Wakil Rektor Uhamka, Lelly Qodariah.  Foto:  Medcom.id/Candra Yuri Nuralam
Wakil Rektor Uhamka, Lelly Qodariah. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam

Budaya Dialog di Kampus Jauhkan Mahasiswa dari Radikalisme

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi
Candra Yuri Nuralam • 07 Oktober 2019 14:03

Jakarta: Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) secara rutin menggelar dialog berupa seminar dengan para mahasiswa dengan memilih sejumlah tema kekinian. Budaya berdialog ini terus dibangun oleh Uhamka untuk menyalurkan daya kritis sekaligus menjaga peluang masuknya paham-paham radikal ke dalam kampus.
 
"Mereka bisa diaolog, tidak ada fanatisme yang bisa menjadikan fatalis atau karena frustasi dan mengarahkan ke arah seperti itu (radikal)," kata Wakil Rektor Uhamka, Lelly Qodariah kepada Medcom.id di Kampus FEB Uhamka, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin, 7 Oktober 2019.
 
Lelly mengatakan, pihaknya sering membuat seminar internasional dari beberapa perwakilan negara Islam di dunia. Para perwakilan dunia nantinya akan memberikan wejangan kepada para mahasiswa terkait bahaya radikalisme.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menilai, strategi ini merupakan cara paling ampuh untuk menghilangkan paham tersebut. Dia yakin pola pikir mahasiswanya bisa tercerahkan dengan berbagai informasi dan pengetahuan yang disampaikan melalui seminar-seminar tersebut.
 
"Bagi saya radikalisme itu berdasarkan pola pikir, tetapi pola pikir yang kita arahkan kepada keterbacaan mereka terhadap informasi dunia dan yang didapat. Maka perlu dicerdaskan supaya bisa memilah. Bagi saya di Uhamka tidak sampai kepada pemikiran yang seperti itu," ujar Lelly.
 
Lelly mengatakan, paham radikal kerap mencuci otak para pemuda melalui informasi yang diserap. Untuk itu, menurutnya, para mahasiswa perlu dibimbing untuk bisa memilah informasi yang masuk kepadanya.
 
Dia juga sering menekankan kepada mahasiswanya tentang bahaya radikalisme. Dia selalu menegaskan bahwa paham itu hanya pemanfaatan politik untuk kelompok-kelompok tertentu.
 
"Ini kan dibangun dari keterbacaan mereka dari foto, video baik informasi dunia. Namun radikalisme itu dibangun oleh pola politik dan bukan cuma ideologi keagamaan untuk penguasaan pihak tertentu," tandasnya.


 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif