpin dan mengorganisasi kepentingan di luar dirinya sendiri. "Tentu kematangan sosialnya relatif lebih baik dari teman-temannya yang bukan aktivis karena diasah dan digembleng selama 5-6 tahun," paparnya.
 
Menurut Arif, ketua OSIS perlu diberi jalur khusus untuk masuk ke dalam kampusnya. Sebab dengan kegiatan organisasi tersebut seringkali menyita perhatian dan alokasi waktu untuk urusan akademis.
 
"Mereka banyakmengurus publik di luar kepentingan pribadinya maka ketua OSIS ini berpotensi prestasi akademiknya tidak dalam posisi puncak," jelasnya.
 
Padahal, menurut Arif, mereka adalah bibit unggul, namun tidak tertangkap radar karena ukuran seleksinya adalah berbasis keunggulan yang berbeda. Basis seleksi selama ini adalah prestasi akademik, sementara basis keunggulan mereka adalah softskill.
 
"Karena itu penting untuk memperluas basis seleksi dari hanya sekedar keunggulan akademik ke dalam basis baru yang bisa mencakup keunggulan softskill,"terang Arif.
 
Rekrutmen ketua OSIS inilah yang menjadi salah satu pendekatan short cut IPBuntuk mendapatkan bibit unggul calon pemimpin. Diperlukan upaya ekstra untuk memperkuat jiwa kepemimpinan mahasiswa bila kualitas mahasiswanya tidak berlatar belakang pemimpin.
 
"Dengan ketua OSIS maka proses pembinaan dan pengembangan kepemimpinan mahasiswa akan jauh lebih mudah," terang Dia.
 
Karena itulah softskill kepemimpinan dan kewirausahaan amat penting untuk digenjot di perguruan tinggi. Apalagi dengan visi IPB menjadi techno- socio enterpreneurial university semakin menuntut penguatan softskill kepemimpinan dan kewirausahaan.
 
"Akan tetapi, tipe kepemimpinan dan kewirausahaan era milenial 4.0 ini berbeda. Kini lebih memerlukan literasi baru dengan kelincahan, kecepatan, dan kreativitas lebih. Inilah yang akan IPB siapkan untuk mahasiswanya sebagai pemilik masa depan," tutupnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif