Ilustrasi. Foto: MI/Sumaryanto Bronto
Ilustrasi. Foto: MI/Sumaryanto Bronto

FSGI Sebut Siswa Bosan Belajar Daring

Pendidikan Virus Korona Pembelajaran Daring
Muhammad Syahrul Ramadhan • 01 April 2020 20:19
Jakarta: Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim menyebut banyak pengaduan siswa yang mengaku bosan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar daring. Pembelajaran daring justru hanya jadi ajang guru memberikan tugas kepada murid.
 
“Jadi kami melihat ada paradoks dalam PJJ ini menjadi membosankan. Itu paling banyak laporan kami terima dari siswa,” kata Satriwan dalam diskusi daring Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan FSGI, Jakarta, Rabu, 1 April 2020.
 
FSGI tak memungkiri keluhan ini. Data FSGI, kata dia, guru masih banyak yang hanya memberikan tugas selama belajar daring. Teknologi yang digunakan sebatas aplikasi pesan singkat Whatsapp. Kemudian, tugas diminta dikumpulkan ke alamat surel guru atau Whatsapp grup.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sudah e-learning, hanya tempat memberikan tugas, memberikan tugas Whatsapp grup, dikumpulkan ke email guru,” ungkapnya.
 
Baca:FSGI Akui Guru Masih Gagap Jalani Belajar Daring
 
Santriwan menilai, belum optimalnya PJJ secara daring ini karena banyak guru masih gagap teknologi (gaptek). Alhasil, guru tidak bisa memberikan pembelajaran yang menyenangkan.
 
“Dalam hal ini kegagapan menggunakan teknologi untuk pembelajaran jarak jauh,” ujarnya.
 
FSGI menyebut Dinas Pendidikan dan pengawas juga terlalu kaku menerapkan kebijakan PJJ. Sebab, guru harus membuat berita acara, mulai dari absensi, sampai materi pelajaran. Laporan ini wajib dikirim ke kepala sekolah, yang kemudian diteruskan ke Dinas Pendidikan.
 
"Di sini guru enggak bisa disalahkan 100 persen karena mental guru kita jujur saja, patuh birokrasi," ujarnya.
 
Santriwan mengatakan, siswa kerap jadi 'korban' peraturan kepala sekolah atau pemangku kepentingan terhadap para guru. Satu sisi harus membuat belajar daring efektif dan menyenangkan, namun di sisi lain terikat kewajiban laporan kerja yang ketat.
 
"Berharap sekolah pimpinan dinas pendidikan lebih fleksibel," ungkapnya.
 

(AGA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif