Ilmuwan diaspora muda, Hutomo Suryo Wasisto. Foto: YouTube
Ilmuwan diaspora muda, Hutomo Suryo Wasisto. Foto: YouTube

Diaspora: Kita Harus Bisa Buat Sendiri, Jangan Jadi Bangsa Pembeli

Pendidikan Sumpah Pemuda Profil Pendidikan
Citra Larasati • 28 Oktober 2020 15:29
Jakarta: Ilmuwan diaspora muda, Hutomo Suryo Wasisto memaknai peringatan Sumpah Pemuda dalam tiga kata, yakni optimistis, semangat, dan kerja nyata. Hal itu pula yang selama ini dipegangnya saat menjadi peneliti sekaligus akademisi yang berkarier di Jerman, selalu optimistis, semangat, dan melakukan kerja nyata untuk bangsa dan tanah kelahirannya, Indonesia.
 
Research Group Leader di Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA) and Institute of Semiconductor Technology (IHT), Technische Universität Braunschweig, Jerman ini mengaku, tujuan pertama ia memilih kuliah di Jerman awalnya hanya ingin mendapat gelar yang sama dengan sosok idolanya, Presiden Ketiga Indonesia, B.J Habibie, yakniDoktor-Ingenieur (Dr.-Ing.).
 
"GelarDoktor-Ingenieur (Dr.-Ing.)kayak almarhum Bapak Habibie. Tapi ternyata Saya dikasih rejeki untukstaydi sini. Dapatpermanent residency for high qualified person dari Pemerintah Jerman,memimpin grup riset, dan ingin berkontribusi lebih banyak lagi untuk Indonesia dari sini," kata pria yang akrab disapa Ito ini dalam Webinar: Pemuda Maju, Memajukan Indonesia yang digelar secara daring untuk memperingati hari Sumpah Pemuda, Rabu, 28 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Ito, sebenarnya bukan persoalan di manapun seseorang memilih tinggal. Baik di Indonesia maupun di luar negeri, baginya yang terpenting adalah seberapa besar kontribusi yang dapat ia lakukan dengan pilihannya tersebut bagi Tanah Air.
 
Dengan tinggal dan berkarier di Jerman, menurut Ito, ia justru bisa berbuat lebih banyak bagi Indonesia. Salah satunya menjadi jangkar dan pembuka jalan bagi teman-teman di Indonesia yang ingin ke Negeri Panser tersebut.
 
"Misalnya ada penelitian di Indonesia yang kebetulan tidak ada fasilitasnya di Indonesia, Saya bisa bantu menjembatani," terangnya.
 
Terbukti dengan sejumlah kerja sama yang sudah ia jalin dengan banyak peneliti dan perguruan tinggi di Indonesia melaluiInitiator and Chief Operating Officer (COO) Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies (IG-Nano),Technische Universität Braunschweig, Braunschweig, Germany.
 
Semuanya tetap dapat terlaksana meskipun ia berada di luar negeri. "Ada beberapaPh.D. (Doctor of Philosophy) studentyang sedang menempuh Ph.D di Jerman, kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi dan profesor dari Indonesia itu agar bisa membuka fasilitas riset yang berhubungan dengan bidang yang Saya geluti, yakni nano-nanoan (nanoteknologi), seperti bikin nanodevices," ujar ilmuwan diaspora kelahiran Yogyakarta ini.
 
Sejumlah riset yang berhubungan dengan nanoteknologi di Tanah Air memang terus ia genjot dari Jerman. Sebab menurutnya, ke depan Indonesia harus dapat membuat sendiri teknologi-teknologi yang selama ini banyak dikuasi peneliti-peneliti 'barat', seperti nanoteknologi.
 
"Saya itu tipe orang yang berpendapat kita harus bisa bikin sendiri. Sains harus dikembangkan di Indonesia, jangan mau hanya jadi bangsa pembeli, tapi pembuat," tegas Ito.
 
Optimisme itu selalu ia kobarkan di dalam dirinya, sebab meskipun cita-cita tersebut terlihat muluk, namun Ito meyakini itu bisa dicapai. "Meski memang enggak gampang danstep-step-nya banyak sekali, tapi yakin bisa. Ekosistemnya mesti dibangun," tandas alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.
 
Ito sendiri mengaku banyak terinspirasi dari sejumlah diasporadi Taiwan dan india. Ia menceritakan, bahwa ada salah satu profesor yang ia kagumi dari kedua negara tersebut yang memiliki grup riset dan memiliki anggota dari Tiongkok.
 
Grup riset tersebut sangat produktif, tidak hanya menghasilkan paper, namun dengan menghasilkan produknya sekaligus. "Setiap bulan mereka keluar paper dan keluar produk," terangnya.
 
Baca juga:Jadi Ilmuwan di Jerman, Terima Kasih Pernah 'Ditolak' Kedokteran UGM
 
Saat ini, Ito sudah memilikistartupdi indonesia bernama PT Nanosense Instrument Indonesia yang Terlibat dalam konsorsium industri strategis untuk produk GeNose UGM (alat deteksi covid-19 dengan menggunakan embusan napas). "Kita terlibat di sana dengan para peneliti UGM. Itu kami ingin menunjukkan, memang tidak gampang dari riset hingga bisa sampai ke produk. Itu panjang prosesnya, tapi sangat mungkin," tegasnya lagi.
 
Webinar: Pemuda Maju, Memajukan Indonesia yang menghadirkan narasumber seperti CEO Media Group, Mirdal Akib dan Komisioner KPI Pusat, Yuliandre Darwis ini dapat disaksikan melalui kanal YouTube Klikcoaching Indonesia. Acara ini digelar dalam rangka hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober.
 
Klikcoaching merupakan platform edukasi dan training yang didirikan Budy Sugandi lima tahun lalu. Platform ini bertujuan untuk menjadi wadah pelatihan, link and matchantara pencari kerja dan pemberi kerja.
 
Tidak hanya webinar, Klikcoaching Indonesia juga mengadakan lomba menulis opini dan membuat video kreatif dengan total peserta lebih dari 180 orang yang akan memperebutkan total hadiah Rp10 juta.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif