Prof. I Made Joni, Guru Besar Nanoteknologi pertama di Indonesia
Prof. I Made Joni, Guru Besar Nanoteknologi pertama di Indonesia

Penemu U-CoE Unpad, Perintis Kajian Nanoteknologi di Perguruan Tinggi

Pendidikan Pendidikan Tinggi Guru Besar Unpad Perguruan Tinggi
Citra Larasati • 04 Desember 2020 11:37
Jakarta:  Dari sekian banyak pusat nano teknologi yang dikembangkan di beberapa perguruan tinggi, Universitas Padjadjaran (Unpad) menjadi perguruan tinggi yang pertama kali merintis kajian nanoteknologi.  Khususnya terkait di aspek nanopowder di Indonesia.
 
Kajian nanoteknologi di Unpad pertama kali dirintis oleh I Made Joni, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unpad. Sejak 2003, Made dan tim konsisten merintis penelitian di bidang nanopowder hingga sekarang.
 
Saat itu, ia menilai bahwa nanoteknologi akan bermanfaat tidak hanya pada bidang ilmu Fisika, tetapi bisa digunakan pada bidang ilmu lainnya.  “Kalau sudah jadi powder, ternyata bisa jadi bahan obat, pupuk, pengendali hama. Jadi kemana-mana,” ujar Made dalam keterangannya, Jumat, 4 Desember 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Secara konsisten, Made dan tim mengembangkan kajian nanopowder. Tidak hanya giat melakukan riset, Made juga banyak membangun jejaring kerja sama dengan akademisi maupun industri dari nasional maupun internasional. Berbagai hibah riset dan sumbangan alat pun berhasil didapatkan.
 
Setelah lebih dari 10 tahun membangun riset dan jejaring, kajian nanoteknologi di Unpad kemudian dikuatkan dengan berdirinya Pusat Riset Nanoteknologi dan Graphene (Print-G) pada 2014. Adanya pusat ini mendorong aktivitas riset semakin kuat.
 
Seiring berjalannya waktu, Print-G Unpad berhasil mendapatkan hibah sebagai Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI-PT) dari Kementerian Riset dan Teknologi RI pada 2020. Dengan perolehan hibah tersebut, Print-G berubah nama menjadi PUI-PT Nanopowder Functional atau Finder U-CoE.
 
Pengakuan ini salah satunya didukung dengan sejumlah fasilitas bangunan serta bergabungnya para dosen dari berbagai fakultas di lingkungan Unpad untuk meneliti di bidang nanoteknologi.  Antara lain Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian, Fakultas Teknologi IndustrI Pertanian, dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
 
“Dari bidang itu, terlibat banyak peneliti, jadi kita kan mulai punya produk punya hasil publikasi yang beragam,” kata Made.
 
Made menilai, nanopowder menjadi teknologi yang kini banyak dipakai di berbagai produk. Karena berukuran lebih kecil dari mikro, teknologi ini akan meningkatkan efektivitas dari suatu material.
 
Ia mencontohkan manfaat nanoteknologi pada bahan obat. Mengecilkan materi akan membuat perilakunya lebih efektif. Selain itu, partikel nano pada bahan obat bisa ditambah dengan bahan tertentu sehingga partikel bisa tepat sasaran dan mengobati penyakit.
 
“Dosisnya otomatis akan berkurang, tetapi reaksinya lebih cepat dan unsur aktifnya akan keluar,” kata Made.
 
Uniknya, nanoteknologi tidak hanya digunakan untuk produk fisika saja. Melalui Finder U-CoE Unpad, nanoteknologi sudah dikembangkan untuk menunjang produk-produk di bidang lainnya, seperti kedokteran gigi, pertanian, hingga perikanan.
 
Di antara pusat nanoteknologi yang ada di Indonesia, pusat nanoteknologi di Unpad dinilai memiliki kekhasan tersendiri. Menurut Made, pusat nano di Unpad lebih aplikatif dengan kebutuhan pasar.
 
Kekhasan ini ditunjang dengan beragamnya bidang ilmu yang ikut serta dalam pusat riset tersebut, sehingga hasil penelitiannya pun lebih aplikatif dan punya jangkauan lebih luas. Selain itu, Made dan tim juga mencoba mengisi kekosongan antara keberlimpahan sumber daya alam dan kebutuhan industri.
 
“Ibaratnya kita bawa kopi mentah ke resto, mana bisa langsung diterima. Harus diolah dulu. Nah, di sini kita main, kita improve sumber daya dengan teknologi nano agar matched dengan teknologi sekarang,” kata Made.
 
Tentunya, perjuangan untuk mengisi kekosongan ini tidaklah mudah. Butuh waktu lama bagi Made dan tim untuk mengembangkan nanoteknologi hingga akhirnya berhasil menjadi PUI PT dari Kemenristek.  Atas konsistensinya ini, Made pun berhasil meraih jabatan Guru Besar pada bidang Nanoteknologi. Ia menjadi Guru Besar Nanoteknologi pertama di Indonesia.
 
Menurut Made, aktivitas di Finder U-CoE sudah mapan. Tahun ini saja, pusat riset ini sudah menghasilkan 30 publikasi ilmiah, melampaui target publikasi yang ditetapkan untuk PUI-PT. Selain itu, pusat riset ini juga terbiasa bekerja sama dengan berbagai pihak, baik di nasional maupun internasional.
 
Dari hasil kerja sama ini, Finder CoE berhasil mendapatkan sejumlah alat untuk mendukung penelitian nanoteknologi. Kelengkapan alat ini menjadikan Finder CoE kerap menjadi rujukan untuk melakukan studi.
 
“Kita sudah punya branding di nasional. Bahkan kalau ada evaluasi kebijakan pusat mengenai nano, pasti yang dicari kita sebagai tim evaluasi kebijakan,” kata Made.
 
Dengan potensi dan produktivitas ini, Prof. Made optimistis bahwa Indonesia belum terlambat dalam menguasai nanoteknologi. Apalagi didukung dengan komitmen Finder CoE Unpad untuk menjembatani kebutuhan industri terkait penggunaan nanoteknologi untuk mengolah sumber daya alam.
 
Referensi Industri
 
Finder U-CoE Unpad sudah banyak menjalin kerja sama dengan pihak industri. Ada beragam benefit yang didapat, salah satunya adalah mendapatkan alat-alat riset yang mumpuni.
 
Made menjelaskan, banyak industri yang datang ke kantornya berdasarkan kebutuhan untuk menciptakan solusi dari permasalahan saat menjalankan bisnisnya. Selain itu, jejaring dengan alumni juga menjadikan kerja sama dengan industri banyak dilakukan.
 
“Dari satu proyek, bisa melebar ke proyek-proyek lainnya,” tuturnya.
 
Tidak hanya industri nasional, Finder U-CoE juga dipercaya untuk mengerjakan proyek dari industri asing. Salah satu contohnya adalah kerja sama pengembangan baterai untuk keperluan motor dan mobil listrik bersama perusahaan asal Korea Selatan. Uniknya, riset ini dilakukan untuk menyiapkan baterai dalam jangka waktu 20 tahun ke depan.
 
Dari kerja sama dengan industri pula, Finder U-CoE memperoleh alat-alat pendukung untuk aktivitas laboratorium. Lengkapnya peralatan yang dimiliki mendorong pusat riset ini menjadi rujukan penelitian bagi akademisi di luar Unpad.
 
Selain pengembangan baterai, Finder U-CoE juga tengah mengembangkan penjernih air limbah dengan menggunakan gelembung nano kerja sama dengan perusahaan tekstil, serta pengembangan plastik ramah lingkungan untuk produk komersial cokelat di Bali. Bersama akademisi Fakultas Peternakan Unpad, Finder U-CoE juga mengembangkan desa binaan di Desa Bojong, Kabupaten Bandung.
 
Pada bidang penanganan Covid-19, Prof. Made dan tim berhasil mengembangkan inovasi nano magnet yang efektif digunakan untuk meningkatkan sensitivitas proses ekstraksi RNA pada pengujian PCR Covid-19. Inovasi bernama “NanoMag PrintG” ini bisa menjadi alternatif pengganti magnetik beads komersial, sehingga tidak perlu impor dan harganya bisa jauh lebih murah.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif