SINTA Kemenristekdikti Award, Kemenristekdikti/Fatimah Larasati Harahap.
SINTA Kemenristekdikti Award, Kemenristekdikti/Fatimah Larasati Harahap.

Sinta Kemenristekdikti Diminta Jadi "Scopus"-nya ASEAN

Pendidikan Riset dan Penelitian
Kautsar Widya Prabowo • 07 Januari 2019 12:55
Jakarta: Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenistekdikti) melalui Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan (Risbang) tengah menyempurnakan pangkalan data pustaka untuk peneliti dalam negeri di kancah internasional. Penyempurnaan tersebut dilakukan melalui Science and Technology Index (Sinta) yang kini sudah mulai dilirik negara-negara di kawasan ASEAN.
 
Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan (Risbang), Kemenristekdikti Muhammad Dimyati menjelaskan, penyempurnaan tersebut dilakukan agar dapat digunakan sebagai rujukan dalam penelitian oleh masyarakat, baik di Indonesia maupun luar negeri. Pasalnya sudah ada negara tetangga yang melirik sistem yang telah diluncurkan pada Januari 2017 silam ini.
 
"Sekarang sudah diminta Thailand, Malaysia dan Vietnam untuk menjadi semacam Scopus (pangkalan data pustaka terbesar di Dunia) di level ASEAN," ujarnya di Jakarta, Senin, 7 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mengingat sistem tersebut masih memerlukan persiapan matang, maka pihaknya tidak ingin terburu-buru untuk melakukan publikasi. Diperkirakan tahun depan baru bisa dinikmati oleh semua pihak.
 
"Sehingga kita berjalan pelan-pelan tapi pasti," imbuhnya.
 
Baca:Tahun Ini IPB Buka Prodi Kopi
 
Selain itu, pihaknya melalui Direktorat Pengelolaan kekayaan intelektual, Ditjen Risbang Kemenristekdiktiakan mengedepankan pelatihan peningkatan kualitas jurnal-jurnal dalam negeri. Salah satu caranya dengan mendorong para asesor atau penguji untuk dapat meningkatan mutu penelitian.
 
Sehingga jumlah jurnal dalam negeri dapat terus meningkat hingga kurang lebih ditargetkan mencapai 3.000 jurnal. Saat ini jurnal yang berskala nasional jumlahnya sudah mencapai 2.218 jurnal.
 
"Tahun depan 3.000 (jurnal) akan kita sertifikasi sehingga asesornya mampu mengakses 3.000 jurnal," tambahnya.
 
Dengan demikian, pada 2020 jurnal nasional sudah banyak terakreditasi. Hal tersebut juga sebagai peluang untuk mengimplementasikan Peraturan Menteri Keuangan Nomer 106 tahun 2016, mendorong peneliti untuk melakukan perbaikan dalamoutputriset ketimbang pertanggung jawaban dalam administrasi.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi