Alumnus Harvard University, Nadhira Nuraini Afifa. Foto: Instagram Medcom.id
Alumnus Harvard University, Nadhira Nuraini Afifa. Foto: Instagram Medcom.id

Ditantang Warganet Jadi 'Next' Menkes RI, Begini Jawaban Nadhira

Pendidikan Pendidikan Tinggi Profil Pendidikan
Ilham Pratama Putra • 01 Desember 2020 19:35
Jakarta: Master of Public Health alumnus Harvard University, Nadhira Nuraini Afifa menjawab tantangan warganet yang kerap mengharapkan dirinya menjadi Menteri Kesehatan Republik Indonesia di masa depan. Meski tak mau menyeriusi harapan warganet yang kerap dilontarkan di akun media sosialnya, namun Nadhira sudah memiliki pandangan soal program-program kesehatan yang dibutuhkan di Indonesia.
 
"Aku selalu percaya power dari kader. Jadi itu community health workers, mereka itu perannya besar banget untuk door to door periksa diabetes, mengatasi stunting dengan Posyandu dan sebagainya" ujar Nadhira dalam program Ngobrol Asyik "Ngobras" di siaran langsung Instagram @medcomid, Selasa 1 Desember 2020.
 
Menurutnya, Indonesia membutuhkan banyak kader kesehatan di masa mendatang. Seiring dengan visi Indonesia menjadi negara maju.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau aku sih melihatnya pattern-nya negara kita penyakitnya makin lama kelamaan makin yang non-commodity disease. Negara maju pasti ke arah sana makin ke penyakit-penyakit seperti obesitas dan lain-lain. Jadi di sana peran kader kesehatan sangat penting," terang dia.
 
Program itu akan menjadi unggulan jika dia suatu hari nanti diajak bergabung ke dalam pemerintahan. Serupa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim yang miliki program Guru Penggerak, Nadhira juga akan menempatkan gerakan berbasis masyarakat menjadi hal penting yang ke depan harus dikembangkan.
 
"Aku akan coba revitalisasi kader. Kayak gimana caranya mereka dikasih kompensasi yang bagus secara uang, juga secara job jelas, training-nya lebih jelas dan akhirnya bisa membantu tenaga medis kita di indonesia yang kurang. (Gerakan jadi penting) secara kita penduduknya banyak banget ya," terangnya.
 
Baca juga:  Dosen IPB Ajarkan Petani Kopi Budidaya Lebah Tanpa Sengat
 
Nadhira yang berencana ingin mengambil spesialis dokter anak itu mengaku tak akan menolak jika ada tawaran untuk bergabung ke pemerintahan suatu hari nanti, entah apapun posisinya.  Bahkan jika amanah itu datang dalam waktu dekat pun dia mengaku siap.
 
"Kalau mau apa enggak (bergabung ke pemerintahan) ya mau banget. karena itu dari dulu mimpinya. Tapi kalau bisa lebih cepet ya mau banget masuk di kebijakan publik gitu," ungkapnya.
 
Namun menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana dia membangun mental sebagai seorang abdi negara. Dia merasa menjadi pejabat publik harus memiliki mental yang kuat.
 
"Kalau secara mental belum mature, bisa-bisa justru berubah karakter nih. Bisa berubah jadi orang yang money oriented atau orang yang korupsi. Jadi maturity-nya dulu yang harus dibenerin dulu sebelum masuk ke pemerintahan," tutupnya.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif