Fitri Andriani (kanan) dan Amalia Rahmadini (kiri), ibu dan anak yang wisuda bersamaan di Unair. Foto: Unair/Dok.Humas
Fitri Andriani (kanan) dan Amalia Rahmadini (kiri), ibu dan anak yang wisuda bersamaan di Unair. Foto: Unair/Dok.Humas

Kompak, Ibu dan Anak Wisuda Bareng di Unair

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 18 September 2019 07:07
Jakarta: Fitri Andriani dan Amalia Rahmadini menjadi dua sosok yang mencuri perhatian pada Wisuda Universitas Airlangga (Unair) periode September 2019. Keduanya merupakan ibu dan anak yang lulus pada hari dan dari jurusan yang sama, psikologi, namun di jenjang yang berbeda.
 
Fitri Andriani adalah ibu dari Amalia Rahmadini atau yang akrab disapa Amel, lulus dari jenjang pendidikan S3 Psikologi Pendidikan Unair. Sementara Amel, sang anak, lulus dari jenjang pendidikan S1 dengan konsentrasi studi yang sama seperti ibunya, yaitu Psikologi Pendidikan dan Perkembangan.
 
Fitri mengungkapkan, pada awalnya tidak ada niatan untuk lulus bersama-sama dengan anaknya. Namun ketika anaknya mulai mengambil skripsi, setahun belakangan. Ia memotivasi anaknya dengan mengajak untuk lulus bersama.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mendapat motivasi dari ibunda, Amel mengaku terlecut semangatnya. Padahal sebelumnya ia sempat merasa enggan dan malas-malasan untuk mengerjakan skripsinya.
 
Untuk skripsinya sendiri ia mengambil penelitian membuat norma dari alat tes DAT (Differential Aptitude Test).
 
“Tapi setelah lihat Ibu yang rajin mengerjakan tugas akhir juga, aku ikut termotivasi,” kata Amel dikutip dari siaran pers, di Jakarta, Rabu, 18 September 2019.
 
Wisuda bersama sang ibu, kata Amel merupakan kelulusan yang istimewa. Jika biasanya perayaan kelulusan dilakukan bersama dengan adik atau kakak atau sahabat dekat maupun teman satu angkatan, tetapi ia bisa melaksanakannya bersama dengan orang tua, yang usianya terpaut cukup jauh.
 
Ia pun juga sempat merasa kikuk atau salah tingkah ketika penyerahan ikatan alumni yang juga diserahkan langsung oleh ibunya. Padahal biasanya diserahkan oleh dosen wali, namun saat itu dosen walinya tidak datang.
 
Amel yang berencana akan melanjutkan pendidikan S2 jurusan Psikometri ini juga membagikan ceritanya tentang kenapa ia tertarik mengambil jurusan Psikologi Pendidikan dan Perkembangan. Amel mengatakan, bahwa mempelajari ilmu psikologi adalah keinginannya sejak SMP.
 
Saat itu guru Bimbingan Konselingnya memiliki cara mengajar yang jitu, yakni mengajarnya dengan santai sehingga ia sangat menikmati.
 
“Salah satu metode mengajarnya itu pakai mainan. Jadi dari situ aku ingin ambil Psikologi. Kalau orang tua sih membebaskan aku mau jadi apa,” jelas Amel.
 
Ketika masuk kuliah tutur Amel, ia mengalami tantangan yang cukup unik. Sebab, Fitri Andrian sang ibu langsung menjadi dosennya.
 
Ia pun sempat menyembunyikan identitas diri sebagai anak dosen. Hampir empat semester ia menyembunyikan identitasnya.
 
“Awal masuk mata kuliah pengukuran psikologi, hampir banyak yang tahu. Ada yang bilang aku mirip sama salah satu dosen. Aku saat itu menahan ketawa dan pura-pura jawab mungkin itu kakak aku,” tuturnya.
 
Namun ketika mulai banyak yang tahu, ia merasa menjadi pusat perhatian, sehingga terkadang merasa canggung saat akan menyapa ibunya sendiri.
 
Fitri merupakan dosen pengajar di bidang Psikometri Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Kemudian Fitri mengambil pendidikan S3 Psikologi Pendidikan.
 
Ia pun mendapat keringanan untuk tidak mengajar selama satu sampai dua semester terakhir supaya fokus untuk menyelesaikan disertasi.
 
Untuk jurusan yang diambil anaknya, Fitri mengungkapkan tidak menjadi soal dan ia tidak menuntut apa-apa.
 
“Prinsipnya seperti layang-layang, dibiarkan bebas ke udara, tapi tetap ada tali yang kita pegang. Kalau tali itu lepas, ya tidak terarah. Jadi saya tidak memaksa pilihan anak saya untuk ke depannya,” jelasnya.
 
Ia juga menuturkan, jika tidak ada batas usia dan waktu untuk belajar. Kalau dulu orang tua mengajari anak, namun sekarang orang tua dan anak bisa belajar bersama.
 
Menurutnya, mahasiswa tidak perlu tergesa-gesa untuk lulus, namun jangan terlalu lambat. Proses belajar itu harus dinikmati supaya ada kesan dan membuat individu selalu memandang proses belajar sebagai hal positif.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif