Francis Halzen (dok. University of Wisconsin-Madison)
Francis Halzen (dok. University of Wisconsin-Madison)

Penerima Nobel Fisika 2026: Francis Halzen, Ungkap Misteri Partikel dari Luar Angkasa

Renatha Swasty • 08 Oktober 2026 07:03
Ringkasnya gini..
  • Francis Halzen dianugerahi Nobel Fisika 2026 atas kontribusinya membangun IceCube di Kutub Selatan dan menemukan neutrino berenergi tinggi.
  • IceCube memanfaatkan 1 km kubik es Antartika dengan ribuan sensor cahaya untuk mendeteksi neutrino yang berasal dari luar Tata Surya.
  • Penemuan neutrino astrofisika membuka era baru astronomi untuk mempelajari objek dan proses ekstrem di alam semesta secara presisi.
Jakarta: Nobel Fisika 2026 dianugerahkan kepada fisikawan Francis Halzen. Francis meraih penghargaan paling bergengsi itu atas kontribusinya dalam membangun IceCube Neutrino Observatory serta penemuan neutrino berenergi tinggi yang berasal dari sumber astrofisika.

Penghargaan itu diumumkan oleh The Royal Swedish Academy of Sciences. Sebenarnya, siapa Francis Halzen? Yuk intip profilnya berikut ini. 

Mengenal Francis Halzen

Halzen merupakan profesor di University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat. Ia lahir pada 1944 di Tienen, Belgia, dan memperoleh gelar PhD dari KU Leuven pada 1969.

Halzen merupakan tokoh utama dalam pengembangan IceCube. Ia telah menjadi principal investigator proyek IceCube sejak 2001.

Sebelum Nobel Fisika 2026, Halzen juga telah menerima sejumlah penghargaan atas kontribusinya dalam fisika partikel dan astrofisika, termasuk Physics World Breakthrough of the Year pada 2013 serta berbagai penghargaan dari komunitas fisika internasional.

Atas Nobel Fisika 2026, Halzen menerima hadiah sebesar 12 juta krona Swedia.

Manfaat Es Antartika untuk Menangkap Neutrino

Penghargaan Nobel Fisika 2026 berawal dari gagasan Halzen untuk memanfaatkan es di Kutub Selatan sebagai media untuk mendeteksi neutrino. Neutrino merupakan partikel subatom yang sangat sulit dideteksi karena hampir tidak berinteraksi dengan materi.

Partikel ini dapat melewati Bumi dan tubuh manusia tanpa disadari. Namun, dalam kondisi yang sangat jarang, neutrino dapat bertabrakan dengan inti atom dan menghasilkan kilatan cahaya yang bisa dideteksi oleh sensor.

Halzen pertama kali mengemukakan gagasan untuk menangkap neutrino di Kutub Selatan pada 1988. Kondisi es di wilayah tersebut memiliki sejumlah keunggulan untuk penelitian karena relatif bebas dari gangguan dan kondisi geologisnya stabil.

Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi IceCube Neutrino Observatory, sebuah observatorium yang memanfaatkan sekitar satu kilometer kubik es di bawah permukaan Kutub Selatan. Ribuan sensor cahaya ditempatkan di dalam es untuk menangkap tanda-tanda interaksi neutrino.

IceCube selesai dibangun pada 2011. Para peneliti kemudian berhasil menemukan neutrino berenergi tinggi dan menunjukkan bahwa sebagian di antaranya berasal dari luar Tata Surya. Penemuan tersebut membuka peluang untuk mempelajari alam semesta melalui neutrino.

Neutrino Jadi 'Pembawa Pesan' dari Alam Semesta

Salah satu alasan neutrino penting dalam penelitian astronomi adalah kemampuannya membawa informasi dari sumber asalnya. Neutrino berenergi sangat tinggi terbentuk dalam lingkungan kosmik dengan energi ekstrem.

Neutrino dapat mencapai Bumi tanpa mengalami perubahan arah atau kehilangan energi dalam perjalanannya. Karakteristik tersebut membuat neutrino dapat memberikan informasi mengenai objek dan proses ekstrem di alam semesta yang sulit diperoleh melalui metode pengamatan lainnya.

Para ilmuwan selama ini mengetahui bahwa alam semesta memiliki akselerator partikel alami yang mampu menghasilkan partikel dengan energi hingga jutaan kali lebih besar dibandingkan kemampuan akselerator yang ada di laboratorium di Bumi. Namun, asal-usul dan proses yang berlangsung di dalam sumber energi tersebut masih menyimpan banyak pertanyaan.

Pengamatan terhadap neutrino berenergi tinggi memberikan salah satu cara untuk mengungkap misteri tersebut.

IceCube Membuka Era Baru Astronomi

Kontribusi Francis Halzen tidak hanya terletak pada gagasan awal mengenai penggunaan es sebagai detektor. Ia juga berperan dalam pengembangan dan kepemimpinan ilmiah yang membuat IceCube dapat beroperasi sebagai observatorium neutrino berskala besar.

Halzen telah memimpin tim internasional yang terdiri dari peneliti dan insinyur untuk menghasilkan instrumen ilmiah yang membuka jalan menuju jenis astronomi baru. Kolaborasi IceCube saat ini melibatkan sekitar 450 ilmuwan dari 58 institusi di 14 negara.

Setelah penemuan neutrino astrofisika pada 2013, para peneliti terus mencari sumber partikel tersebut. Sejumlah bukti kemudian mengarah pada sumber neutrino dari galaksi tertentu, termasuk TXS 0506+056 dan NGC 1068.

Pada 2023, IceCube juga mengumumkan penemuan neutrino yang berasal dari Galaksi Bima Sakti. Temuan-temuan tersebut semakin memperkuat peran neutrino sebagai sarana baru untuk mempelajari alam semesta. (Adinda Kinanthi)
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan