Siswa asal Pekanbaru ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih tiket kuliah gratis di kampus bergengsi sekelas UGM. Kehidupan Fathan jauh dari kata santai. Saat remaja seusianya masih terlelap, ia sudah harus bangun dini hari.
Rutinitas paginya bukan sekadar menyiapkan buku pelajaran, melainkan membantu mengantarkan sang ibu beserta barang dagangan menuju kantin SMA Negeri 8 Pekanbaru. Kantin tersebut bukan hanya tempat ibunya mencari nafkah, tetapi juga sekolah tempat Fathan menuntut ilmu.
Sejak kepergian sang ayah, ibunya, Rida Rahayu, harus mengambil peran ganda sebagai tulang punggung keluarga. Meski dihadapkan pada realitas hidup yang pas-pasan, Rida menjadikan pendidikan sebagai garis perjuangan utama yang tak bisa ditawar bagi anak-anaknya.
“Sejak SMA, saya sudah memiliki keinginan kuat untuk masuk kuliah. Saya suka belajar dan bertemu dengan orang-orang untuk memperluas pengetahuan. Ibu saya juga selalu mendukung dalam hal apa pun, meskipun tidak sesuai atau Ibu pengennya berbeda, tetap mendukung saya dan percaya apa pun pilihannya,” ujar Fathan, dikutip dari laman UGM, Rabu, 1 Juli 2026.
Perjalanan Fathan menembus kampus impian tidak dibangun dalam semalam. Persiapan strategis sudah ia rancang sejak hari pertama menginjakkan kaki di bangku SMA.
Menyadari sekolahnya menggunakan sistem penilaian prestasi akademik yang ketat dari semester satu hingga lima, Fathan menjaga konsistensi nilainya dengan disiplin. Fokus utamanya tertuju pada mata pelajaran ekonomi, sebuah langkah taktis untuk memuluskan jalannya menuju Program Studi Akuntansi UGM.
Iklim sekolah yang kompetitif juga mendorong Fathan untuk aktif unjuk gigi. Ia sukses menorehkan prestasi gemilang, salah satunya menyabet Juara II tingkat Sumatera dalam ajang Cerdas Cermat yang diselenggarakan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) RI.
Dedikasinya di bidang akademik ini juga membuahkan Beasiswa 4698 dari ikatan alumni SMAN 8 Pekanbaru untuk menyokong biaya pendidikannya di kelas XII. Meski rekam jejaknya tampak cemerlang, jalan Fathan tak melulu mulus. Ia mengaku sempat terpuruk akibat rentetan kegagalan di berbagai kompetisi. Namun, mental juangnya menolak kalah.
Alih-alih mundur, rentetan kekalahan itu ia jadikan bahan bakar untuk terus menjajal berbagai ajang, baik di level akademik maupun nonakademik.
“Awalnya sedih harus menghadapi banyak kekalahan. Tetapi, ini membuat saya untuk terus tetap berani mencoba banyak lomba-lomba lainnya dari akademik hingga non akademik. Prinsip yang selalu saya pegang adalah bahwa setiap kegagalan bukan berarti akhir dari perjalanan, melainkan tanda bahwa Tuhan sedang menyiapkan jalan yang lebih baik,” ungkapnya.
Di balik mental bajanya, ada sistem pendukung yang tak ternilai harganya. Sang ibu terus menanamkan keyakinan bahwa tidak ada mimpi yang kedaluwarsa selama ada niat untuk mengejar. Di saat yang sama, sosok kakak perempuannya hadir sebagai tameng yang memberikan dukungan finansial sekaligus moral sepanjang masa sekolahnya.
Kini, perjuangan panjang itu terbayar lunas. Fathan siap melangkah menyusuri lorong Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM sebagai mahasiswa baru. “Kalau mimpi kita jauh, kita akan terus mencari cara untuk menuju ke sana. Tidak ada yang mustahil untuk dicapai karena yang memimpikannya adalah kita sendiri,” pungkasnya.
Baca Juga :
Modal 5 Ekor Domba di SMA, Alumni UGM Mila Arlinda Raup Ratusan Juta dari Peternakan Modern
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda