Menteri Agama, Nasaruddin Umar mengatakan, pemberdayaan perempuan yang telah dicapai saat ini masih belum cukup. Menag menyebut laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai khalifah di muka bumi atau sama-sama hamba Allah SWT, sehingga agama harus menjadi faktor penguatan martabat perempuan.
“Pada kesempatan sangat penting ini, saya ingin mengimbau kepada kita semua, mari kita memperbaiki penafsiran-penafsiran Al-Qur’an yang bias gender. Mari kita memahami kembali redaksi yang dipahami melalui teks-teks hadits. Kita sangat yakin bahwa Allah SWT sama dengan Rasullulah tidak membedakan laki-laki dan perempuan,” kata Nasaruddin dalam Webinar Internasional untuk memperingati 'Hari Perempuan Internasional' yang diadakan Institut Leimena dan Masjid Istiqlal, dikutip Sabtu, 8 Maret 2025.
Nasaruddin yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal ini mengatakan, laki-laki dan perempuan mempunyai hak untuk aktif menjadi pemimpin baik dalam rumah tangga bahkan pemimpin publik atau negara. Dia menyebut banyak ayat Al-Qur’an menunjukkan kepemimpinan seorang perempuan, misalnya Ratu Balqis sebagai penguasa Kerajaan Saba yang kepemimpinannya meraih predikat yakni negerinya menjadi indah di bawah ampunan Tuhan.
| Baca juga: Beasiswa Basic Course Coding dan UI/UX Buka Jalan Perempuan ke Dunia Teknologi |
Nasaruddin menambahkan, kepemimpinan perempuan juga ditunjukkan oleh Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW, yang merupakan bangsawan, menjadi kepala rumah tangga saat mereka berada di Mekah. Dalam salah satu ayat lainnya, laki-laki disebut sebagai pelindung bagi perempuan (QS An-Nisa ayat 34).
“Berhentilah mendeskriditkan perempuan atas nama agama. Saatnya sekarang kita berusaha mencari cara bagaimana mendayagunakan perempuan sebagai salah satu kekuatan bangsa, terutama untuk Indonesia,” katanya.