Lulusan Program Double Degree UGM-Leeds, Kezia Uineke. DOK UGM
Lulusan Program Double Degree UGM-Leeds, Kezia Uineke. DOK UGM

Cerita Kezia Jalani Double Degree UGM-Leeds: dari Beda Sistem Lab hingga Teliti Kanker Ovarium

Renatha Swasty • 27 Agustus 2026 12:42
Ringkasnya gini..
  • Kezia Uineke lulus Program Double Degree IUP Biologi UGM dan University of Leeds dengan fokus pada bidang bioteknologi.
  • Dalam skripsinya, Kezia meneliti mutasi protein AHNAK2 dan PIK3CA pada kanker ovarium menggunakan pendekatan bioinformatika.
  • Pengalaman studi di dua negara memberinya perpaduan dasar akademik yang kuat, kemandirian riset, dan wawasan bisnis.
Jakarta: Belajar di dua negara tak membuat Kezia Uineke mengalami kesulitan berlebihan. 
Justru, kesempatan itu membuat dia menjadi belajar lebih mandiri hingga membentuk cara pandangnya terhadap ilmu dan rencana pendidikan yang akan ditempuhnya.
 
Setelah perjalanan panjang, Kezia berhasil menyelesaikan Program Double Degree S1 IUP Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan Leeds University, Inggris. Sebanyak 129 mahasiswa dari Fakultas Biologi mengikuti upacara Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM pada Rabu, 19 Agustus 2026. 
 
Ketertarikan Kezia mengikuti program double degree jauh sebelum menjadi mahasiswa UGM. Saat mencari informasi mengenai UGM, ia menemukan berbagai kerja sama dengan universitas di luar negeri dan mulai mengincar kesempatan mengikuti program itu. 

“Aku dari sebelum masuk UGM sudah merencanakan dan memang mengincar double degree-nya,” ujar Kezia dikutip dari laman ugm.ac.id, Kamis, 27 Agustus 2026.
 
Ketertarikannya semakin kuat karena minat Kezia pada bidang bioteknologi. Dia menilai bioteknologi memiliki banyak hal yang masih dapat dikembangkan, terutama untuk menghasilkan penerapan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. 
 
“Aku memang minatnya sebenarnya dari awal itu di biotek. Dan kebetulan waktu itu ada pilihan Biotech with Enterprise. Berarti kan ada biologinya, bioteknya, sama ada segi bisnisnya juga,” jelasnya.
 
Dia menyebut perpaduan antara ilmu biologi, bioteknologi, dan bisnis memberikan perspektif baru mengenai bagaimana ilmu pengetahuan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih aplikatif.

Cara belajar berbeda

Selama menjalani studi di University of Leeds, Kezia menemukan perbedaan dalam sistem pembelajaran yang ia jalani di UGM. Salah satu perbedaan paling terasa adalah kegiatan laboratorium. 
 
Kezia mengungkapkan praktikum di UGM dapat berlangsung dalam beberapa sesi pada berbagai mata kuliah. Sementara di Leeds kegiatan laboratorium cenderung lebih terfokus. 
 
Mahasiswa diberikan waktu lebih panjang untuk mengembangkan eksperimen dan menentukan sendiri bagian yang ingin mereka dalami.
 
“Kalau di sana itu semuanya fokus. Cuma ada satu atau dua lab tergantung mata kuliahnya ada lab atau enggak. Dan dari situ dikasih waktu biasanya satu bulan karena benar-benar kita disuruh mikir sendiri,” cerita dia.
 
Pembelajaran di Leeds juga tidak hanya berfokus pada pengetahuan atau aspek kognitif. Mahasiswa dilatih mengembangkan berbagai keterampilan yang mendukung proses penelitian, seperti melakukan eksperimen, membuat tulisan ilmiah, serta mempresentasikan hasil penelitian. 
 
Dia juga mendapatkan pengalaman untuk belajar menjelaskan penelitian dengan bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat luas. “Yang dipelajarin di situ bukan cuma yang kognitifnya, tapi juga skills-nya,” tutur dia.
 
Bagi Kezia, pengalaman tinggal di Leeds juga memberikan kesenangan sederhana. Ia menikmati lingkungan kota yang memungkinkan dirinya berjalan kaki dan mengamati perubahan musim. 
 
Ia mengaku senang melihat perubahan tumbuhan sepanjang tahun, termasuk ketika bunga mulai bermekaran dan lingkungan berubah mengikuti musim. “Musim dan tumbuhan yang berubah itu menarik banget untuk dilihat,” ungkap dia.
 
Cerita Kezia Jalani Double Degree UGM-Leeds: dari Beda Sistem Lab hingga Teliti Kanker Ovarium
Lulusan Program Double Degree UGM-Leeds, Kezia Uineke. DOK UGM

Susun skripsi dari penelitian

Pengalaman akademik di Leeds menjadi bagian penting dalam perjalanan skripsi Kezia. “Kalau di sana sistemnya kita milih supervisor. Jadi nanti dari supervisor itu, dia yang nentuin kita penelitiannya apa," beber dia. 
 
Setiap dosen di Leeds memiliki laboratorium dengan penelitian yang sedang berlangsung. Mahasiswa kemudian bergabung dalam penelitian itu. 
 
Meskipun topik penelitian ditentukan oleh supervisor, proses penelitian dan penulisannya tetap dikerjakan oleh mahasiswa. “Makanya mereka yang langsung keluarkan topiknya apa, tapi keseluruhannya seperti riset dan penulisannya itu kita yang ngelakuin,” kata dia.
 
Kezia mengerjakan skripsi berjudul Bioinformatics Analysis of AHNAK2 and PIK3CA Protein Mutations in Ovarian Cancer. Skripsinya dikerjakan berbasis penelitian di University of Leeds, menggunakan pendekatan bioinformatika untuk mempelajari mutasi protein yang berkaitan dengan kanker ovarium. 
 
Penelitian itu berangkat dari sebuah dataset yang memuat sejumlah protein yang mengalami mutasi pada kanker ovarium. Kezia kemudian memilih dua protein untuk dianalisis, yakni AHNAK2 dan PIK3CA.
 
Secara sederhana, ia membandingkan sekuens protein normal dengan sekuens yang mengalami mutasi. Dari perbandingan itu, ia mengamati perubahan yang terjadi, mulai dari lokasi mutasi, perubahan struktur protein, hingga kemungkinan dampaknya terhadap fungsi protein. 
 
“Intinya aku melihat perubahan di situ dan aku melihat dari strukturnya juga, kira-kira berubahnya bagaimana,” jelas dia.
 
Meski harus beradaptasi dengan lingkungan baru, Kezia tetap merasakan dukungan dari lingkungan UGM. Ia menyebut para dosen di UGM memberikan perhatian dan bantuan selama menjalani program double degree. 
 
Hubungan itu terasa lebih dekat dibandingkan dengan hubungan mahasiswa dan dosen di Leeds yang cenderung lebih formal. Mulai dari sistem administrasi hingga kendala akademik, dosen dan tendik UGM sangat terbuka. 
 
“Dosen-dosen yang di UGM benar-benar supportive dan siap membantu kapanpun,” ujar dia. 
 
Setelah menyelesaikan program double degree, Kezia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Ia merasa pengalaman belajar di UGM dan University of Leeds saling melengkapi. 
 
Pengetahuan yang diperoleh di UGM menjadi dasar akademik, sedangkan pengalaman di Leeds memberinya keterampilan berpikir dan melakukan penelitian lebih mandiri.
 
“Menurutku, bisa merasakan dua-duanya di waktu yang sama itu hal yang pastinya bantu aku buat berkembang banget,” ungkap dia.
 
Kezia mendorong mahasiswa yang memiliki kesempatan mengikuti program double degree tidak ragu mencobanya. Menurut dia, pengalaman semacam ini membuka perspektif baru mengenai pendidikan sekaligus kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya belum terpikirkan.
 
“Itu tidak cuma membuka perspektif baru, tapi juga kesempatan baru,” ujar Kezia.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan