Ekanti Lusi Sulistiowaty alumnus IPB yang menjadi sociopreneur perangkai bunga. Foto:  Dok. IPB
Ekanti Lusi Sulistiowaty alumnus IPB yang menjadi sociopreneur perangkai bunga. Foto: Dok. IPB

Sociopreneur Alumnus IPB, Belasan Tahun Menata Flora di Istana Presiden

Pendidikan Pendidikan Tinggi Perguruan Tinggi IPB
Citra Larasati • 28 Oktober 2020 11:31
Jakarta: Namanya Ekanti Lusi Sulistiowaty atau akrab disapa Lusi Ismail, salah satu perangkai bunga dan interiorscaper di Indonesia. Ia merupakan alumnus Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) University.
 
Pendiri PT. Edelweiss Cantiqa Lestari sejak 2008 ini kini telah beralih dari seorang entrepreneur menjadi sociopreneur. Setelah lulus, Lusi Ismail pernah menjadi penata flora di Istana Presiden selama belasan tahun, tepatnya 2002-2013.
 
Ia juga tergabung dalam organisasi Asosiasi Bunga Indonesia dan Ikatan Perangkai Bunga Indonesia. Menurutnya, menjadi sociopreneur bukanlah merupakan profesi yang diraih dengan instan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejak dahulu Lusi telah memiliki jiwa sosial yang tinggi untuk dapat bermanfaat bagi orang lain. "Pengalaman Saya menjadi entrepreneur, sisi sosial itu sudah dibangun sebenarnya, karena memang dari sejak awal hobi Saya itu adalah berbagi, sampai akhirnya menjadi sociopreneur,” terangnya.
 
Lebih lanjut ia menjelaskan, perbedaan antara entrepreneur dan sociopreneur terletak pada tujuan utama yang dituju. Pasalnya, entrepreneur memiliki identitas untuk meraih keuntungan berbasis materi.
 
Sedangkan sociopreneur akan memiliki tujuan utama sosial yang pada beberapa sisi dapat memberikan keuntungan. "Sociopreneur itu siap untuk tidak dibayar dan siap untuk dibayar berapa saja," ungkapnya.
 
Baca juga:Kisah Sukses Pelajar SMK Pebisnis Warung Angkringan
 
Semasa kuliah, Lusi tidak memiliki minat untuk bekerja di perusahaan. Ia lebih memilih untuk menghasilkan uang dan berkarier dari apa yang ia tekuni.
 
Bermula dari menikmati pengalaman ketika jalan kaki di kampus IPB dengan mengoleksi bunga-bunga di jalanan. Lusi terus menekuni hal tersebut hingga mengantarkannya ke Negeri Sakura dalam sebuah event internasional.
 
Saat itu ia dikirim oleh Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) yang saat ini organisasinya bernama Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN).
 
"Kuncinya itu adalah scan, screen dan implement. Saya menjadi laboratorium untuk diri sendiri. Scan maksudnya adalah kita scan diri kita yaitu muhasabah, sedangkan screen itu penyaringan pada apa yang kita scan, sampai akhirnya nanti tahu apa yang bisa diimplementasikan. Scan, screen maupun implement, semuanya membutuhkan pengetahuan,” tandasnya.
 
Pada masa pandemi covid-19, sektor yang digeluti Lusi menjadi bagian dari sektor yang terdampak. Namun hal ini tidak lantas membuat semangatnya surut, Lusi tetap mampu berkarya dengan menjadi narasumber di berbagai acara untuk berbicara tentang interiorscaper dan budidaya tanaman hias di dalam atau luar ruangan.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif