Mateus Brotosugondo,, Kepala SD Negeri II Kenteng, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul secara sukarela menjemput siswa, untuk memastikan siswa bersekolah, Medcom.id/Ahmad Mustaqim.
Mateus Brotosugondo,, Kepala SD Negeri II Kenteng, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul secara sukarela menjemput siswa, untuk memastikan siswa bersekolah, Medcom.id/Ahmad Mustaqim.

Guru di Gunungkidul yang Rela Antar Jemput Siswa

Pendidikan pendidikan
Ahmad Mustaqim • 10 Desember 2018 07:16
Gunungkidul: Mateus Brotosugondo, warga Tawarsari RT 12/RW 19, Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memacu sepeda motornya sejak pukul 06.00 WIB. Kepala SD Negeri II Kenteng, Kecamatan Ponjong ini tak langsung ke sekolah, melainkan menjemput sejumlah muridnya dulu di Dusun Prampelan, Desa Kenteng, Kecamatan Ponjong. 

Lelaki berusia 55 tahun ini harus menempuh perjalanan sekitar setengah jam, dengan kecepatan 60 km/jam untuk menempuh jarak 25 kilometer. Setiap pagi, rute itu dilaluinya untuk menjemput para siswa.

"Tiap hari sekolah enggak boleh telat. Ya biar siswanya sampai sekolah bisa ikut belajar," kata Sugondo saat dijumpai di Gunungkidul, Sabtu, 8 Desember 2018. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Rute perjalanan Sugondo tak semua bagus. Memasuki perkampungan, ia melintasi jalanan yang sebatas dicor dengan material batu dan semen. Beberapa titik jalan terdapat tanjakan, tikungan, hingga jalanan berlubang.  Sesampai di sana, sejumlah murid sudah siap dengan pakaian seragam sekolah, berikut tas berisi alat tulis. Mereka menunggu di dekat pos ronda kampung setempat. "Sugeng enjang (selamat pagi), pak," ucap para siswa yang hangat menyapa setiap kali Sugondo menjemput.

Setelah menyapa, para siswa kemudian bersalaman dan mencium tangan guru tersebut. Sugondo kemudian menanyakan siapa yang belum datang.  Menunggu beberapa saat, Sugondo membawa dua hingga tiga bocah itu menuju sekolah. 

"Kadang kalau hujan jalanan agak licin. Kudu hati-hati biar enggak jatuh di jalanan," akunya. 

Sebanyak 25 anak di SD itu harus diantar jemput. Selain di lokasi Sugondo tadi, lokasi penjemputan di Dusun Cerme, Desa Kenteng. Penjemputan siswa di Dusun Cerme, kata Sugondo, biasanya dilakukan guru perempuan. 

Sugondo mengatakan bantuan guru menjemput siswa dilakukan secara sosial. Siswa maupun orangtua tak dipungut biaya. Kegiatan itu telah dilakukan sekitar tiga tahun terakhir. "Sebisanya kita ingin memberikan manfaat bagi orang lain," ujarnya. 

Baca: Kisah Dua Relawan Pendidikan Pascabencana

Di sela perjalanan, Sugondo senantiasa melakukan percakapan dengan siswanya. Ia memantau sejauh mana siswanya belajar di rumah dan juga di sekolah. 

Sugondo berharap para siswanya di sekolah yang berdekatan dengan perbatasan Jawa Tengah ini bisa berprestasi. "Ada sembilan guru di sekolah kami, empat di antaranya GTT (Guru Tidak Tetap). Dengan keterbatasan akses, termasuk jaringan telekomunikasi, saya berharap siswa dan sekolah ini bisa berprestasi ke depan," kata di. 

Seorang siswa kelas VI SD Negeri II Kenteng, Akhirul Firza, mengatakan, sudah ikut antar-jemput gurunya beberapa tahun lalu. Ia memperkirakan, ada siswa di setiap kelasnya yang ikut seperti dirinya. "Tiap kelas ada, tapi cuma beberapa," ujarnya. 


(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi