Muhammad Hijriyatul Ihcsan yang memiliki keterbatasan fisik atau tuna daksa mengikuti ujian tulis berbasis komputer (UTBK) di Universitas Jember (Unej). Foto: Antara/Humas Unej.
Muhammad Hijriyatul Ihcsan yang memiliki keterbatasan fisik atau tuna daksa mengikuti ujian tulis berbasis komputer (UTBK) di Universitas Jember (Unej). Foto: Antara/Humas Unej.

Terinspirasi Stephen Hawking, Peserta UTBK Difabel Bertekad Jadi Ilmuwan

Pendidikan UTBK SNMPTN/SBMPTN 2020
Antara • 28 Juli 2020 08:05
Jember: Muhammad Hijriyatul Ihcsan, penuh semangat mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Jember (Unej). Peserta berkebutuhan khusus atau difabel itu bercita-cita ingin menjadi ilmuwan seperti Stephen Hawking.
 
"Stephen Hawking salah satu tokoh yang telah menginspirasi saya. Walaupun dia seorang disabilitas, namun memiliki pemikiran yang sangat cemerlang," katan Ichsan di Jember, Senin, 27 Juli 2020.
 
Keterbatasan gerak tubuh yang dimlikinya tidak menyurutkan langkah Ichsan ikut serta dalam UTBK, bersaing dengan peserta lainnya di Kampus Unej. Walaupun sebagai seorang penyandang disabilitas daksa, alumni SMA 1 Pakusari, Jember itu mengaku tidak menyurutkan tekadnya untuk menjadi seorang ilmuwan di bidang teknologi informasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ichsan telah mempersiapkan diri jauh hari untuk mengikuti UTBK 2020. Persiapan bahkan dilakukan sejak awal masuk Kelas XII di SMA 1 Pakusari dan selama duduk di bangku Kelas XII selalu rajin belajar mengasah kemampuan dengan latihan soal.
 
"Beruntung teman-teman saya baik-baik dan dengan suka rela membantu semua kesulitan yang saya hadapi di sekolah, termasuk dalam hal belajar," ungkapnya.
 
Atas segala persiapan yang telah dilakukan, Ihcsan berharap dapat lolos dalam proses Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2020 di Program Studi (Prodi) informatika Unej sebagai pilihan pertama. Ia ingin bisa menciptakan aplikasi atau alat yang memudahkan para difabel beraktivitas.
 
Baca:UTBK Berakhir, 600 Peserta di ITS Dinyatakan Gugur SBMPTN
 
"Saya sangat menyenangi dunia komputer dan ingin sekali menguasai bahasa pemprograman, karena saya pikir dengan kecerdasan buatan, penyandang difabel akan terbantu dan mudah-mudahan dapat mengurangi ketergantungan kami (difabel) pada orang lain," tuturnya.
 
Museifah, orang tua Ihcsan, mengaku bangga pada anak semata wayangnya. Sebagai orang tua tunggal, ia selalu menemani aktivitas anaknya dan mendukung cita-citanya untuk menjadi seorang ilmuwan.
 
"Saya selalu memberikan motivasi padanya agar dia tetap bersemangat untuk meraih impian yang telah dia cita-citakan. Saya selalu mengingatkan agar jangan pernah merasa malu dengan kondisi tubuhnya dan jangan sampai kalah pada yang lain," kata Museifah.
 
Museifah harus membagi waktu bersama Ihcsan dan waktu untuk mencari nafkah dengan menjadi tukang jahit karena ingin mengantarkan anaknya menjadi orang yang sukses.
 
"Pagi dia saya antar ke sekolah dan saya titipkan ke teman-temannya kemudian saya melanjutkan aktivitas bekerja untuk biaya pendidikan Ihcsan. Mudah-mudahan dia bisa masuk di Unej supaya apa yang dia cita-citakan bisa tercapai," cerita Museifah.
 

(AGA)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif