Komisioner bidang Pendidikan KPAI, Retno Listyarti. Foto: Dok. KPAI
Komisioner bidang Pendidikan KPAI, Retno Listyarti. Foto: Dok. KPAI

KPAI: Kurikulum Sejarah Didominasi Perang, Kekerasan, dan Jawa Sentris

Pendidikan Kurikulum Pendidikan Penyederhanaan kurikulum
Citra Larasati • 20 September 2020 13:56
Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turut menanggapi polemik akan dihapuskannya mata pelajaran sejarah dalam penyederhanaan kurikulum yang tengah dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Wacana ini menimbulkan polemik di kalangan masyarakat pendidikan, terutama guru, dan akademisi.
 
Komisioner Bidang Pendidikan, KPAI, Retno Listyarti menilai wacana untuk menjadikan mata pelajaran sejarah sebagai pilihan (tidak wajib) di jenjang SMA, bahkan menghapus di jenjang SMK adalah tidak tepat. Semua anak, menurut Retno, baik di jenjang SMA ataupun SMK berhak mendapatkan pembelajaran sejarah dengan bobot dan kualitas yang sama.
 
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Bagaimana mau menghargai kalau pelajaran tersebut tidak diberikan," tegas Retno di Jakarta, Minggu, 20 September 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nilai-nilai yang dipelajari dalam sejarah bangsa merupakan nilai karakter nyata dan teladan bagi generasi muda. Pembelajaran sejarah juga dapat meningkatkan apresiasi terhadap karya para pendahulu, memberikan perspektif dan ukuran untuk menilai perjalanan bangsa
 
Namun sebagai mantan guru PPKn yang pernah mengajar selama 24 tahun, Retno menilai memang ada muatan-muatan kurikulum sejarah dan materi pelajaran sejarah yang harus diperbaiki. "Begitupun metode pembelajaran sejarahnya, mumpung Kemendikbud sedang menyederhanakan kurikulum," terang Retno.
 
Baca juga:Masyarakat Sejarawan Indonesia Tanggapi Isu Penghapusan Mapel Sejarah
 
Ia pun memerinci, kurikulum sejarah Indonesia terlalu didominasi oleh sejarah perang dan kekerasan (mulai dari Perang Bubat, Perang Diponegoro, Perang Padri, Perang Jawa, Perebutan tahta Singosari Ken Arok dan lain sebagainya). "Barangkali ini perlu diperbaiki agar generasi muda tidak salah menafsir seolah-olah sejarah bangsa kita penuh kekerasan sehingga nantinya dicontoh oleh generasi berikutnya. Dikhawatirkan generasi mudanya akan menyelesaikan masalah dengan kekerasan bukan dengan dialog," ungkap mantan Kepala Sekolah SMAN 3 Jakarta ini.
 
Padahal pembelajaran sejarah sejatinya dapat menjadi instrumen strategis untuk membentuk identitas dan karakter generasi muda sebagai penerus bangsa. Retno juga menilai, kurikulum sejarah juga didominasi oleh sejarah Jawa dan kurang memberikan tempat sejarah dari daerah lain.
 
"Sehingga, anak Papua, Aceh, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra dan lainnya belajarnya sejarah Jawa, padahal daerahnya juga memiliki sejarah yang layak dipelajari anak bangsa ini," ujarnya.
 
Pembelajaran sejarah oleh para guru selama ini, kata Retno, cenderung berbentuk hafalan. Bukan pemaknaan dan esensi nilai-nilai apa saja dari suatu peristiwa sejarah tersebut bagi perjalanan bangsa dan bagaimana peristiwa buruk bisa menjadi pembelajaran yang tidak boleh terulang di kemudian hari.
 
Akibatnya selama ini, pembelajaran sejarah cenderung membosankan bagi anak-anak, karena hanya hafalan seputar apa kejadian, di mana kejadiannya, siapa saja tokoh sejarahnya, kapan terjadinya dan di mana kejadiannya. Bagaimananya dari peristiwa sejarah itu jarang digali dan didalami melalui dialog.
 
"Kalau hafalan, cenderung mudah dilupakan dan tidak dipahami makna suatu peristiwa sejarahnya," terang Retno.
 
Baca juga:Pelajaran Sejarah Bakal Terus Jadi Bagian Kurikulum Pendidikan
 
Sebelumnya ramai diperbincangkan, Kemendikbud akan menempatkan mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran pilihan di SMA, bahkan menghilangkannya di SMK.
 
Rencana perubahan pendidikan sejarah di SMA/SMK tersebut tertuang dalam draf sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional tertanggal 25 Agustus 2020. Draf ini beredar di kalangan akademisi dan para guru, ini yang kemudian menjadi polemik di masyarakat.
 
Terkait polemik penghapusan mata pelajaran sejarah tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah membantah bahwa pihaknya akan menghapus mata pelajaran sejarah dari kurikulum pendidikan di Indonesia. Berdasarkan rilis yang diterima Medcom.id, yang ingin dilakukan Kemendikbud adalah penyederhanaan kurikulum.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif