Ilustrasi politeknik, MI/Rommy Pujianto.
Ilustrasi politeknik, MI/Rommy Pujianto.

Wapres Tinjau Pendidikan Vokasi di Swiss

Pendidikan Pendidikan Tinggi Pendidikan Vokasi
Antara • 17 Mei 2019 12:56
Jenewa: Wakil Presiden Jusuf Kalla meninjau pelaksanaan pendidikan vokasi di Swiss saat mengunjungi Institut Federal Swiss Bidang Pendidikan Kejuruan dan Pelatihan (SFIVET).
 
"Di sini 80 persen anak-anak tamat SMA itu larinya ke vokasi," kata Wapres JK usai mengunjungi SFIVET, Kota Lausanne, Swiss, Kamis, 17 Mei 2019.
 
Menurut Wapres seperti dilansir dari Antara, pemerintah Indonesia saat ini juga memfokuskan untuk mengembangkan SDM melalui pendidikan vokasi. JK menjelaskan, untuk membangun hal itu, diperlukan penguatan lembaga penunjang pendidikan atau pelatihan kejuruan seperti balai latihan kerja, pendidikan setingkat SMK, serta politeknik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Oleh karena itu maka ini kembali memperbaiki setelah sekian tahun pasti banyak perubahan (pembangunan pendidikan kejuruan)," ujar Wapres.
 
Usai peninjauan acara itu, Wapres juga menyaksikan penandatanganan MoU antarswasta. Sejumlah lembaga pendidikan di bawah Sinar Mas yakni Poltek Simas Berau, Institut Teknologi dan Sains Bandung (ITSB), dan Universitas Prasetiya Mulya.
 
Baca:Gaji Lulusan Vokasi di Jerman Setara dengan Profesor
 
Poltek Simas Berau dan ITSB menandatangani MoU bersama Swiss International Technical Connection (SITECO), serta Universitas Prasetiya Mulya dengan International Management Institute (IMI). Langkah memperkuat kualitas dan jangkauan pendidikan vokasi di Indonesia, dilakukan Sinar Mas dengan menggandeng lembaga yang memiliki rekam jejak terbaik di ranah vokasi.
 
“Kemitraan ini membuat kami mendapatkan model pendidikan dual system terbaik yang dapat direplikasi oleh lembaga pendidikan vokasi yang kami kelola di Indonesia,” ujar Presiden Komisaris Berau Coal, G. Sulistiyanto.
 
Menurut Sulistiyanto, pihaknya telah berinisiatif menerapkan pendekatan dual system, “Di mana kami dapat menjaring sumber daya manusia, khususnya potensi setempat, dengan kapasitas yang sesuai kebutuhan dan karakteristik pilar bisnis kami," ujarnya.
 
Selain itu, langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah mendorong keterlibatan sektor industri guna berbagi pengetahuan, kompetensi dan kecakapan dalam menghasilkan sumber daya siap kerja. "Sistem ini melibatkan sektor industri untuk turut dalam penyusunan kurikulum pendidikan tinggi yang memadukan pembelajaran sebanyak 30 persen dan 70 persen berupa praktik di lingkungan kerja, sesuai kebutuhan industri terkait," tutup Sulistiyanto.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif