Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, Asep Saefuddin, Medcom.id/Annisa Ayu.
Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, Asep Saefuddin, Medcom.id/Annisa Ayu.

Tak Cukup Dipangkas, Bobot SKS Harus Diperdalam

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 12 Desember 2018 12:04
Jakarta:  Jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) perguruan tinggi di Indonesia dinilai masih berorientasi pada sisi kuantitatif. Ke depan, tidak hanya perlu dipangkas, namun juga perlu diperhatikan kualitas kedalaman materi di setiap mata kuliah.

Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Asep Saefuddin mengatakan beban Satuan Kredit Semester (SKS) perguruan tinggi di Indonesia memang masih berbasis kuantitas, bukan kualitas.  "Indikatornya sering berbasis pada jumlah, bukan kedalaman materi," terang Asep, kepada Medcom.id, Rabu, 12 Desember 2018.

Sementara perkuliahan di negara-negara maju seperti Amerika, Kanada, Jepang, dan Prancis, jumlah SKS jenjang S1 hanya berkisar 128-30 SKS saja. "Tetapi kedalaman untuk menguasai mata kuliah luar biasa beratnya," katanya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Untuk satu mata kuliah yang rata-rata berisi tiga SKS itu diberikan waktu 3x50 menit atau tiga kali pertemuan dalam satu minggu. "Bukan 150 menit dalam satu kali pertemuan," imbuh Asep. Dengan tiga kali pertemuan tersebut, mahasiswa bisa mengendapkan dulu materi-materi kuliah sebelum pertemuan ketiga. Selain itu mereka mendapat responsi atau pendalaman sekitar tiga jam per minggu.

Baca: Rektor IPB: 128 Jumlah SKS Ideal

Pendalaman ini biasanya dilakukan 1x3 jam atau 2x120 menit yang diberikan oleh asisten dosen. Di pertemuan ketiga, dosen juga wajib memberikan PR (assignment) yang harus dikumpulkan satu minggu berikutnya.

Sehingga umumnya, satu mata kuliah dengan 3 SKS, mahasiswa harus mengerjakan PR sebanyak 10-13 PR. Materi pendalaman biasanya membahas PR atau hal-hal yang belum dipahami mahasiswa. 

Bisa dibayangkan, bila mahasiswa mengambil 12 SKS atau empat mata kuliah, artinya mereka akan membuat PR sebanyak 40-52 buah. "Artinya kesibukan mereka untuk 12 SKS saja sudah sangat padat. Di Indonesia, 20 SKS masih tenang-tenang saja. Berarti materi tidak diberikan secara mendalam," kata mantan Rektor Universitas Trilogi ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah akan mengevaluasi kembali Sistem Kredit Semester (SKS) yang berlaku di perguruan tinggi jenjang strata 1 (S1).  Jumlah 144 SKS yang berlaku saaat ini berpotensi disederhanakan, sebab selama ini dinilai menghambat kreativitas dan membebani biaya kuliah.


(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi