Pemerhati pendidikan dan anak, Seto Mulyadi atau Kak Seto. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Pemerhati pendidikan dan anak, Seto Mulyadi atau Kak Seto. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

Kak Seto: UN Melanggar Hak Anak

Pendidikan Ujian Nasional
Muhammad Syahrul Ramadhan • 16 Desember 2019 14:09
Jakarta: Pemerhati pendidikan dan perlindungan anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto menyebut Ujian Nasional (UN) melanggar hak anak. Karena, nasib anak hanya ditentukan dari beberapa hari ujian.
 
"Hanya dua hari nasib anak bisa berubah, ini melanggar hak anak dan melanggar hak guru. Hak anak dinilai sebagaimana adanya, melalui suatu proses," kata Kak Seto dalam Diskusi Publik bertema "Pendidikan Wujudkan Generasi Berkualitas dan Mampu Bersaing di Era Persaingan Global", di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Senin, 16 Desember 2019.
 
Kak Seto menyebut, terkait hak guru harusnya guru yang berhak membuat penilaian, karena guru yang paling tahu kondisi siswa-siswinya. "Guru paling tahu. Potensi kompetensi siswa, kok diambil alih negara hanya melalui tes yang pilihan ganda dan sebagainya. Itu menjebak sekali," tegas Kak Seto.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bahkan UN, terang kak Seto, telah memicu penyimpangan ketika sekolah mempertaruhkan segalanya demi gengsi memiliki nilai UN yang baik. Ia menceritakan, salah satu temuannya adalah hasil UN yang diubah oleh sekolah.
 
"Saya pernah dengar sendiri, dari guru di luar jawa. Saya lihat hasilnya bagus, hebat sekali. Dia berbisik, ini sudah kami ganti. Itu kan hanya gengsi, kabupaten ini, kota ini. Ranking tinggi, ini syarat melanggar hak anak," ungkap pria kelahiran Klaten ini.
 
Meski begitu, Kak Seto mengatakan, evaluasi tetap diperlukan untuk mengukur sistem pendidikan nasional. Namun bentuknya tidak harus UN.
 
Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengeluarkan empat kebijakan Pendidikan Nasional 'Merdeka Belajar'. Salah satunya adalah mengganti UN pada 2021 nanti menjadi Asesmen Minimum Kompetensi dan Survei Karakter.
 
"Penyelenggaraan UN di 2021, akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Terdiri atas kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter," kata Nadiem.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif